Arsip untuk September, 2008

22
Sep
08

Liputan Seputar Ekses Konflik: Pante Ceureumen

Pante Ceureumen

Potret ‘Antagonisme’ Konflik

&

Ketertinggalan Aceh Barat

Melihat pesatnya perkembangan Kota Meulaboh yang merupakan sentra dari Kabupaten Aceh Barat, jalan raya yang beraspal mulus, berbanding terbalik saat menoleh ke daerah pedalaman kabupaten ini.

Sebut saja Pante Ceureumen dan Woyla Timur, 2 kecamatan yang cukup representative untuk melihat potret sesungguhnya dari kabupaten yang sering disebut sudah berubah glamour pasca tsunami. Ketika Meulaboh semakin dipoles dan terus saja di make up, Pante Ceureumen dan Woyla Timur masih miskin meski untuk sekedar mendapat ‘lipstick’ murah.

Oleh konflik, sebuah potret baru terpajang. Dampak konflik, menyebabkan 55% masyarakat Aceh Barat hidup dalam kemiskinan. Total penduduk miskin di daerah ini, Sungai Mas (90,08 % dari total keluarga dalam kecamatan tersebut), kemudian Woyla timur (86,85%), Meureubo (77,26%), Woyla Barat (77,16%) dan Pantee Ceureumen (43,48%)[1].

Pante Ceureumen

Sebelumnya, Pante Ceureumen merupakan bagian dari Kaway XVI hingga terjadinya pemekaran pada dekade awal 2000-an, berbarengan dengan pemekaran Kecamatan baru lainnya, Meureuboe, Woyla Timur, Woyla Barat dan Panton Reu.

Dari laporan BPS, pada 2005 jumlah penduduk di Pantee Ceureumen adalah 9101 orang (laki-laki: 4509, perempuan: 4592 orang). Secara KK terdiri dari 2.386 KK, dan 58.09% (1.386 KK) adalah masyarakat miskin.

BN Investigasi sempat secara langsung menelusuri Kecamatan ini, dari Desa Pulo Teungoeh yang terletak bersisian dengan pusat kecamatan, hingga ke desa paling pelosok, Lawet, Jambak dan Cangge. Kendati sebenarnya masih ada 1 desa lainnya yang terletak paling ujung dan paling terbelakang dilihat dari sudut akses jalan menuju kesana.

Pante Ceureumen sebagai pusat kecamatan terlihat memang sudah lebih lumayan dalam hal akses transportasi dan tingkat pembangunan. Disini sudah mulai banyak didirikan bangunan baru, baik Puskesmas yang tergolong sudah sangat bagus, kemudian juga dari ketersediaan fasilitas pendidikan.

Melongok kembali ke desa yang lebih jauh di kecamatan ini (baca: Jambak dan Cangge), disini masyarakat hanya memiliki listrik tenaga surya, tentu fasilitas ini hanya bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat terbatas. Sedangkan jalanan yang harus dilalui dari dan ke desa tersebut hanya terdiri dari jalanan yang masih sangat alami, mirip dengan jalan setapak, dengan konstruksi tanah dan bebatuan gunung. Akan sangat menyulitkan untuk bisa ke desa-desa ini saat hujan ataupun juga pagi, tanah lembab dan licin tentu akan sangat berisiko untuk bisa dilalui dengan sepeda motor. Sedikit saja saja kurang hati-hati, siap-siap saja dengan konsekuensi patah dan luka dengan jalanan terjal dan curam disana.

Dari segi fasilitas, SD 9 unit, SLTP 3 unit dan SLTA hanya 2 unit. Fasilitas kesehatan hanya 1 Puskesmas di Pusat Kecamatan dengan 4 Pustu. Di beberapa desa samasekali sekali sangat mengecewakan—kondisi akses layanan kesehatan— Sikundo, Jambak, Lawet, and Cangge. Ke-4 desa tersebut juga tidak memiliki akses listrik dari PLN. Beberapa desa masih sangat kesulitan dari sisi transportasi. Mereka hanya bisa berjalan kaki saja untuk bisa menjangkau Pantee Ceureumen sebagai pusat kecamatan.

Sulitnya mendapat layanan kesehatan

Beberapa warga yang ditemui sempat mengeluhkan banyak persoalan kepada BN Investigasi. Hasbi (62), salah seorang warga desa Cangge yang ditemui dirumahnya menuturkan,”Kami disini memang sangat tertinggal, untuk bisa keluar dari desa saja kami masih harus jalan kaki, sedangkan Honda (sebutan untuk sepeda motor, meski jenisnya bukan merek Honda), hanya berani kita minta pinjam ke tetangga yang memilikinya saat ada keperluan mendesak saja, missal ada keluarga yang sakit, jika tidak tentu kami harus jalan kaki.”

Tihawa (24), janda beranak 1, memiliki uneg-uneg terkait dengan kepedulian pemerintah terhadap penduduk desa,

”Kami disini untuk tenaga kesehatan saja tidak ada, kalaupun kami sakit, seringnya kami dahulukan mengambil obat-obatan alami saja, itupun jika sesuai denga penyakitnya. Karena kami tidak punya tenaga kesehatan disini, jadi kalau sakit kami tebak-tebak saja, sepertinya ini demam dan sebagainya dan terus kami coba carikan obat-obatan berupa dedaunan yang diharapkan bisa menjadi obat untuk itu. Namun, tetap saja sangat jarang bisa menolong, kalau sudah parah baru dibawa ke mantri (baca: paramedis) yang ada di Keutambang—5 KM dari desa Cangge—.

BN Investigasi juga sempat menanyakan bagaimana kepedulian pemerintah terhadap janda selama ini yang ada di Desa Cangge, Tihawa hanya bisa mendesah,

”Saya tidak pernah berharap dengan adanya bantuan dari pemerintah kepada janda. Kami disini sebenarnya, apakah janda atau bukan hampir sama saja. Cuma kami karena sudah tidak punya suami lagi saja, lainnya kami tetap mencari nafkah, kondisinya kami dengan mereka yang punya suami juga tidak jauh berbeda, tetap saja miskin”.

Korban Erosi yang Belum Terbantu

Syarifuddin, Keuchik Gampoeng Cangge menyorot persoalan rumah yang pernah dijanjikan oleh pemerintah akan diberikan kepada 36 warga yang terkena musibah erosi

Beberapa tahun yang lalu,

“Setahu saya rumah tersebut yang akan dijadikan bantuan untuk warga yang terkena musibah di desa Cangge ini sudah di Tender, tapi yang menjadi kebingungan saya adalah, kok bisa rumah tersebut dialihkan kepada Warga Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan. Kasihan kan masyarakat saya disini. Mereka untuk hari ini ada yang bahkan terpaksa pindah ke desa lain atau membangun sendiri rumah seadanya sebagai pengganti rumah yang sudah ditelan banjir tahun lalu itu. Ini masih menjadi misteri bagi kami, heran saya” Keluhnya.

Geuchik konflik

Orang-orang tua di desa-desa Pante Cureumen sering mengeluarkan istilah Geuchik Konflik dan yang bukan konflik, meski kandungan makna dari istilah yang disebutkan mereka ini bisa saja berbeda tetapi kandungannya menunjuk pada figure-figure Geuchik yang memegang jabatan saat masa konflik dengan yang menjabat saat pasca konflik. Idris, salah seorang warga Lawet yang pernah menjadi salah seorang aparatur Gampoeng pada masa konflik menuturkan,”masa itu hampir tidak ada yang berani untuk menjadi Geuchik atau aparat Gampoeng lainnya. Bayangkan, kalau ada GAM yang masuk kampong saja, pasti nanti yang akan menjadi sasaran pertama aparat militer adalah Geuchik dan aparat gampoeng. Begitu juga sebaliknya kalau ada GAM yang masuk ke kampong untuk mengambil ‘pajak Nanggroe’, kalau tidak diberikan biasanya Geuhik dibawa ke gunung (istilah untuk: diculik, disandera). Teuku Husaini, Geuchik Gampoeng Pulo Teungoh yang menjabat sebagai geuchik dari sejak masa konflik hingga sekarang, terkait apresiasi pemerintah terhadap pengabdian geuchik, juga menuturkan

“kami tidak mengharapkan hal itu sebenarnya (apresiasi), karena berharap juga tidak akan pernah ada, tahulah dari dulu geuchik itu terkenal Cuma untuk menanggung tanggung jawab saja, berbicara soal penghargaan, tidak akan pernah ada itu.”Mirisnya

Bangga di Pukul.

Pemandangan menarik saat berbicara tentang konflik bersama warga di beberapa desa tersebut adalah, pengalaman-pengalaman pahit di ketika konflik yang di mata mereka sudah terlihat sebagai sebuah ‘nostalgia’ yang indah.

Tambahan:

Dampak konflik, menyebabkan 55% masyarakat Aceh Barat hidup dalam kemiskinan. Total penduduk miskin di daerah ini, Sungai Mas (90,08 % dari total keluarga dalam kecamatan tersebut), kemudian Woyla timur (86,85%), Meureubo (77,26%), Woyla Barat (77,16%) dan Pantee Ceureumen (43,48%)[2].

………………

Kecamatan Pantee Ceureumen memiliki luas 490,25 KM2 (Kecamatan terbesar ketiga se-Aceh Barat).

……………………

Utara berbatasan dengan Kaway XVI. Barat dengan Nagan Raya dan sisi Timur berbatasan dengan Panton Reu

……………….

Tabel: Recapitulation Data Victim of the conflict in Aceh Barat District (2007)

No

Sub District

Housing

Human

Fired

Distroy

Leaved

Ill

Cacat

Died

1

Arongan Lambalek

41

103

51

9

15

67

2

Bubon

5

20

11

2

4

35

3

Johan Pahlawan

1

0

0

0

0

48

4

Kaway XVI

34

97

47

18

18

78

5

Meureubo

180

39

167

1

4

41

6

Pante Ceureumen

22

42

80

27

22

82

7

Panton Reu

20

81

65

30

30

55

8

Samatiga

0

1

0

2

9

27

9

Sungai Mas

34

27

50

7

16

88

10

Woyla

9

23

44

22

39

63

11

Woyla Timur

33

30

41

9

9

49

12

Woyla Barat

49

42

392

0

3

23

TOTAL

428

505

948

127

169

656

Source : BRA Kabupaten Aceh Barat 2008


[1] Aceh Barat dalam angka, 2005

[2] Aceh Barat dalam angka, 2005

22
Sep
08

Investigasi: Menelusuri Jejak Maksiat di Aceh Barat

Melepas ‘Rindu’ di Pinggiran Jalan

  • Selingkuh yang Tak Indah
  • Pelajar SLTP: Miras Menjadi Soft Drink
  • Shabu-shabu tidak lagi Tabu

Tibanya Ramadhan yang semestinya menjadi bulan

penuh peluang untuk memupuk mental islami tidak serta merta bisa memberi pengaruh kuat terhadap berkurangnya praktik asusila. Praktik ini masih marak terjadi di Aceh Barat.

Abu (25), tokoh muda Desa Suak Sigadeng menuturkan, akhir-akhir ini malah tindak maksiat di Meulaboh in semakin parah. Tidak peduli bulan puasa. Kami hampir tiap malam menangkap anak muda yang melakukan hubungan seks dipinggiran jalan, berdekatan dengan hutan.

Memasuki puasa yang ke 19, jam sudah menunjukkan Pukul 22.30, 2 orang siswa dari salah satu sekolah kejuruan di Meulaboh tertanggap di pinggiran hutan Jalan Kayee Puteh menuju arah GIP Lapang, sekitar 6 KM dari Kota Meulaboh. Proses penangkapan dilakukan oleh 3 pemuda desa Suak Raya yang secara kebetulan melewati jalan tersebut.

Saat kali pertama terlihat, kedua muda-mudi tersebut sedang melakukan hubungan yang belum seharusnya dilakukan itu dalam posisi berdiri.

Gadis bernama Seulanga, 16 (bukan nama sebenarnya) terlihat masih mengenakan jilbab utuh, namun dibawah, celana gadis ini sudah melorot kebawah. Bergegas ke 3 pemuda yang kebetulan melihat terjadinya aksi erotis 2 muda-mudi itu dengan serta merta mendekati, mengetahui adanya orang yang sedang mendekati mereka, bocah lelaki yang disebut-sebut bernama Murtadi (17) itu dengan cekatan melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke kali yang berada di dekatnya.

Secara tidak sengaja, Abu yang juga menjadi salah seorang yang ikut dalam penangkapan tersebut, dengan menggunakan HP yang memiliki senter mengarahkan senternya kea rah sigadis yang tampak bersiri termangu ditinggali pasangannya, dari sela paha sigadis mengalir lender, seperti kedua pasangan tersebut sudah mendapatkan orgasmenya, dan tentu saja belum sempat gadis ini menaikkan kembali celana dalamnya, sampai salah seorang dari 3 pemuda yang melakukan penangkapan tersebut memerintahkan gadis tersebut untuk mengenakan kembali celana dalamnya.

Selanjutnya, salah seorang dari ‘regu’ penjaga gampoeng ini menghubungi rekan lainnya di desa untuk segera ke lokasi. Tidak lama, sekitar 15 orang pemuda desa Suak Raya mendatangi lokasi guna melakukan pencarian lelaki pasangan gadis ini. Hingga pukul 00. 00 WIB dilakukan pencarian di sekitar kali dan rawa-rawa di sekitar TKP, sayangnya tidak urung ditemukan. Hingga para pemuda desa tersebut menghentikan proses pencarian itu, dan membawa gadis ini ke Balai Desa Suak Raya yang berjarak sekitar 3 KM dari lokasi.

Setiba di Balai Desa, warga desa terlihat berkerumun berdatangan menyaksikan gadis yang masih sangat belia ini. Dari interogasi yang dilakukan oleh pihak aparat desa setempat, terungkap beberapa pengakuan dari gadis ini yang bahwa sebelumnya pada sekitar bulan April 2008, Murtadi yang juga merupakan kekasih dari Seulanga sudah merenggut keperawanannya di rumah lelaki belia itu.

Dan pertama sekali, kejadian itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Hanya saja, Seulanga juga mengakui, ia merasa sangat di zalimi, seperti saat setelah kejadian yang pertama, lelaki kekasihnya itu meminta gadis ini untuk mencium kakinya, jika tidak ia mengancam tidak akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi nantinya terhadap Seulanga.

“Ini kali kedua saya melakukan ini dengannya” Ujar gadis ini dengan ekspresi malu-malu,”dan tadi itu sebenarnya saya mau ikut dengannya karena adanya undangan dari seorang teman di Suak Timah untu ikut berbuka bersama, tapi karena kami sudah pulang tengah malam, di pinggiran hutan itu saya di ancam akan diturunkan di pinggir hutan kalau saya tidak mau meladeni permintaannya.”

Pukul 00.45, beberapa warga berinisiatif untuk menjemput wali gadis ini yang bertempat tinggal di Kampung Belakang, Meulaboh, dan dibawa serta untuk menyelesaikan persoalan asusila tersebut. Pada awalnya, sebenarnya warga mendatangi terlebih dahulu wali dari lelaku pelaku tindakan yang mengarah ke pemerkosaan itu, disebut-sebut beralamat di Rundeng, juga kota yang sama.Tetapi disebabkan oleh alamat yang tidak jelas maka mereka memutuskan untuk menjemput wali dari gadis ini saja.

Murtadi, remaja tanggung yang melarikan diri, berdasarkan penuturan dari Seulanga adalah salah seorang staf di Kantor Bea Cukai Nagan Raya. ‘petualangan’nya malam itu terhenti di tangan pemuda Seuneubok yang mengakapnya karena menduga ia maling, disebabkan oleh kondisinya yang basah kuyup.

Faktor Penerangan Listrik

Abu, yang tergolong aktif menangkap remaja-remaja luar yang melakukan tindak mesum di desanya berpendapat,”sepertinya ini di sebabkan oleh persoalan penerangan desa yang tidak memadai, lihat saja, lampu-lampu di pinggir jalan hanya ada beberapa saja, lainnya gelap. Disini, lokasi menuju jalan ke SMU I yang baru dibangun itu seringkali kami melakukan penangkapan, hampir setiap minggu. Ini tentu membuat remaja-remaja yang sudah tidak sanggup membendung hasrat mereka mengira ini sebagai tempat yang sangat layak untuk melakukan hubungan itu. Mungkin dikiranya akan sulit untuk diketahui oleh orang lain. Padahal kami disini, sampai sejauh cukup menjaga desa ini agar tidak terkotori dengan tindak-tanduk anak-anak muda yang melanggar Syariat Islam”

Kejadian Mesum di Bumi Teuku Umar itu tidak terhenti di situ, dalam waktu yang hampir bersamaan, di Desa Suak Sigadeng, 2 KM dari pusat Kota Meulaboh juga dilakukan penangkapan terhadap 2 remaja dengan kasus yang serupa. Disini, pemuda yang melakukan tindak yang mengundang amarah warga itu sempat di amuk massa.

Berawal dari Pacaran, selanjutnya…..

BN Investigasi juga melakukan penelusuran terhadap kejadian yang mirip, mendapatkan informasi tambahan terkait dengan penyebab yang sering melatari terjadinya tindak demikian. Amel, 16 (bukan nama yang sebenarnya), salah seorang siswi di sebuah sekolah yang mengangkat nama agama, mengakui, ia sendiri sudah mengenal seks sejak berusia 15 tahun, dan praktik itu sudah dilakukannya bersama pacarnya,”saya melakukan itu karena pacaran sih pada awalnya, terus karena dia sudah membelikan saya banyak sekali pakaian, sedangkan orangtua saya tidak punya. Kemarin-kemarin, dia Cuma minta cium aja, tapi lama-kelamaan dia minta lebih. Saya pernah minta putus karena sudah merasa tidak nyaman dengan sikapnya, tapi dia mengancam saya untuk mengembalikan semua yang sudah diberikan. Aku tentunya tidak punya duit untuk kembalikan semua yang pernah diberikannya. Jadinya, aku berikan aja apa yang dimintanya.”

Nyaris di Renggut

Di Pantee Ceureumen, Kecamatan paling pelosok Aceh Barat Barat, Bungoeng (16), juga bukan nama yang sebenarnya, salah seorang siswi sekolah kejuruan di Pante Ceureumen, gadis yang juga masih belia ini nyaris di perkosa oleh lelaki yang berasal dari desa tetangganya, Keutambang. Terjadi di Desa Jambak, 8 KM dari Keutambang, dan sempat menjadi pembicaraan hangat warga se-kecamatan.

Dari pengakuan warga yang berhasil di gali BN Investigasi yang kebetulan sedang berada di pusat kecamatan, kejadian itu bermula dari keadaan desa yang lengang, umumnya warga sedang berada di lading dan di sawah. Bungoeng sedang berada di rumahnya tanpa ada yang mengawaninya. Tak lama, seorang pria berbadan tegap datang dan dengan beringas memaksanya untuk meladeni nafsu binatang lelaki yang sudah beristri itu.

Tidak disitu saja, lelaki ini mencoba mencekik saat Bungoeng sedang berupaya untuk teriak. Beruntung, kendati Bungoeng tercekik sedemikian rupa, dalam posisi tetap melawan kebuasan lelaki itu, Bungoeng bekesempatan melepaskan cekikan sesaat dan memanfaatkan waktu ‘jeda’ beberapa menit itu untuk berteriak keras. Sehingga terdengar oleh salah seorang pemuda yang kebetulan juga sedang berada di rumahnya, kendati agak berjauhan. Dari situ, lelaki yang mencoba melakukan pemerkosaan itu diringkus warga dan diserahkan kepada pihak Polsek Pantee Ceureumen. Ironisnya, saat sedang dibawa ke Mapolsek, tersangka berhasil melarikan diri.

Selingkuh yang tak Indah

Selain itu, warga juga menangkap pelaku perselingkuhan yang melibatkan seorang ibu muda di Suak Timah. Perempuan beranak 1 berinisial L (23), ditangkap warga saat sedang bermesraan dengan seorang lelaki yang bukan suami sahnya. Kejadian ini berhasil dipergoki oleh paman L sendiri, karena kejadian itu juga terjadi dirumah paman L ini. Dari beberapa narasumber yang ditemui BN Investigasi, perempuan tersebut sebenarnya melakukan itu disebabkan oleh kurang terpuaskannya nafsu biologis oleh suaminya yang beristri 2.

Pun, awal terjadinya pernikahan L dengan suaminya juga bukan dikarenakan persetujuannya, namun lebih dikarenakan factor ketidak-mampuan orang tua L melunasi hutang-hutang pada lelaki yang sekarang menjadi suami L. Kebetulan suami L adalah seorang pengusaha yang berprofesi sebagai penjual mas di Kota Meulaboh. Dari ketidak mampuan orang tua L melunasi hutang-hutangnya, akhirnya diperoleh kesepakatan untuk menikahkan saja anak mereka L dengan lelaki yang sekarang sah menjadi suaminya,”mungkin karena persoalan itu sehingga L ini memilih meluapkan ketidak puasannya dengan cara berselingkuh,”ujar seorang warga yang tidak mau dituliskan namanya.

Miras sebagai Soft Drink

Selain praktik mesum, miras juga masih menjadi konsumsi yang masih dengan mudah didapat di Tanah Rencong ini. BN Investigasi sempat mendeteksi beberapa lokasi yang berdekatan dengan Terminal Bus Kota Meulaboh. Terlihat, proses jual beli memang dilakukan dengan cara yang bisa disebut rahasia. Sepertinya antara konsumen dengan penjual sudah terjalin hubungan yang cukup akrab.

J, salah seorang konsumen miras yang berhasil di wawancarai BN Investigasi menuturkan,”saya sudah sangat tergantung dengan miras ini, biarpun sekarang sudah ada pemberlakuan syariat Islam, tapi saat kita tidak sanggup tinggalkannya, apa mau di kata, iya harus tetap dong jalan terus.”

“Sekarang ini, minuman ini jangan dikira menjadi kebutuhan kami yang kere saja. Mereka yang pejabat dan konsultan banyak yang menjadi teman-teman saya untuk minum bareng. Cuman, ya saling jaga rahasialah. Kalau tidak tentu akan sangat kesulitan bagi kami untuk dapatkan ini. Karena memang sudah agak payah bisa mendapat ini (baca:miras).” Lanjutnya.

Faj,15. pelajar di salah satu SLTP di Meulaboh juga menambahkan,”saya juga bisa membeli itu. Biasanya kami ‘gotong royong’ untuk bisa beli minuman ini. Dan sering malah kami minum di lokasi sekolah, di belakang sekolah, guru-guru juga gak akan tahu.”

Nyabu tidak Tabu

Di tempat terpisah, Kh (30) menyebutkan,”kalau miras itu sudah bukan rahasia. Shabu-shabu saja tidak lagi tabu disini, kalau anda inginkannya, saya bisa dapatkan dengan mudah. Saya bahkan di tempat umum kaya di Pante Ujoeng Kareung sering nyabu disana. Ada memang orang yang heran melihat kami kongkow di pantai dengan cara yang memang mengundang curiga orang, tapi sejauh ini kami belum tertangkap. Saya sendiri pernah hamper tertangkap saat ada razia gabungan, untung saja saya sedang belum nyabu, jadi bisa dengan sigap melarikan diri. Kalau kita nyabu, mereka gak akan mengejarnya, Percaya deh” Ujarnya meyakinkan

Miris, tetapi beginilah realitas yang masih terpampang. Dari sini bisa diambil kesimpulan pada masih banyaknya celah pada possibilitas terjadinya praktik-praktik yang bertentangan dengan moral dan agama ini. Masyarakat, tentu dengan kemampuan yang mereka miliki sudah menunjukkan peran serta menggawangi pelaksanaan Syariat Islam Di Bumi Aceh Darussalam, namun tetap saja masih banyak lini lainnya yang harus di benahi. Lembaga pendidikan, peran dai, lembaga Syariat Islam (Wilayatul Hisbah), dari sini dituntut untuk lebih berperan aktif untuk mengurangi terjadi praktik-praktik demikian rupa.(fickar)