Pante Ceureumen
Potret ‘Antagonisme’ Konflik
&
Ketertinggalan Aceh Barat
Melihat pesatnya perkembangan Kota Meulaboh yang merupakan sentra dari Kabupaten Aceh Barat, jalan raya yang beraspal mulus, berbanding terbalik saat menoleh ke daerah pedalaman kabupaten ini.
Sebut saja Pante Ceureumen dan Woyla Timur, 2 kecamatan yang cukup representative untuk melihat potret sesungguhnya dari kabupaten yang sering disebut sudah berubah glamour pasca tsunami. Ketika Meulaboh semakin dipoles dan terus saja di make up, Pante Ceureumen dan Woyla Timur masih miskin meski untuk sekedar mendapat ‘lipstick’ murah.
Oleh konflik, sebuah potret baru terpajang. Dampak konflik, menyebabkan 55% masyarakat Aceh Barat hidup dalam kemiskinan. Total penduduk miskin di daerah ini, Sungai Mas (90,08 % dari total keluarga dalam kecamatan tersebut), kemudian Woyla timur (86,85%), Meureubo (77,26%), Woyla Barat (77,16%) dan Pantee Ceureumen (43,48%)[1].
Pante Ceureumen
Sebelumnya, Pante Ceureumen merupakan bagian dari Kaway XVI hingga terjadinya pemekaran pada dekade awal 2000-an, berbarengan dengan pemekaran Kecamatan baru lainnya, Meureuboe, Woyla Timur, Woyla Barat dan Panton Reu.
Dari laporan BPS, pada 2005 jumlah penduduk di Pantee Ceureumen adalah 9101 orang (laki-laki: 4509, perempuan: 4592 orang). Secara KK terdiri dari 2.386 KK, dan 58.09% (1.386 KK) adalah masyarakat miskin.
BN Investigasi sempat secara langsung menelusuri Kecamatan ini, dari Desa Pulo Teungoeh yang terletak bersisian dengan pusat kecamatan, hingga ke desa paling pelosok, Lawet, Jambak dan Cangge. Kendati sebenarnya masih ada 1 desa lainnya yang terletak paling ujung dan paling terbelakang dilihat dari sudut akses jalan menuju kesana.
Pante Ceureumen sebagai pusat kecamatan terlihat memang sudah lebih lumayan dalam hal akses transportasi dan tingkat pembangunan. Disini sudah mulai banyak didirikan bangunan baru, baik Puskesmas yang tergolong sudah sangat bagus, kemudian juga dari ketersediaan fasilitas pendidikan.
Melongok kembali ke desa yang lebih jauh di kecamatan ini (baca: Jambak dan Cangge), disini masyarakat hanya memiliki listrik tenaga surya, tentu fasilitas ini hanya bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat terbatas. Sedangkan jalanan yang harus dilalui dari dan ke desa tersebut hanya terdiri dari jalanan yang masih sangat alami, mirip dengan jalan setapak, dengan konstruksi tanah dan bebatuan gunung. Akan sangat menyulitkan untuk bisa ke desa-desa ini saat hujan ataupun juga pagi, tanah lembab dan licin tentu akan sangat berisiko untuk bisa dilalui dengan sepeda motor. Sedikit saja saja kurang hati-hati, siap-siap saja dengan konsekuensi patah dan luka dengan jalanan terjal dan curam disana.
Dari segi fasilitas, SD 9 unit, SLTP 3 unit dan SLTA hanya 2 unit. Fasilitas kesehatan hanya 1 Puskesmas di Pusat Kecamatan dengan 4 Pustu. Di beberapa desa samasekali sekali sangat mengecewakan—kondisi akses layanan kesehatan— Sikundo, Jambak, Lawet, and Cangge. Ke-4 desa tersebut juga tidak memiliki akses listrik dari PLN. Beberapa desa masih sangat kesulitan dari sisi transportasi. Mereka hanya bisa berjalan kaki saja untuk bisa menjangkau Pantee Ceureumen sebagai pusat kecamatan.
Sulitnya mendapat layanan kesehatan
Beberapa warga yang ditemui sempat mengeluhkan banyak persoalan kepada BN Investigasi. Hasbi (62), salah seorang warga desa Cangge yang ditemui dirumahnya menuturkan,”Kami disini memang sangat tertinggal, untuk bisa keluar dari desa saja kami masih harus jalan kaki, sedangkan Honda (sebutan untuk sepeda motor, meski jenisnya bukan merek Honda), hanya berani kita minta pinjam ke tetangga yang memilikinya saat ada keperluan mendesak saja, missal ada keluarga yang sakit, jika tidak tentu kami harus jalan kaki.”
Tihawa (24), janda beranak 1, memiliki uneg-uneg terkait dengan kepedulian pemerintah terhadap penduduk desa,
”Kami disini untuk tenaga kesehatan saja tidak ada, kalaupun kami sakit, seringnya kami dahulukan mengambil obat-obatan alami saja, itupun jika sesuai denga penyakitnya. Karena kami tidak punya tenaga kesehatan disini, jadi kalau sakit kami tebak-tebak saja, sepertinya ini demam dan sebagainya dan terus kami coba carikan obat-obatan berupa dedaunan yang diharapkan bisa menjadi obat untuk itu. Namun, tetap saja sangat jarang bisa menolong, kalau sudah parah baru dibawa ke mantri (baca: paramedis) yang ada di Keutambang—5 KM dari desa Cangge—.
BN Investigasi juga sempat menanyakan bagaimana kepedulian pemerintah terhadap janda selama ini yang ada di Desa Cangge, Tihawa hanya bisa mendesah,
”Saya tidak pernah berharap dengan adanya bantuan dari pemerintah kepada janda. Kami disini sebenarnya, apakah janda atau bukan hampir sama saja. Cuma kami karena sudah tidak punya suami lagi saja, lainnya kami tetap mencari nafkah, kondisinya kami dengan mereka yang punya suami juga tidak jauh berbeda, tetap saja miskin”.
Korban Erosi yang Belum Terbantu
Syarifuddin, Keuchik Gampoeng Cangge menyorot persoalan rumah yang pernah dijanjikan oleh pemerintah akan diberikan kepada 36 warga yang terkena musibah erosi
Beberapa tahun yang lalu,
“Setahu saya rumah tersebut yang akan dijadikan bantuan untuk warga yang terkena musibah di desa Cangge ini sudah di Tender, tapi yang menjadi kebingungan saya adalah, kok bisa rumah tersebut dialihkan kepada Warga Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan. Kasihan kan masyarakat saya disini. Mereka untuk hari ini ada yang bahkan terpaksa pindah ke desa lain atau membangun sendiri rumah seadanya sebagai pengganti rumah yang sudah ditelan banjir tahun lalu itu. Ini masih menjadi misteri bagi kami, heran saya” Keluhnya.
Geuchik konflik
Orang-orang tua di desa-desa Pante Cureumen sering mengeluarkan istilah Geuchik Konflik dan yang bukan konflik, meski kandungan makna dari istilah yang disebutkan mereka ini bisa saja berbeda tetapi kandungannya menunjuk pada figure-figure Geuchik yang memegang jabatan saat masa konflik dengan yang menjabat saat pasca konflik. Idris, salah seorang warga Lawet yang pernah menjadi salah seorang aparatur Gampoeng pada masa konflik menuturkan,”masa itu hampir tidak ada yang berani untuk menjadi Geuchik atau aparat Gampoeng lainnya. Bayangkan, kalau ada GAM yang masuk kampong saja, pasti nanti yang akan menjadi sasaran pertama aparat militer adalah Geuchik dan aparat gampoeng. Begitu juga sebaliknya kalau ada GAM yang masuk ke kampong untuk mengambil ‘pajak Nanggroe’, kalau tidak diberikan biasanya Geuhik dibawa ke gunung (istilah untuk: diculik, disandera). Teuku Husaini, Geuchik Gampoeng Pulo Teungoh yang menjabat sebagai geuchik dari sejak masa konflik hingga sekarang, terkait apresiasi pemerintah terhadap pengabdian geuchik, juga menuturkan
“kami tidak mengharapkan hal itu sebenarnya (apresiasi), karena berharap juga tidak akan pernah ada, tahulah dari dulu geuchik itu terkenal Cuma untuk menanggung tanggung jawab saja, berbicara soal penghargaan, tidak akan pernah ada itu.”Mirisnya
Bangga di Pukul.
Pemandangan menarik saat berbicara tentang konflik bersama warga di beberapa desa tersebut adalah, pengalaman-pengalaman pahit di ketika konflik yang di mata mereka sudah terlihat sebagai sebuah ‘nostalgia’ yang indah.
Tambahan:
Dampak konflik, menyebabkan 55% masyarakat Aceh Barat hidup dalam kemiskinan. Total penduduk miskin di daerah ini, Sungai Mas (90,08 % dari total keluarga dalam kecamatan tersebut), kemudian Woyla timur (86,85%), Meureubo (77,26%), Woyla Barat (77,16%) dan Pantee Ceureumen (43,48%)[2].
………………
Kecamatan Pantee Ceureumen memiliki luas 490,25 KM2 (Kecamatan terbesar ketiga se-Aceh Barat).
……………………
Utara berbatasan dengan Kaway XVI. Barat dengan Nagan Raya dan sisi Timur berbatasan dengan Panton Reu
……………….

Tabel: Recapitulation Data Victim of the conflict in Aceh Barat District (2007)
|
No |
Sub District |
Housing |
Human |
||||
|
Fired |
Distroy |
Leaved |
Ill |
Cacat |
Died |
||
|
1 |
Arongan Lambalek |
41 |
103 |
51 |
9 |
15 |
67 |
|
2 |
Bubon |
5 |
20 |
11 |
2 |
4 |
35 |
|
3 |
Johan Pahlawan |
1 |
0 |
0 |
0 |
0 |
48 |
|
4 |
Kaway XVI |
34 |
97 |
47 |
18 |
18 |
78 |
|
5 |
Meureubo |
180 |
39 |
167 |
1 |
4 |
41 |
|
6 |
Pante Ceureumen |
22 |
42 |
80 |
27 |
22 |
82 |
|
7 |
Panton Reu |
20 |
81 |
65 |
30 |
30 |
55 |
|
8 |
Samatiga |
0 |
1 |
0 |
2 |
9 |
27 |
|
9 |
Sungai Mas |
34 |
27 |
50 |
7 |
16 |
88 |
|
10 |
Woyla |
9 |
23 |
44 |
22 |
39 |
63 |
|
11 |
Woyla Timur |
33 |
30 |
41 |
9 |
9 |
49 |
|
12 |
Woyla Barat |
49 |
42 |
392 |
0 |
3 |
23 |
|
|
TOTAL |
428 |
505 |
948 |
127 |
169 |
656 |
Source : BRA Kabupaten Aceh Barat 2008


