Bersama YPS Meulaboh, saya menjadi salah satu crew yang dilibatkan dalam kegiatan assesment di Pantee Ceureumen, Aceh Barat. 4 desa menjadi sasaran dari asessment ini:
1. Puloe Teungoeh
2. Jambak
3. Lawet
4. Cangge
Ke-4 desa tersebut dipilih berdasarkan hasil rembuk dengan pihak kecamatan dan stake holder yang ada. Memang orientasi dari asesment ini lebih ke bakal adanya semacam Program Pemberdayaan Masyarakat Rentan on Post Conflict. Kegiatan ini disponsori oleh Caritas Switzerland, dikomandoi oleh H. Novian Nukman, Project Manager YPS Meulaboh.
Ada banyak temuan menarik disini:
1. Masih adanya desa yang belum mendapatkan aliran listrik ke desanya
2. Sulitnya akses transportasi
Dalam hal transportasi, bisa dicontohkan dengan Desa Lawet dan Cangge, untuk bisa menuju ke pusat kecamatan, mereka tidak memiliki kendaraan umum. dan mereka juga harus melewati sungai yang hanya dihubungkan dengan sebuah rakit. Rakit ini cuma bisa menampung sekitar 4 unit sepeda motor dan 8 penumpang. Bahkan, rakit inipun pernah terhanyut malam hari oleh arus sungai yang demikian deras
3. Anak-anak yang masih dalam usia sekolah —SD—, di Desa Cangge, mereka harus melewati jembatan yang terbuat dari seutas kabel yang menghubungkan Desa Cangge dengan Alue Lhoek. Banyak terjadi anak-anak tersebut jatuh dari titian ini dan mengalami patah dan cedera lainnya
4. Perempuan masih merasa sungkan untuk terlibat dalam pertemuan jika harus berbaur dengan kaum pria
5. Masih adanya semacam intervensi tidak logis dari beberapa warga yang secara pengalaman sudah lebih banyak, pernah bepergian lama keluar desa. Mereka sering mengakali masyarakat lain yang masih awam
6. Sudah mulai terjangkit dengan budaya individualisme, sebuah nilai yang sebenarnya ‘berseberangan’ dengan lazimnya masyarakat desa terpencil. Seringnya, nilai semacam ini juga dibawa oleh mereka yang pernah lama berada diluar desa—kota—.
7. Kurangnya terobosan dalam hal menciptakan lapangan kerja yang lebih menghasilkan
8. Sarana informasi masih sangat minim, kecuali dari televisi. Namun televisi juga hanya dimiliki oleh sebagian kecil warga. Di desa Lawet hanya dimiliki oleh 3 warga. Sedangkan desa-desa seperti Cangge, Jambak harus ke Puloe Teungoeh atau Lawet. Biasanya hanya anak-anak yang keluar malam untuk bisa menonton televisi. Kendati kalau ditilik dari faktor keamanan, jelas tidak aman karena rawan dengan binatang buas, gajah, macan hingga ular berbisa. Selanjutnya, televisi juga bukan ditonton berita atau tayangan edukatif lainnya, namun mereka lebih menggemari film-film horor yang tidak mendidik


mohon sebutan desa di ubah dengan sebutan Gampong karena aceh Nyo hai kana Qanun jih
Get Pak Roel