Harapan Cinta untuk Anak Bangsa

Dikirim GAMPOENG pada Juni 13, 2009 oleh Zulfikar Akbar

Harapan III_jpgAda kerinduan cukup kuat untuk kembali menulis. Tetapi akhir-akhir ini oleh beberapa kondisi, sepertinya alam lebih menyarankan padaku untuk diam. Melihat, mendengar dan menyimak lebih dalam. Berharap, usai itu aku bisa menulis hal-hal yang lebih berisi, tidak sekedar permainan kata-kata.

Sekian banyak potret berkelebat dikepalaku.

Nyaris aku dibuat bingung oleh kelebatan tersebut. Bayangan diskusi dengan teman-temen dekat. Beberapa kegagalan yang kembali singgah dalam hidup sampai dengan persoalan berita yang kulihat di TV, tentang TKW yang masih sering dizalimi di negeri orang dengan peran setengah arti dari pemerintah negara yang masih pongah berteriak: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pesawat jatuh, kebakaran, tindak kriminal, kelangkaan kejujuran, penindasan hingga perang.

Ah ternyata hal-hal miris lebih betah singgah diruang-ruang memoriku. Timbul sedikit kecemasan, jangan-jangan sekian banyak potret buram yang ditunjukkan alam hanya menjadi sinyal bahwa itu akan juga terjadi padaku. Terlempar lebih jauh pikiranku pada teori-teori tentang sub-concious mind, yang katanya menjadi mesin otomatis menggerakkan manusia pada sebuah kondisi yang disebut taqdir.

Pelan kucoba untuk tidak terlalu memperkosa pikiran dengan membayangkan hal-hal memilukan, kutujukan ia pada kemungkinan-kemungkinan positif, bayangan-bayangan yang lebih indah dan lebih bisa untuk dinikmati walau masih dalam imajinasi. Berharap, potret yang lebih baik yang telah ‘rela’ singgah —entah diruang lain– kepalaku kelak menjadi nyata. Lebih banyak senyum yang bisa kulihat disekeliling, lebih banyak gairah mencuat dari binar mata dalam melihat harapan, bahwa semua luka akan sembuh, akan ada kesembuhan setiap usai sebuah sakit mendera. Kecuali memang kematian sudah begitu merindukan kita.

Harapan, andai saja Tuhan memberi kewenangan dan kekuasaan padaku, inginku harapan itu bisa kusiram pada banyak hati yang telah semakin pesimis atas banyak mimpi. Sebuah harapan yang tidak hanya terpenjara dalam ruang imaji tapi dengan gagah berani memeluk realita. Iya realita indah. Keindahan seperti yang dirasakan oleh remaja yang pertama sekali mulai merasa jatuh cinta

Meulaboh, 14 Juni 2009

Berpikir bagaimana Cara Berpikir

Dikirim KONTEMPLASI pada Maret 16, 2009 oleh Zulfikar Akbar

dia-dan-matahariSering terlihat wajah-wajah berkernyit, jidat yang mengerut. Terkadang mereka untuk tersenyum pun sepertinya sulit. Dan tidak terasa justru kita dan saya juga sering menjadi aktor dari dagelan yang berjudul: Kernyit dan Kerut di Pesta Jidat. Sebuah dagelan yang dari judul saja sudah tidak mampu menggugah selera, apalagi dipaksa harus dinikmati.

Berbicara cara berpikir, sah saja kita katakan kening mengerut sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Namun, sepertinya tidak ‘halal’ kalau hal tersebut dipandang sebagai cara paling cerdas untuk menunjukkan “saya berpikir!” Terus? Entahlah saya juga bingung harus lanjutkan tema ini dengan apa lagi. Barangkali saya hanya ingin protes pada diri sendiri yang tidak bisa tersenyum saat sedang memikirkan sesuatu. Saya merasa belum cerdas jika untuk berpikir saja masih sulit untuk mengelola hal-hal lain pada tubuh saya saat sedang berpikir.

Selanjutnya, ada kecenderungan untuk marah dan marah saat sedang berpikir dan tidak kunjung bertemu dengan jawaban. Nah disini saya merasa lebih bijak untuk memarahi diri sendiri, kok bisa menikmati ketololan seperti itu?—maaf bahasa saya tidak halus kalau berbicara untuk diri sendiri—.

Sampai kemudian, saya memilih menyepi dan tidak mempedulikan apa-apa. Saya larut dengan pikiran sendiri. Untuk bicara saja saya berubah enggan. Dan ternyata memang sikap seperti iniyang sering saya lakukan, hingga tidak sedikit janji yang kemudian secara sengaja terlupakan, dan saya menjadi munafik karena telah menjadi figur seperti itu atas pilihan sendiri. Saya tidak hanya berdosa pada Tuhan saja, tetapi juga berdosa pada teman, sahabat, saudara dan semua yang pernah berinteraksi dengan saya. Oleh pengingkaran seperti itu, ternyata saya telah memilih untuk menjadi figur antagonis ditengah panggung drama hidup keseharian yang saya jalani.

Ah, ternyata proses terjadinya sebuah dosa terjadi secara sangat sistematis. Dosa sistematis? Tidak saya tidak akan membahas itu. Hanya yang terangsang bagi saya untuk membahas adalah apakah saya juga telah berpikir secara sistematis. Mengingat, intelektualitas belum bisa diakui ketika pada saat yang sama pikiran tersebut belum sistematis. Apalagi memang, sistematis tidak seseorang dalam berpikir menjadi indikator telah terintegral atau tidaknya pengetahuan yang telah pernah dimiliki oleh orang tersebut. Tentu saya juga berada didalam ketentuan demikian ini. Lagi, bagaimana cara berpikir?

Mengaitkannya dengan rumus ideal, saya termasuk salah seorang penganut konsep anti rumus dalam hal berpikir. Dalam arti, pola seseorang boleh berbeda dalam membentuk sebuah kerja pikiran. Karena hal ini juga tidak lepas dari latar pengalaman, darimana ia belajar, dan siapa saja yang berada di sekelilingnya. Intinya tidak ada pola baku pada mekanisme seperti apakah yang ideal untuk berpikir.

Cuma, yang masih saya yakini adalah tidak ada yang namanya berpikir yang tepat ketika seseorang tidak pernah secara rendah hati mengenal, bagaimana berpikir yang baik plus dampak dari sekian pemikiran yang telah pernah dihasilkan. Jika ingin arogan sedikit pada diri sendiri, menanggalkan keyakinan bahwa hari ini saya telah berpikir secara benar sebelum menemukan sebuah ketegasan dari apa yang telah pernah diperbuat. Oleh anda dan juga oleh saya disini. Maaf jika anda tidak menemukan kesimpulan apapun

Meulaboh,160309

Obrol versus Obral Janji

Dikirim KONTEMPLASI pada Maret 14, 2009 oleh Zulfikar Akbar

kekasih3 hal menjadi ciri manusia munafik:

1. Bila berkata ia dusta

2. Bila dipercaya ia khianat

3. Bila berjanji ia ingkar (Hadits)

Orang boleh tidak lihai dalam banyak hal, tetapi dalam urusan menabur janji sepertinya tidak butuh sekolah tinggi. Iya, tidak butuh sekolah tinggi untuk seseorang bisa menabur janji. Kita hidup bermasyarakat, toh karena memang kita makhluk sosial yang secara kodrati ‘terharuskan’ untuk bergaul entah dengan siapa saja. Lepas apa saja yang mungkin melatarinya. Bagi kalangan remaja yang masih mencari-cari makna hidup, barangkali janji juga menjadi senjata untuknya bisa menaklukkan pujaan hatinya.

Seorang kepala rumah tangga, barangkali menjadikan janji sebagai senjata untuk menaklukkan kerewelan istri dan anak-anaknya. Seorang Jenderal akan memberi janji kepada prajuritnya agar tetap gairah di medan tempur. Guru akan memberikan janji agar muridnya termotivasi untuk belajar. Seperti halnya juga seorang sahabat kepada sahabatnya, memberikan janji untuk membuat sahabatnya senang.

Intinya janji menjadi alat, alat penakluk dan alat untuk mencapai tujuan. Dan janji juga sering dilihat sebagai alternatif untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meski janji hanya bisa menyelesaikan masalah secara temporer saja. Tetapi, memang janji di satu sisi menggembirakan. Sebut saja janji seorang politikus kepada bakal konstituennya. Ini bisa menjadi alat bagi dia untuk menghipnosis konstituen agar dengan yakin menjatuhkan pilihan padanya.

Disana butuh strategi agar konstituen tersebut teryakinkan dengan janji yang ditawarkan oleh seorang politikus (baca;calon legislatif atau calon kepala daerah). Pun, terkait ini, diakui salah satu ciri seorang pemimpin tergambar dari bagaimana ia menumbuhkan keyakinan pada orang lain, atau orang yang bakal ia pimpin. Seseorang tidak akan bisa ’santai’ duduk dikursi kepemimpinannya jika pada saat yang sama ia tidak bisa meyakinkan pada orang yang melihat ’sikap santai’nya sebagai bagian dari skenarionya untuk menuju pada tujuan yang ingin ia berikan untuk pengikutnya. Namun tentu itu bukanlah sebuah sikap yang mutlak layak untuk ditiru tentunya. Karena secara realistis saja kita katakan, tidak akan pernah ada manusia waras yang akan bisa tidur tenang oleh buaian janji saja. Jika dalam sekian lama janji hanya bertahta di tahta janji saja, tidak pernah ada sinyal akan muncul singgasana yang bernama realisasi. Kecenderungan kita akan kecewa jika yang terjadi seperti yang disebutkan terakhir tadi. Kita adalah manusia. Kita memiliki harapan. Tentu saat mendengar janji diutarakan dan itu mengarah pada kita. Paling tidak saat merasakan bahwa janji tersebut menguntungkan, dalam angan timbul harap, kelak janji tersebut menjadi kenyataan. Dan disaat yang sama juga kita membayangkan, adalah hal yang sangat membahagiakan ketika janji tersebut menjadi realitas.

Namun begitu ada hal juga yang harus diperhatikan. Kita yang menginginkan untuk bertemu dengan manusia jujur, menjadi keharusan diri kita untuk memulai kejujuran tersebut dari diri sendiri. Menyimak pada sebuah hukum dasar alam, keserupaan menarik keserupaan. Menginginkan orang lain agar menjadi figur-figur yang menepati janji, agar kita tidak terkecawakan. Merupakan keharusan juga untuk kita adil menepati janji yang pernah kita ikrarkan, lepas kepad siapa saja janji tersebut terikrarkan.

Diakui juga, negeri kita sejauh ini menjadi ladang untuk tumbuhnya janji-janji dengan subur, tetapi tidak terlalu banyak dari janji tersebut berhasil menjadi benih yang kuat untuk tumbuh sebagai realitas. Dari remaja, tidak sedikit kita dengar yang bunuh diri disebabkan oleh janji kekasihnya yang jauh panggang dari api. Orang tua yang tidak dihargai lagi oleh anak-anaknya disebabkan terlalu banyak yang belum ditepatinya. Sampai pada sahabat yang terpaksa menerima kado wajah merengut dan cemberut dari sahabatnya dikarenakan ketidak-berhasilannya menepati janji.

Juga politikus yang sudah diplesetkan sebagai “poli-tikus” disebabkan posisi mereka selama ini membuat mereka terpaksa bersikap seperti tikus. Entahlah. Lepas dari itu semua, ada beberapa hal yang–sepertinya— penting untuk kita cermati, dalam posisi kita sebagai penerima janji. Ataupun siapa saja yang sudah merasa mual dengan jejalan janji yang terpaksa tersumpal di mulut obsesi kita:

1. Mereka yang menyampaikan janji adalah manusia. Manusia memiliki potensi untuk menyalahi janjinya. Sekalipun ia melanggarnya secara tidak sengaja. Jadi, jangan gantungkan harapan pada manusia jika tidak ingin kecewa.

2. Mereka punya kepentingan sendiri, terkadang mereka juga punya kelemahan untuk memprioritaskan, antara kepentingan sendiri dengan kepentingan kita yang sudah pernah disodori janji. Disini butuh kebijaksanaan kita sebagai orang yang dijanjikan apa saja

3. Kita jangan gantungkan diri pada janji mereka. Jika dengan potensi yang kita miliki, yang dianugerahkan Tuhan, memungkinkan kita untuk menggapai apa yang dijanjikan oleh sesama manusia, sebaiknya saja untuk meraih sendiri apa yang pernah dijanjikan oleh orang lain.

4. Jangan melihat mereka yang berjanji memiliki power atas segalanya. Ada saatnya energi mereka untuk realisasikan janji menemui saat untuk menguap dan hilang, janji itupun turut menguap dan turut hilang. Merasa yakin pada janji hanya akan membuat kita terpuruk dalam kekecewaan yang dalam. Apalagi banyak faktor di alam ini yang terjadi secara tidak sesederhana yang kita pikirkan. Nah itu beberapa masukan sederhana saja dari perenungan yang juga sederhana saya lakukan.

Selanjutnya, kita yang pernah merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang yang menjadi ‘korban’ atas janji-janji yang pernah tertujukan pada kita. Adalah pilihan sangat cerdas jika kita berikhtiar untuk tidak mengulangi hal yang sama pada orang lain. Jika ini kita pegang dan ikrarkan pada diri, tentu akan semakin berkuran manusia yang kecewa hanya disebabkan oleh kezaliman mulut yang disebut janji kosong (baca:bualan). Jangan, seperti yang pernah saya ikuti dalam beberapa seminar Psikologi—sebagai ilustrasi—, dikatakan seorang perempuan yang telah pernah menyerahkan keperawanan kepada kekasihnya diluar nikah, saat ia tidak dinikahi oleh kekasihnya, kecenderungan yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah, ia akan ‘berkampanye’ pada perawan-perawan lain untuk mengikuti jejaknya. Intinya mereka beranggapan, sakit ini baru adil ketika orang lain juga merasakannya.

Tetapi manusia berjiwa besar akan berikrar, biarlah selama ini aku menjadi korban dari kesalahanku, tetapi kesalahan ini janganlah terulang pada yang lain. Seperti yang dilakukan oleh beberapa perempuan di level internasional yang kemudian berkampanye untuk anti Free Seks setelah mereka sendiri merasakan dampak butuk dari praktik free seks. Ini sebagai ilustrasi. Berbicara janji maka kita berbicara karakter, berbicara moral dan berbicara hidup matinya nurani.

Untuk zaman sekarang, akan menjadi hal yang konyol mengatakan janji sebagai sesuatu yang berharga, karena paradigma berpikir sebagian manusia modern yang tidak lagi menjadikan nurani sebagai kiblat. Tetapi masyarakat yang tumbuh hanya berputar pada kepentingan dan kepentingan saja, yang mengarah dan menuju untuk kepentingan sederhana didalam diri sendiri saja. Diluar dengan wajah yang diperindah sedemikian rupa, janji-janji diukir dan tertabur. Sangat disayangkan jika figur demikian menjadi kekasih, menjadi istri, menjadi kepala rumah tangga atau bahkan menjadi politikus—untuk skala lebih luas—. Dan kita bayangkan sebaliknya, bagaimana indahnya saat janji kembali mendapat tempat berharga di dalam perlakuan manusia. Janji tidak disepelekan, dan janji dianggap sebagai cermin dari harga diri. Sehingga tidak lagi ada celah bumi yang disemaki oleh manusia yang merendahkan derajat kemanusiaan dengan melanggar janjinya. Jadilah kekasih yang menghargai janji, jadilah keluarga yang menepati janji dan jadilah bangsaku sebagai bangsa yang tidak merendahkan janji.

Dan, beruntunglah kita yang hari ini yang masih menjadi figur-figur yang tidak terlalu banyak menabur janji. Karena, kita percaya semua janji itupun kelak hanya akan menjadi beban di akhirat saat disini, dibumi ini kita hanya menaburnya untuk mencapai tujuan tanpa pernah ada realisasi. Sebagai penutup obrolan ini, sepertinya kita bisa renungkan seuntai kalimat yang pernah diuraikan dengan bijak oleh seorang Filsuf China yang pernah hidup ratusan tahun lampau: sebaiknya seseorang hanya mengatakan apa yang dipahaminya. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya. Karena, saat seseorang mengatakan apa yang tidak ia pahami, maka itulah yang akan menjadi penyebab seseorang itu menjadi pendusta.

Akhirnya, kehati-hatian dalam menelurkan kata dan bahasa akan menjadi alat paling bijak untuk menangkal diri menjadi manusia munafik. Hingga, ketika posisi kita sebagai kekasih, menjadi kekasih yang dikagumi kekasihnya karena berani menepati janji selalu. Menjadi kepala keluarga, menjadi kepala keluarga yang dikagumi istri dan anak-anaknya karena selalu menepati janji. Apalagi sebagai seorang negarawan, akan sangat penting untuknya menjadi sosok yang berhati-hati dalam janji, sehingga yang dijanjikannya bisa terealisasikan. Dari sana ia menjadi negarawan yang akan dicatat dalam sejarah rakyatnya sebagai pemimpin yang menepati janji. Kekasih yang mendapat tempat paling berharga dihati kekasihnya dengan ketepatan janjinya.

Renungan Tengah Malam untuk Kekasih dan untuk Bangsa Meulaboh, 14032009

23:54

Menjadi Dewan atau Menjadi Dewa?

Dikirim GAMPOENG pada Maret 14, 2009 oleh Zulfikar Akbar

353183614lae7Sebuah kalimat menarik saya temukan dari salah seorang kandidat legislatif saat mengikuti Diskusi Terfokus: Partai Politik Bicara, di Kantor P2TP2A Pemkab Aceh Barat, (13/03). Nyanyak, kandidat dari Partai SIRA menyorot potret anggota dewan yang selama ini tidak sedikit yang seperti dewa. Entah apa yang lebih dimaksudkan oleh caleg tersebut, tetapi memang kalau menelusuri sepak terjang anggota dewan di banyak daerah—spesifik di Aceh— Memang tidak sedikit yang selama ini berulah seperti dewa.

Mereka merasa berada di tempat yang berbeda dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk sekedar mengobrol dengan masyarakat kecuali untuk kepentingan tertentu, tidak akan ada waktu. Itu yang seringkali ditemui oleh masyarakat. dari sana secara pelan-pelan memang mereka telah mulai mendeklarasikan diri sebagai dewa, tidak lagi sebagai dewan, yang berasal dari manusia yang juga membutuhkan manusia biasa. Syahdan untuk bisa duduk di kursi empuk dewan padahal tidak mungkin tanpa adanya pendapukan dari masyarakat. Mereka yang berasal dari tukang becak, dari tukang sayur, mugee, dsb. Fenomena semisal ini juga mengingatkan saya pada komentar Mansur Alam, salah seorang anggota legislatif DPRK Nagan Raya, ia secara jujur mengakui tidak akan naik lagi sebagai bakal legislatif pada pemilihan ini, ia beralasan, “sekian tahun saya di legislatif, yang terjadi hanyalah menumpuk dosa pada Tuhan dan pada rakyat. Selama saya duduk di legislatif ini, yang sering terbahas disini hanyalah apa yang bisa didapatr oleh legislatif, dan tidak ada 1 qanunĀ  (peraturan) pun yang mengarah pada kepentingan rakyat.” Seperti itu yang sempat saya tangkap saat legislatif gaek ini menyampaikan keluhan dalam Workshop Mukim Kabupaten Nagan Raya beberapa hari lalu (11/03). Mungkin yang disampaikan legislatif tersebut menyiratkan sebuah pengakuan jujur, tetapi disana juga menjadi simbol ‘pentingnya’ legislatif (?)

Nah, kedepan, mengingat Pemilu sudah akan menjelang dalam hitungan ‘detik’, kita menunggu apakan kelak akan bisa menghadirkan anggota legislatif yang benar-benar bisa menjadi Dewan, bukan Dewa?

Menanyakan demikian kita pasti akan terlempar pada kesimpulan lain, bahwa disana ada nasib, disana ada perjuangan, disana juga akan ada selera yang menentukan selera. Iya, selera konstituen. Apakah konstituen akan memilih manusia yang berambisi menjadi Dewa yang kelak hanya terobsesi untuk bermain di ‘awan’ ataukah anggota dewan yang akan menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai dewan untuk kesejahteraan rakyat Aceh? Wallaahu a’lam. Peta politik Aceh, disatu sisi memang tidak terlalu berat diprediksi, tetapi terkait caleg mana yang bakal muncul nantinya, sepertinya memang sangat bergantung pada kualitas selera masyarakat Aceh

Meulaboh, 14 Maret 2009

Menikmati Flu, Pilek dengan Secangkir Kopi

Dikirim INSPIRASIONAL pada Maret 12, 2009 oleh Zulfikar Akbar

flu1Bukan sama sekali tulisan yang terlalu serius yang ingin saya tuliskan disini, maka kenapa dari judul saja sudah seperti itu. Jelasnya, berbicara flu, berbicara pilek, toh itu pastilah jenis penyakit yang kebetulan sedang menghinggapi saya. Seperti capung di ranting semak belukar, nanti juga ia hilang, maka aku tidak mempermasalahkannya, walaupun memang kondisi ini sedikitnya terasa lumayan mengganggu juga.

Sedangkan kopi merupakan bagian dari minuman klasik yang saya gemari. Kopi memperlihatkan saya pada makna, pada makna kesederhanaan. Hitamnya menyiratkan sebuah sisi yang tidak bisa ditembus mata tetapi ia bisa memasuki banyak lorong di rongga di dalam tubuh peminumnya. Dan itu merupakan bagian pelajaran prinsip. Prinsip bahwa, kendati kejlasan dalam hidup, sisi terangnya harus ada. Tetapi terlalu telanjang bukanlah sebuah pilihan yang terlalu bijak juga. Karena, toh tanpa diproklamirkan pun kita memang manusia biasa. Punya kesalahan, kekhilafan dan yang sesuku dengannya.

Tetapi saya coba percaya saja, dan menjadikannya sebagai bagian dari prinsip juga. bahwa kendati kopi itu adalah minuman yang memiliki rasa yang sebenarnya pahit, namun ia bisa menyatu dengan manisnya gula atau bahkan susu. Ia bisa menyatu dengan unsur tersebut. Kopi bisa menjadi sajian nikmat untuk dihidangkan—tentu bagi yang tidak anti pada kopi—. Tetapi dari sini juga, saya selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak pernah menyajikan kopi pahit pada mereka–siapa? entah—. Kecuali pada beberapa yang memang tidak menyenangi gula dan susu, ya apa boleh buat, aku sajikan saja kopi itu dengan rasa aslinya, pahit.

Tidak perlu bingung menerka arah obrolan saya ini.
Kopi adalah hidup. Maksud saya, kopi menjadi bagian dari simbol kehidupan. Gambaran kesederhanaan. Sekaligus gambaran dari kepekatan. Pekat tidak bermakna tidak bisa dinikmati. Penderitaan dalam hidup pun masih bisa juga dinikmati. Mengutip rekan Rio Menajang dalam salah satu diskusi, orang miskin sering menjadikan seks sebagai hiburan. dan itu tentu menjadi pilihan yang sangat mungkin ia dapatkan. Walaupun selanjutnya dengan ia memiliki banyak anak akan menambah keruwetan dia, yang harus ia hadapi, tetapi paling tidak ia telah bisa mendapatkan sebuah hiburan juga. Ah, apakah saya sudah ngelantur, entahlah. Intinya, saya hanya ingin katakan, semua bisa dinikmati tergantung pada bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Wallaahu a’lam

Meulaboh, 12 Maret 2009