Arsip untuk April, 2008

15
Apr
08

Energi Langit

Aku hanya sedang berbicara kepada diri sendiri, bersama rentak irama zikir yang mengalun seperti ujung-ujung ombak. Berderai seperti buih. Aku tidak berniat untuk bicara kepada siapapun, hanya pada diri sendiri

“Tunjukkanlah kepada siapapun tentang keluguan, kesalihan dan apapun yang kau inginkan. Jika engkau tujukan itu untuk beroleh simpati manusia, justru itulah yang akan membuatmu terpuruk dalam ketidak-berhargaan, kehinaan dan luka terdalam sampai kau harus menyatu dengan keruh air selokan di belakang sumur rumahmu. Atau, kau selalu mencoba untuk menjadi dirimu sebagai diri yang jujur, murni tapi selalu berupaya untuk berbuat yang terbaik, bukan untuk siapa-siapa, bukan demi manusia. Hanya untuk kebaikan itu sendiri agar ceritanya tidak hanya tenggelam kedalam sejarah masa lalu. Tidak sedikitpun keuntungan yang akan kau peroleh atas setiap kebaikan yang hanya kau orientasikan kepada simpati manusia, ataupun decak kagum mereka. Hal yang demikian hanyalah mencerminkan kekerdilan jiwa.

Menjadi besarlah engkau wahai jiwa

Agung berpayung dibawah keagungan Penciptamu saja, bukankah engkau juga sangat memahami hukum kenyataan seperti yang demikian?”

Aku mengangguk, bukan di keramaian jalanan. Aku tidak ingin juga dilihat sebagai orang yang tidak waras hanya disebabkan berlaku demikian

“Iya, aku sangat menyadari dengan segala kelemahan dan keterbatasanku, karena aku selalu arahkan mataku untuk selalu menoleh kepada kekurangan itu. Bukan untuk tujuan apapun, selain aku agar aku bisa lebih cepat untuk merubah sisi buruk menjadi kebaikan, menjadi baik. Karena, sebuah keburukan hanya akan bisa dirubah setelah keburukan itu terdeteksi olehmu. Jika aku merasa diri sebagai sosok paripurna, tentu tidak akan ada yang menjadi motivasiku merubah sesuatu. Toh semua sudah sempurna. Aku menyadari kehidupan bukanlah dongeng, bukan opera kaku”

Teruslah berbinar setiap mata yang masih memiliki kejujuran, ketulusan.

“Apapun, kau jangan murka pada langit menghitam ketika mendung, tujukan pikiranmu pada air yang bakal tercurah dari langit. Bukankah air itu yang engkau tunggu? Kau takkan dapatkan segelas airpun jika hanya mengharap air tercurah dengan kebencian pada kedatangan mendung. Biarkan mendung itu tiba menyambangi langitmu. Mendung juga takkan menutupi keagungan langit, maka tersenyumlah”

Maka, jiwa-jiwa tulus akan terus menuju ke tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan, karena hukum itu telah tertulis dari zaman yang tidak kau kenali dulu, yang tidak tercatat di buku-buku sejarah sekolahmu.

Meulaboh, 11 April 2007

15
Apr
08

Tanjakan & Sugesti

Adakah bukit di dekat rumahmu, di dekat desamu atau mungkin di pinggiran kotamu, dakilah. Di atas bukit itu ada sesuatu yang istimewa untuk siapa saja yang mau menuju kesana. Ayunkan langkahmu untuk menuju kesisi teratasnya. Bawa saja bekal untuk obati luka jika nanti disana engkau terjatuh, air minum secukupnya dan perbekalan lain yang sekira perlu. Perjalanan itu akan melelahkan. Namun, kadar kelelahan itu juga ditentukan oleh seberapa tinggi bukit itu dan bagaimana medan menuju kesana. Juga kemungkinan akan temui ular berbisa atau bahkan macan jika bukit itu bertempat di hutan.

Oya, jika pikiranmu hanya dihantui oleh keberadaan macan, ular dan yang sejenisnya sampai kemudian engkau urungkan perjalanan kesana, simpan saja mimpimu untuk dapatkan emas itu. Cuman, saya sarankan engkau lanjutkan perjalanan tanpa harus merasa takut dengan keberadaan ular dan macan itu, hanya yang engkau perlukan adalah kewaspadaan dengan segala kemungkinan. Dan, pikiran tidak boleh lepas dari sasaranmu sebelumnya. Sekali lagi mata hati jangan hanya terisi dengan keberadaan ular dan macan, ingat tujuanmu. Juga, sediakan sedikit waktu untuk persiapan kebutuhan yang engkau perlukan, bukan untuk apa-apa, namun agar perjalananmu tidak terhenti ditengah jalan, sia-sia.

Pun, jalan yang akan kau tempuh tidaklah lurus dan mulus, tetapi terjal dan berjurang. Tidak sedikit duri yang akan membuat kakimu tergores dan luka, tapi takkan membuatmu terbunuh oleh luka-luka kecil itu jika engkau tahu cara mengobati agar tidak menjadi parah. Sesekali tidak salah jika egkau mengambil jeda, rehat untuk beberapa jenak. Cuman, jangan terlalu menikmati istirahat itu, ingat tujuan.

Untuk menuju puncak, izinkan tubuh untuk merasakan sakit, letih, penat dan bahkan terluka. Jangan berhenti selain untuk istirahat mengambil energi dan selanjutnya kembali melanjutkan perjalananmu

***

Rangkaian kalimata diatas adalah kalimat yang saya gunakan untuk menasihati diri sendiri, saat-saat letih, saat merasa seolah perjalanan belum terhenti. Entah mugkin kalimat ini juga akan berguna buat anda, saya belum tahu