29
Agu
08

Menulis, untuk Apa?

Bisa saja terbetik beragam alasan untuk seseorang menulis. Untuk kepuasan batin, untuk popularitas, atau untuk apapun. Tidak ada yang salah terkait dengan apapun yang melandasi seseorang untuk menulis.

Namun, saya melihat, landasan untuk menulis sangat berpengaruh pada ‘power’ dari sebuah tulisan yang dihasilkan. Disini saya mencontohkan dengan tulisan Imam al Ghazali dengan tulisannya yang masih bertahan ratusan tahun dan sampai sekarang masih dengan mudah bisa ditemui dalam beragam bahasa-bahasa dunia. Sebut saja Ihya’ Ulumuddin—sebagai satu contoh dari banyaknya penulis kesohor lainnya—, sebuah tulisan yang tidak saja dibaca oleh Muslim kendati yang dibahas dalam buku ini tidak jauh-jauh dari nilai dan kandungan dalam Islam, namun juga dibaca oleh banyak non-muslim.

Dari situ tercetus tanya dikepala saya, bagaimana sebuah tulisan itu bisa memiliki energi sebegitu kuat, sehingga bisa bertahan sedemikian lama. Sebelumnya, sempat tersimpulkan dikepala saya beberapa kemungkinan:

1. Ilmu yang dimiliki oleh penulisnya yang sudah sedemikian tinggi

Cuman, jika ini menjadi penyebabnya, saya sendiri bingung, apa yang bisa dijadikan sebagai indikator kuat seseorang bisa dikatakan bisa berilmu tinggi. Karena tentu saja, kekuatan sebuah pengetahuan tidak bisa disamakan dengan tokoh kanak-kanak Power Rangers, kekuatannya terukur dari kemampuan mereka yang selalu bisa menaklukkan semua musuhnya. Ini jelas berbeda.

2. Waktu pencarian pengetahuan yang lama

Ya, bisa saja ini benar. Sebab dengannya akan membuat seorang penulis bisa memiliki banyak komparansi, banyak perbandingan yang selanjutnya akan dengan sendirinya menjadi suplemen  terhadap kekuatan tulisannya. Tetapi saya tidak yakin ini sebagai sebuah kemutlakan.

3. Proses penghayatan yang maksimal

Juga bisa jadi ini benar. Hanya saja, ini juga terasa mengambang. Karena ini melahirkan satu tanda tanya baru, pada titik mana sebuah penghayatan bisa dikatakan maksimal.

4. Orientasi

Belajar dari beberapa penulis—lepas apapun genre tulisannya—, mereka terlihat memang mengabdi penuh pada tulisannya. Apa yang bisa membuat tulisannya menarik? Selain, terasa benar, mereka seringkali menulis dan melihat tulisannya tidak serta merta dari sudut pandang pribadi saja, tetapi juga melihatnya dari pandangan luar dari dirinya. Intinya, saya sedikit teryakinkan, keobjektifan sebuah tulisan sangat berpengaruh pada power tulisan tersebut.

Sejauh itu, saya kira, ini semua memang juga masih bisa dan sangat berpeluang untuk diperdebatkan.Zulfikar Akbar.


0 Tanggapan ke “Menulis, untuk Apa?”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan