02
Jan
10

Gus DUR dan Ureueng Aceh

Selamat Jalan PahlawanInna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.

Masih teringat sebuah masa ketika lelaki bernama Abdurrahman Wahid itu dicaci-maki di Aceh, hanya karena beliau menyebut dirinya sebagai “Nabi” Ureueng Aceh. Pada beberapa orang sahabat dekat, saya hanya bisa katakan untuk tidak ikut mencaci. Karena mengenal sosok itu tidak cukup hanya dengan kata-kata. Tetapi di banyak koran dan media lainnya, tidak sedikit yang memilih mengambil keputusan, bahwa mencaci beliau adalah perintah Tuhan. Saya tercenung saja.

Saat itu saya mengenalnya sebagai lelaki unik. Mata saya melihat beliau bukan sebagai lelaki biasa. Ia lelaki yang begitu teguh berdiri pada filosofi yang diajarkan Nabinya,”sebaik-baik perkara adalah di tengah-tengahnya.” Ia mendamaikan, ia tidak mengkafirkan dan ia tidak menjadi pemegang tombak atas banyak manusia yang bertentangan dengannya. Ia indah (baca: pikirannya) melebihi perawan yang baru baru tumbuh. Selalu saja mampu memberi pesona dan rangsangan. Iya, rangsangan untuk kemudian berpikir lebih lanjut tentang apa yang dimaksudkannya.

Di Aceh tidak sedikit yang bangga dengan kekoservatifan yang dipandang sebagai kebijaksanaan, lantas saat kalimat “tersengaja” dari mulut beliau menyebut diri sebagai “Nabi” sekian banyak penghakiman meluncur deras. Ia murtad, ia kafir, ia sudah keluar dari Islam. Itupun tidak hanya cukup di koran-koran. Tetapi bahkan di warung-warung kopi, caci maki itu terus saja berdatangan. Meski yang mencaci itu, shalatpun yang menjadi kewajiban seorang Muslim tidak dilakukan. Hal ini yang paling terekam kuat di pikiran saya hingga kini.

Ia pemberani. Ia tidak takut untuk beda dan tidak pernah terlihat bernafsu untuk dipandang hebat dengan keberaniannya berbeda. Saat Muslim Indonesia sekian banyak yang menentang keakrabannya dengan Israel, ia justru berpelukan dengan dedengkot Israel yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Saya menerjemahkan sikapnya sebagai konsistensinya pada pelajaran bahwa cinta itu universal. Cinta itu tidak perlu disekat-sekat. Saya melihat ia begitu meyakini, cinta pula yang bisa merubah keberingasan seorang musuh untuk menjadi manusia lebih berhati. Meski sejauh ini di Israel sana, mereka masih menunjukkan kepongahannya, setidaknya pelajaran Gusdur sudah ditinggalkan untuk juga dipelajari orang-orang Israel dan anak bangsa. Untuk tidak terlalu pagi menjadikan caci maki sebagai nyanyian. Tetapi mengizinkan diri sendiri melihat kehidupan itu dengan hati, dengan empati dan dengan cinta. Sayang sekali jika setelah kepulangannya, kita hanya bisa mengingat,”gitu aja kok repot.”

Selamat jalan Gus. Saya sangat yakin, Allah mencintaimu karena saat kau masih bernapas, engkau telah berhasil menunjukkan cinta. Cinta yang tidak hanya untuk saudara seagamamu, tetapi juga untuk saudara kita Konghucu dan orang-orang yang termarjinalkan oleh kesombongan bangsa kita.



08
Nov
09

Kesalahan Tuhan

IMG_1470Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun

***

Selulerku dengan sengaja kumatikan. Pintu kamar kututup rapat, menikmati hening. Mencoba keluarkan jiwa dan pikiran dari tubuh. Membiarkannya untukmelihat semua yang ada disekeliling. Mengambang, menerawang. Terkadang yang terlihat hanya siluet putih dan hitam. Mungkin, siluet itu hanya disebabkan oleh kesukaanku pada dua warna itu.

Lantas pikiranku terantuk pada sebuah potret yang terjadi tidak jauh dari kotaku. Potret yang menceritakan tentang seorang ibu yang meninggalkan suami dan anak-anaknya. Salah satu dari anak itu masih berusia sekitar 8 bulan, masih bayi untuk menikah dengan lelaki lain yang sebenarnya juga sudah memiliki istri.

Tak lama, pikiranku juga terbawa pada sebuah suguhan pemandangan yang dilakukan oleh seorang lelaki. Lelaki yang meninggalkan istrinya untuk hidup sendiri dan mencari nafkah tanpa dibantu oleh suami ‘tercinta’. Lelaki itu sendiri merambah berbagai kota, terkadang terdengar kabar ia sudah menikah dengan seorang perempuan di salah satu kota yang didatanginya.

Lalu, sebuah kesimpulan menghinggapi pikiranku seperti pipit kecil bermain di pucuk-pucuk padi. Kezaliman tidak mengenal kelamin.

***

Ada sedih dan trenyuh menghinggapi hati membayangkan itu semua. Jadi teringat protes para malaikat saat Tuhan akan menciptakan Adam,”Kenapa Engkau menciptakan manusia yang hanya mengotori bumi dengan keserakahan mereka?”

Tuhan tidak banyak bicara, selain:”Aku lebih tahu daripada kalian.”

Adam dilempar ke dunia, beranak pinak. Mengisi hampir tiap jengkal tanah yang ada di bumi. Mengambil kebaikan dari bumi, menelanjanginya. Anak-anak Adam itu selanjutnya semakin memperkuat tubuhnya, memakan apa saja yang bisa dimakannya. Terkadang untuk mencari makan itu, harga diri tidak lagi menjadi sebuah hal yang mahal.

Beberapa rekan yang bijak menulis puisi-puisi keluhan,”kekuatan tubuh tidak untuk membuat mereka semakin banyak melakukan kebaikan. Tapi justru mereka semakin perkasa untuk melakukan kelaziman kezaliman.” Protes mereka pada pelaku kezaliman. Saat berlangsung diskusi tentang kezaliman manusia, dari yang kecil-kecil sampai skala besar.

***

Aku merasa ingin tertawa pada beberapa figur yang begitu yakin dengan kecerdasan intelektualitasnya,”ini semua adalah kesalahan Tuhan”, Ujarnya satu ketika. Ia tunjukkan berlembar-lembar surat kabar padaku. Terpampang cerita, tentang Ayah yang memperkosa anaknya. Pemerintah yang juga memperkosa rakyatnya. Lelaki yang bangga disebut sebagai pembunuh. Sarjana yang merasa tidak berdosa dengan kebodohan yang masih berselemak di sekitar rumahnya. Para pelaku perang yang memperkosa perdamaian yang dielu-elukan sebagai pahlawan.

“Ini kesalahan Tuhan.” Ujarnya dengan tegas. Ekspresi keyakinan begitu kental terpancar dari wajahnya. Tidak keluar satu patah bantahan dariku. Selain hanya tercenung,”kenapa ketika ada hal-hal buruk yang terjadi justru Tuhan jadi sasaran. Tetapi saat sedang bermandikan kesenangan, keindahan, Tuhan terlupakan. Manusia bisa berpikir dengan mencari-cari kesalahan Tuhan, tetapi sangat jarang tergerak untuk mencari kesalahan sendiri.”

Dinamika. Aku mensyukuri berada didalam semua dinamika itu. Dinamika yang sesekali memang mengundang marah, tetapi terkadang juga menjadi banyolan yang indah untuk didengar dan dilihat. Cukup mampu untuk mengundang tawa–meski dalam hati–.

Sampai detik ini aku masih setia pada barisan orang-orang yang tidak berselera untuk menyalahkan Tuhan. Meskipun, aku tetap menebar senyum pada mereka yang berlainan pikiran denganku.

***

Selalu saja aku merasa kagum pada beberapa figur yang terkadang memang belum pernah bertatap muka denganku. Sebagian mereka mungkin telah bertemu Tuhan di peristirahatannya.  Mereka, yang selalu menebar prinsip, bahwa semua keburukan yang terpampang seperti pelacur mengangkang bukan untuk diteladani, tidak untuk diikuti. Mereka, yang selalu percaya, hidangan keburukan itu akan selalu ada sebagai pesan Tuhan,”selesaikan semua keburukan itu agar hati dan pikiran berfungsi, Agar hati dan pikiran lebih terasah, nurani bisa lebih berfungsi. Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun.”

 

Kunjungi Juga: Suhu Cinta

28
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis (Mencatat Kebodohan)

IMG_1369Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

(Sebuah renungan kecil)

28
Okt
09

Renungan Lelaki Lajang saat Hujan

IMG_1366Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”

Sering, saya dibuat tersenyum sendiri dengan gaya SMS rekan-rekan saya itu. Juga sering terjadi dengan teman-teman yang saat malam pertama setelah nikah, langsung mengbombardir Seluler saya dengan pesan pendeknya:” Bro, aku duluan okey, ahhhh.” SMS yang membuat jengah dan juga menimbulkan tanya pada diri sendiri. Sekian banyak sudah teman, sahabat yang “memprovokasi” saya untuk terus menikah. Tunggu apalagi, katanya. Berbicara usia, sudah sangat layak disebut matang. Secara profesi, walaupun terkadang hanya sebagai freelancer, namun tetap juga memiliki ruang untuk terus menambah rejeki. Begitu khotbah-khotbah mereka. Meski, saat akan mengambil keputusan menikah, dulu justru mereka yang meminta saya “berkhotbah” dengan saran-saran saya.

Tetapi, lagi dan lagi saya masih tetap bergumul dengan ‘idealisme’ saya sendiri. Bahwa, untuk menikah itu tidak cukup hanya dengan kemauan. Untuk menikah butuh kematangan dari segala hal. Pattern pikiran saya ternyata sangat perfeksionis. Apalagi memang, dengan keterbukaan saya bergaul dengan banyak orang dan lintas usia, pekerjaan dan status sosial. Saya menemukan tidak sedikit keluhan.

Sebut saja Zainal (bukan nama sebenarnya), ia berujar:” aku sebenarnya memang harus mengsyukuri dengan istri yang saya miliki. Ia punya wajah yang cantik, tidak kalah dengan artis. Tetapi jangan kamu kira aku sudah sangat enak hidupnya. Secara kebutuhan seks mungkin terpenuhi. Namun, kalau mengajak diskusi tentang perihal yang sedikit serius yang aku temui sehari-hari, ia tidak nyambung Bro. Itu yang sering bikin saya jengkel. Karena memang menikah itu, disana istri tidak hanya untuk kebutuhan seks. tapi bagaimana ia juga idealnya juga bisa membantu kita mikir, aduh.” Keluar puisi keluhan dari mulutnya.

Pada kasus lain, seorang rekan yang juga tidak kalah ganteng dari saya hehe, juga mengelurkan sajak-sajak keluhan,”aku kemarin nekat untuk menikah, apalagi dengan istriku itu sudah PNS, setidaknya ia sudah lebih mapan. Saya sendiri bisa bekerja apa saja. Tapi yang terjadi sekarang, saya justru minder dengan sendirinya, oleh sebab penghasilan istri saya jauh lebih tinggi dari saya sendiri. Seringkali terjadi, seharian terkadang saat tidak ada kegiatan aku menjadi pengasuh anak. Jujur, aku merasa menjadi suami yang tidak berharga.”

Menyimak mereka dan beberapa hasil diskusi lain yang tidak saya tuliskan disini, saya semakin “memaksa” diri untuk memutuskan menikah. Mungkin, memang saya sendiri yang sudah membuat penjara dari besi yang terlalu kuat, entahlah

27
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis

riverSaya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana childrencamp,241009 239saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

 

(Sebuah renungan kecil)

18
Okt
09

Berbicara tentang Kelemahan

bersamakuKata lemah tidak hanya ada dalam kamus-kamus bahasa. Ia ada dan berintegrasi dalam jiwa kita. Sesekali ia mencuat. Menghancurkan, mematahkan bahkan menghilangkan. Tidak jarang ketakutan muncul dihadapan kata yang terdiri dalam lima huruf itu.

Untuk fisik, sebagian dari kita memilih nutrisi yang memadai dan berbagai langkah lain untuk mengembalikan kekuatannya. Bagaimana halnya dengan jiwa? Saya teringat seorang rekan yangmengkritisi merebaknya buku-buku self-help yang dengan mudah ditemui di pasar-pasar dan bahkan di kaki lima. Ia berpandangan bahwa orang-orang yang membaca buku tersebut sebagai bagian dari orang-orang yang cengeng, yang tidak berani berhadapan dengan kekalahan. Sedangkan, mau baca atau tidaknya buku-buku tersebut, tetap saja ketika kemalangan harus terjadi tetap saja ia akan terjadi. Seperti itu ia berujar.

Karena saya sendiri memang bukan tipikal yang suka berdebat, maka saya hanya mencoba merenunginya saja tanpa tertarik untuk mencoba membantah. Kendati, saya suka berpikir dari dua sisi dalam melihat sebuah kondisi, dalam melihat apa saja. Tidak melulu pada baiknya saja, atau pada buruknya saja. Bila ketika itu saya pergunakan sudut pandang yang berlawanan dengannya yang juga tumbuh di pikiran saya, sepertinya tidak akan ketemu. So, dalam hal itu pikiran saya lebih tertuju pada, bahwa setiap kita memiliki strategi tersendiri dalam penyelesaian masalah. Hanya saja, apakah dengan keyakinan seperti itu lantas menutup diri dari pengalaman orang-orang yang berada di sekitar kita? Saya kira tidak, karena dengannya justru menjadi pelajaran untuk kita ketika mungkin mengalami hal yang persis serupa

18
Sep
09

Tuhan di Ujung Telunjuk

telunjukBukan lagi keluar yang harus dilihat ketika terjadi berbagai ironi. Ketika sekian banyak pendusta mencoba bicarakan kebenaran dengan ekspresi meyakinkan. Kita tidak bisa diizinkan untuk menjadi bagian dari manusia yang berkesempatan untuk beroleh anugerah yang bersifat permisif, dari kita. Karena kendati dengan geraham pun kita menggigit tradisi permisif mencuat, namun itu terus saja menggejala dan menjala ikan-ikan kecil di samudera kita yang kian keruh. Ikan-ikan kecil kebenaran yang belum bisa menunjukkan diri sesangar dan setegas hiu.

Kita masih melihat kebenaran masih menjadi bahan eksperimen yang terus dibedah, mereka mengulik-nguliknya. Laik kucing remaja yang terpesona dengan bola yang bergulir didepannya.

Kita menjadi manusia yang begitu peka pada hal-hal yang harusnya memang tidak perlu diberi stempel bertanda curiga. Dan kita secara perlahan, menjadi figur-figur mengerikan yang menjadi permisif dengan kebatilan dengan keseriusan kita melogikakan. Hingga tidak lagi terpedulikan jidat mengerut.

Pada kemunafikan, pada justifikasi-justifikasi tanpa aroma nurani. Agama menjadi terdakwa. Tuhanpun kemudian berada di ujung-ujung telunjuk kita. Raungan para sahaya yang bertelanjang dada diterik matahari sudah tidak lagi membuat perikemanusiaan kita terbetik. Bayi-bayi yang dilahirkan pengemis meronta di pinggir-pinggir jalan-jalan utama di kota-kota yang sudah tidak lagi bernama. Tanpa ada selera untuk kita membuka keangkuhan yang terlihat jingga di relung-relung, memeluk mereka dengan sekerat roti yang bisa kita beri. Sebegitu sudah kita berubah nista. Maka akupun hanya bisa bercerita dengan irama nestapa