Aku hanya sedang berbicara kepada diri sendiri, bersama rentak irama zikir yang mengalun seperti ujung-ujung ombak. Berderai seperti buih. Aku tidak berniat untuk bicara kepada siapapun, hanya pada diri sendiri
“Tunjukkanlah kepada siapapun tentang keluguan, kesalihan dan apapun yang kau inginkan. Jika engkau tujukan itu untuk beroleh simpati manusia, justru itulah yang akan membuatmu terpuruk dalam ketidak-berhargaan, kehinaan dan luka terdalam sampai kau harus menyatu dengan keruh air selokan di belakang sumur rumahmu. Atau, kau selalu mencoba untuk menjadi dirimu sebagai diri yang jujur, murni tapi selalu berupaya untuk berbuat yang terbaik, bukan untuk siapa-siapa, bukan demi manusia. Hanya untuk kebaikan itu sendiri agar ceritanya tidak hanya tenggelam kedalam sejarah masa lalu. Tidak sedikitpun keuntungan yang akan kau peroleh atas setiap kebaikan yang hanya kau orientasikan kepada simpati manusia, ataupun decak kagum mereka. Hal yang demikian hanyalah mencerminkan kekerdilan jiwa.
Menjadi besarlah engkau wahai jiwa
Agung berpayung dibawah keagungan Penciptamu saja, bukankah engkau juga sangat memahami hukum kenyataan seperti yang demikian?”
Aku mengangguk, bukan di keramaian jalanan. Aku tidak ingin juga dilihat sebagai orang yang tidak waras hanya disebabkan berlaku demikian
“Iya, aku sangat menyadari dengan segala kelemahan dan keterbatasanku, karena aku selalu arahkan mataku untuk selalu menoleh kepada kekurangan itu. Bukan untuk tujuan apapun, selain aku agar aku bisa lebih cepat untuk merubah sisi buruk menjadi kebaikan, menjadi baik. Karena, sebuah keburukan hanya akan bisa dirubah setelah keburukan itu terdeteksi olehmu. Jika aku merasa diri sebagai sosok paripurna, tentu tidak akan ada yang menjadi motivasiku merubah sesuatu. Toh semua sudah sempurna. Aku menyadari kehidupan bukanlah dongeng, bukan opera kaku”
Teruslah berbinar setiap mata yang masih memiliki kejujuran, ketulusan.
“Apapun, kau jangan murka pada langit menghitam ketika mendung, tujukan pikiranmu pada air yang bakal tercurah dari langit. Bukankah air itu yang engkau tunggu? Kau takkan dapatkan segelas airpun jika hanya mengharap air tercurah dengan kebencian pada kedatangan mendung. Biarkan mendung itu tiba menyambangi langitmu. Mendung juga takkan menutupi keagungan langit, maka tersenyumlah”
Maka, jiwa-jiwa tulus akan terus menuju ke tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan, karena hukum itu telah tertulis dari zaman yang tidak kau kenali dulu, yang tidak tercatat di buku-buku sejarah sekolahmu.
Meulaboh, 11 April 2007

