Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.
Masih teringat sebuah masa ketika lelaki bernama Abdurrahman Wahid itu dicaci-maki di Aceh, hanya karena beliau menyebut dirinya sebagai “Nabi” Ureueng Aceh. Pada beberapa orang sahabat dekat, saya hanya bisa katakan untuk tidak ikut mencaci. Karena mengenal sosok itu tidak cukup hanya dengan kata-kata. Tetapi di banyak koran dan media lainnya, tidak sedikit yang memilih mengambil keputusan, bahwa mencaci beliau adalah perintah Tuhan. Saya tercenung saja.
Saat itu saya mengenalnya sebagai lelaki unik. Mata saya melihat beliau bukan sebagai lelaki biasa. Ia lelaki yang begitu teguh berdiri pada filosofi yang diajarkan Nabinya,”sebaik-baik perkara adalah di tengah-tengahnya.” Ia mendamaikan, ia tidak mengkafirkan dan ia tidak menjadi pemegang tombak atas banyak manusia yang bertentangan dengannya. Ia indah (baca: pikirannya) melebihi perawan yang baru baru tumbuh. Selalu saja mampu memberi pesona dan rangsangan. Iya, rangsangan untuk kemudian berpikir lebih lanjut tentang apa yang dimaksudkannya.
Di Aceh tidak sedikit yang bangga dengan kekoservatifan yang dipandang sebagai kebijaksanaan, lantas saat kalimat “tersengaja” dari mulut beliau menyebut diri sebagai “Nabi” sekian banyak penghakiman meluncur deras. Ia murtad, ia kafir, ia sudah keluar dari Islam. Itupun tidak hanya cukup di koran-koran. Tetapi bahkan di warung-warung kopi, caci maki itu terus saja berdatangan. Meski yang mencaci itu, shalatpun yang menjadi kewajiban seorang Muslim tidak dilakukan. Hal ini yang paling terekam kuat di pikiran saya hingga kini.
Ia pemberani. Ia tidak takut untuk beda dan tidak pernah terlihat bernafsu untuk dipandang hebat dengan keberaniannya berbeda. Saat Muslim Indonesia sekian banyak yang menentang keakrabannya dengan Israel, ia justru berpelukan dengan dedengkot Israel yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Saya menerjemahkan sikapnya sebagai konsistensinya pada pelajaran bahwa cinta itu universal. Cinta itu tidak perlu disekat-sekat. Saya melihat ia begitu meyakini, cinta pula yang bisa merubah keberingasan seorang musuh untuk menjadi manusia lebih berhati. Meski sejauh ini di Israel sana, mereka masih menunjukkan kepongahannya, setidaknya pelajaran Gusdur sudah ditinggalkan untuk juga dipelajari orang-orang Israel dan anak bangsa. Untuk tidak terlalu pagi menjadikan caci maki sebagai nyanyian. Tetapi mengizinkan diri sendiri melihat kehidupan itu dengan hati, dengan empati dan dengan cinta. Sayang sekali jika setelah kepulangannya, kita hanya bisa mengingat,”gitu aja kok repot.”
Selamat jalan Gus. Saya sangat yakin, Allah mencintaimu karena saat kau masih bernapas, engkau telah berhasil menunjukkan cinta. Cinta yang tidak hanya untuk saudara seagamamu, tetapi juga untuk saudara kita Konghucu dan orang-orang yang termarjinalkan oleh kesombongan bangsa kita.
Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun
Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.
Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”
Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.
saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.
Kata lemah tidak hanya ada dalam kamus-kamus bahasa. Ia ada dan berintegrasi dalam jiwa kita. Sesekali ia mencuat. Menghancurkan, mematahkan bahkan menghilangkan. Tidak jarang ketakutan muncul dihadapan kata yang terdiri dalam lima huruf itu.
Bukan lagi keluar yang harus dilihat ketika terjadi berbagai ironi. Ketika sekian banyak pendusta mencoba bicarakan kebenaran dengan ekspresi meyakinkan. Kita tidak bisa diizinkan untuk menjadi bagian dari manusia yang berkesempatan untuk beroleh anugerah yang bersifat permisif, dari kita. Karena kendati dengan geraham pun kita menggigit tradisi permisif mencuat, namun itu terus saja menggejala dan menjala ikan-ikan kecil di samudera kita yang kian keruh. Ikan-ikan kecil kebenaran yang belum bisa menunjukkan diri sesangar dan setegas hiu.
