Saat itu saya mendebat diri sendiri. Persoalannya berawal dari ketika ibu memilihkan seorang jodoh untuk saya, setelah sekian lama saya katakan untuk segera menikah tetapi belum ada yang serius. Kalaupun ada yang serius, terus terbentur dengan persoalan jarak, persoalan ekonomi—bukan calon istri yang lebih miskin tetapi keluarga saya yang berada dibawah mereka—.
Ibu saya memilihkan seorang gadis yang saya akui, secara kadar pengetahuan agamanya tidak terlalu membanggakan, pendidikannya juga hanya tamatan menengah atas (baca: SMU). Namun, saya yang biasanya dalam keluarga sering digelari keras kepala dan ambisius, kali ini memilih mengangguk. Meski secara kriteria—agama dan intelektualitas—, sama sekali jauh dari yang saya pernah bayangkan, tapi saya benar-benar mengangguk.
Hingga akhirnya, iya, saya mengangguk.
Apa yang saya katakan pada diri sendiri?
“Dia tidak sesempurna yang pernah saya bayangkan, tetapi disinilah tanggung jawabku, inilah bagian dari tugas yang harus ku emban kelak sebagai seorang suami. Mengayomi istri, mendidik istri, menguatkannya.“
Meulaboh, 28082008


0 Tanggapan ke “Untuk Istri, Bukan Sekedar Puisi”