29
Agu
08

Aceh, Setelah Pingsan (?)

Cahaya bulan lebih lemah dari matahari, karena memang bulan tidak memiliki cahaya sendiri. Tetapi ketika matahari beranjak pergi, maka sudah menjadi titah alam, bulan yang memiliki cahaya lebih lemah akan menggantikan matahari bertahta di atap langit bumi.

Aceh, tanah ini pernah terterangi matahari, tetapi kemudian harus berpuas terkangkangi bulan. Matahari disini menjelaskan tentang kesejatian, dan bulan sebagai simbol dari ketidak berdayaan. Saya mem-bahasa lainkan dengan pingsan. dan sebuah kelaziman, kita manusia setelah pingsan maka butuh waktu untuk bisa bergerak normal, keserupaan dengan ini terjadi pada Aceh.

Memang, hal demikian merupakan hal yang lumrah saja ditengah perjalanan anak-anak manusia. Dalam skala individual, kecil saja kita tidak punya otot-otot yang kuat, proses perjalanan waktu, tubuh beradaptasi dengan lingkungan, dengan sekeliling. Dengan hawa panas, dingin yang membuat menggigil. Tapi biarkan, biarkan dulu semua itu berproses dengan bagaimana ia seharusnya, kelak–Aceh pun— pasti akan lebih kuat. Cuman, tolong jangan terjemahkan kata biarkan dengan tidak harus melakukan apapun.

Meulaboh, 290808


0 Tanggapan ke “Aceh, Setelah Pingsan (?)”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan