22
Sep
08

Investigasi: Menelusuri Jejak Maksiat di Aceh Barat

Melepas ‘Rindu’ di Pinggiran Jalan

  • Selingkuh yang Tak Indah
  • Pelajar SLTP: Miras Menjadi Soft Drink
  • Shabu-shabu tidak lagi Tabu

Tibanya Ramadhan yang semestinya menjadi bulan

penuh peluang untuk memupuk mental islami tidak serta merta bisa memberi pengaruh kuat terhadap berkurangnya praktik asusila. Praktik ini masih marak terjadi di Aceh Barat.

Abu (25), tokoh muda Desa Suak Sigadeng menuturkan, akhir-akhir ini malah tindak maksiat di Meulaboh in semakin parah. Tidak peduli bulan puasa. Kami hampir tiap malam menangkap anak muda yang melakukan hubungan seks dipinggiran jalan, berdekatan dengan hutan.

Memasuki puasa yang ke 19, jam sudah menunjukkan Pukul 22.30, 2 orang siswa dari salah satu sekolah kejuruan di Meulaboh tertanggap di pinggiran hutan Jalan Kayee Puteh menuju arah GIP Lapang, sekitar 6 KM dari Kota Meulaboh. Proses penangkapan dilakukan oleh 3 pemuda desa Suak Raya yang secara kebetulan melewati jalan tersebut.

Saat kali pertama terlihat, kedua muda-mudi tersebut sedang melakukan hubungan yang belum seharusnya dilakukan itu dalam posisi berdiri.

Gadis bernama Seulanga, 16 (bukan nama sebenarnya) terlihat masih mengenakan jilbab utuh, namun dibawah, celana gadis ini sudah melorot kebawah. Bergegas ke 3 pemuda yang kebetulan melihat terjadinya aksi erotis 2 muda-mudi itu dengan serta merta mendekati, mengetahui adanya orang yang sedang mendekati mereka, bocah lelaki yang disebut-sebut bernama Murtadi (17) itu dengan cekatan melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke kali yang berada di dekatnya.

Secara tidak sengaja, Abu yang juga menjadi salah seorang yang ikut dalam penangkapan tersebut, dengan menggunakan HP yang memiliki senter mengarahkan senternya kea rah sigadis yang tampak bersiri termangu ditinggali pasangannya, dari sela paha sigadis mengalir lender, seperti kedua pasangan tersebut sudah mendapatkan orgasmenya, dan tentu saja belum sempat gadis ini menaikkan kembali celana dalamnya, sampai salah seorang dari 3 pemuda yang melakukan penangkapan tersebut memerintahkan gadis tersebut untuk mengenakan kembali celana dalamnya.

Selanjutnya, salah seorang dari ‘regu’ penjaga gampoeng ini menghubungi rekan lainnya di desa untuk segera ke lokasi. Tidak lama, sekitar 15 orang pemuda desa Suak Raya mendatangi lokasi guna melakukan pencarian lelaki pasangan gadis ini. Hingga pukul 00. 00 WIB dilakukan pencarian di sekitar kali dan rawa-rawa di sekitar TKP, sayangnya tidak urung ditemukan. Hingga para pemuda desa tersebut menghentikan proses pencarian itu, dan membawa gadis ini ke Balai Desa Suak Raya yang berjarak sekitar 3 KM dari lokasi.

Setiba di Balai Desa, warga desa terlihat berkerumun berdatangan menyaksikan gadis yang masih sangat belia ini. Dari interogasi yang dilakukan oleh pihak aparat desa setempat, terungkap beberapa pengakuan dari gadis ini yang bahwa sebelumnya pada sekitar bulan April 2008, Murtadi yang juga merupakan kekasih dari Seulanga sudah merenggut keperawanannya di rumah lelaki belia itu.

Dan pertama sekali, kejadian itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Hanya saja, Seulanga juga mengakui, ia merasa sangat di zalimi, seperti saat setelah kejadian yang pertama, lelaki kekasihnya itu meminta gadis ini untuk mencium kakinya, jika tidak ia mengancam tidak akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi nantinya terhadap Seulanga.

“Ini kali kedua saya melakukan ini dengannya” Ujar gadis ini dengan ekspresi malu-malu,”dan tadi itu sebenarnya saya mau ikut dengannya karena adanya undangan dari seorang teman di Suak Timah untu ikut berbuka bersama, tapi karena kami sudah pulang tengah malam, di pinggiran hutan itu saya di ancam akan diturunkan di pinggir hutan kalau saya tidak mau meladeni permintaannya.”

Pukul 00.45, beberapa warga berinisiatif untuk menjemput wali gadis ini yang bertempat tinggal di Kampung Belakang, Meulaboh, dan dibawa serta untuk menyelesaikan persoalan asusila tersebut. Pada awalnya, sebenarnya warga mendatangi terlebih dahulu wali dari lelaku pelaku tindakan yang mengarah ke pemerkosaan itu, disebut-sebut beralamat di Rundeng, juga kota yang sama.Tetapi disebabkan oleh alamat yang tidak jelas maka mereka memutuskan untuk menjemput wali dari gadis ini saja.

Murtadi, remaja tanggung yang melarikan diri, berdasarkan penuturan dari Seulanga adalah salah seorang staf di Kantor Bea Cukai Nagan Raya. ‘petualangan’nya malam itu terhenti di tangan pemuda Seuneubok yang mengakapnya karena menduga ia maling, disebabkan oleh kondisinya yang basah kuyup.

Faktor Penerangan Listrik

Abu, yang tergolong aktif menangkap remaja-remaja luar yang melakukan tindak mesum di desanya berpendapat,”sepertinya ini di sebabkan oleh persoalan penerangan desa yang tidak memadai, lihat saja, lampu-lampu di pinggir jalan hanya ada beberapa saja, lainnya gelap. Disini, lokasi menuju jalan ke SMU I yang baru dibangun itu seringkali kami melakukan penangkapan, hampir setiap minggu. Ini tentu membuat remaja-remaja yang sudah tidak sanggup membendung hasrat mereka mengira ini sebagai tempat yang sangat layak untuk melakukan hubungan itu. Mungkin dikiranya akan sulit untuk diketahui oleh orang lain. Padahal kami disini, sampai sejauh cukup menjaga desa ini agar tidak terkotori dengan tindak-tanduk anak-anak muda yang melanggar Syariat Islam”

Kejadian Mesum di Bumi Teuku Umar itu tidak terhenti di situ, dalam waktu yang hampir bersamaan, di Desa Suak Sigadeng, 2 KM dari pusat Kota Meulaboh juga dilakukan penangkapan terhadap 2 remaja dengan kasus yang serupa. Disini, pemuda yang melakukan tindak yang mengundang amarah warga itu sempat di amuk massa.

Berawal dari Pacaran, selanjutnya…..

BN Investigasi juga melakukan penelusuran terhadap kejadian yang mirip, mendapatkan informasi tambahan terkait dengan penyebab yang sering melatari terjadinya tindak demikian. Amel, 16 (bukan nama yang sebenarnya), salah seorang siswi di sebuah sekolah yang mengangkat nama agama, mengakui, ia sendiri sudah mengenal seks sejak berusia 15 tahun, dan praktik itu sudah dilakukannya bersama pacarnya,”saya melakukan itu karena pacaran sih pada awalnya, terus karena dia sudah membelikan saya banyak sekali pakaian, sedangkan orangtua saya tidak punya. Kemarin-kemarin, dia Cuma minta cium aja, tapi lama-kelamaan dia minta lebih. Saya pernah minta putus karena sudah merasa tidak nyaman dengan sikapnya, tapi dia mengancam saya untuk mengembalikan semua yang sudah diberikan. Aku tentunya tidak punya duit untuk kembalikan semua yang pernah diberikannya. Jadinya, aku berikan aja apa yang dimintanya.”

Nyaris di Renggut

Di Pantee Ceureumen, Kecamatan paling pelosok Aceh Barat Barat, Bungoeng (16), juga bukan nama yang sebenarnya, salah seorang siswi sekolah kejuruan di Pante Ceureumen, gadis yang juga masih belia ini nyaris di perkosa oleh lelaki yang berasal dari desa tetangganya, Keutambang. Terjadi di Desa Jambak, 8 KM dari Keutambang, dan sempat menjadi pembicaraan hangat warga se-kecamatan.

Dari pengakuan warga yang berhasil di gali BN Investigasi yang kebetulan sedang berada di pusat kecamatan, kejadian itu bermula dari keadaan desa yang lengang, umumnya warga sedang berada di lading dan di sawah. Bungoeng sedang berada di rumahnya tanpa ada yang mengawaninya. Tak lama, seorang pria berbadan tegap datang dan dengan beringas memaksanya untuk meladeni nafsu binatang lelaki yang sudah beristri itu.

Tidak disitu saja, lelaki ini mencoba mencekik saat Bungoeng sedang berupaya untuk teriak. Beruntung, kendati Bungoeng tercekik sedemikian rupa, dalam posisi tetap melawan kebuasan lelaki itu, Bungoeng bekesempatan melepaskan cekikan sesaat dan memanfaatkan waktu ‘jeda’ beberapa menit itu untuk berteriak keras. Sehingga terdengar oleh salah seorang pemuda yang kebetulan juga sedang berada di rumahnya, kendati agak berjauhan. Dari situ, lelaki yang mencoba melakukan pemerkosaan itu diringkus warga dan diserahkan kepada pihak Polsek Pantee Ceureumen. Ironisnya, saat sedang dibawa ke Mapolsek, tersangka berhasil melarikan diri.

Selingkuh yang tak Indah

Selain itu, warga juga menangkap pelaku perselingkuhan yang melibatkan seorang ibu muda di Suak Timah. Perempuan beranak 1 berinisial L (23), ditangkap warga saat sedang bermesraan dengan seorang lelaki yang bukan suami sahnya. Kejadian ini berhasil dipergoki oleh paman L sendiri, karena kejadian itu juga terjadi dirumah paman L ini. Dari beberapa narasumber yang ditemui BN Investigasi, perempuan tersebut sebenarnya melakukan itu disebabkan oleh kurang terpuaskannya nafsu biologis oleh suaminya yang beristri 2.

Pun, awal terjadinya pernikahan L dengan suaminya juga bukan dikarenakan persetujuannya, namun lebih dikarenakan factor ketidak-mampuan orang tua L melunasi hutang-hutang pada lelaki yang sekarang menjadi suami L. Kebetulan suami L adalah seorang pengusaha yang berprofesi sebagai penjual mas di Kota Meulaboh. Dari ketidak mampuan orang tua L melunasi hutang-hutangnya, akhirnya diperoleh kesepakatan untuk menikahkan saja anak mereka L dengan lelaki yang sekarang sah menjadi suaminya,”mungkin karena persoalan itu sehingga L ini memilih meluapkan ketidak puasannya dengan cara berselingkuh,”ujar seorang warga yang tidak mau dituliskan namanya.

Miras sebagai Soft Drink

Selain praktik mesum, miras juga masih menjadi konsumsi yang masih dengan mudah didapat di Tanah Rencong ini. BN Investigasi sempat mendeteksi beberapa lokasi yang berdekatan dengan Terminal Bus Kota Meulaboh. Terlihat, proses jual beli memang dilakukan dengan cara yang bisa disebut rahasia. Sepertinya antara konsumen dengan penjual sudah terjalin hubungan yang cukup akrab.

J, salah seorang konsumen miras yang berhasil di wawancarai BN Investigasi menuturkan,”saya sudah sangat tergantung dengan miras ini, biarpun sekarang sudah ada pemberlakuan syariat Islam, tapi saat kita tidak sanggup tinggalkannya, apa mau di kata, iya harus tetap dong jalan terus.”

“Sekarang ini, minuman ini jangan dikira menjadi kebutuhan kami yang kere saja. Mereka yang pejabat dan konsultan banyak yang menjadi teman-teman saya untuk minum bareng. Cuman, ya saling jaga rahasialah. Kalau tidak tentu akan sangat kesulitan bagi kami untuk dapatkan ini. Karena memang sudah agak payah bisa mendapat ini (baca:miras).” Lanjutnya.

Faj,15. pelajar di salah satu SLTP di Meulaboh juga menambahkan,”saya juga bisa membeli itu. Biasanya kami ‘gotong royong’ untuk bisa beli minuman ini. Dan sering malah kami minum di lokasi sekolah, di belakang sekolah, guru-guru juga gak akan tahu.”

Nyabu tidak Tabu

Di tempat terpisah, Kh (30) menyebutkan,”kalau miras itu sudah bukan rahasia. Shabu-shabu saja tidak lagi tabu disini, kalau anda inginkannya, saya bisa dapatkan dengan mudah. Saya bahkan di tempat umum kaya di Pante Ujoeng Kareung sering nyabu disana. Ada memang orang yang heran melihat kami kongkow di pantai dengan cara yang memang mengundang curiga orang, tapi sejauh ini kami belum tertangkap. Saya sendiri pernah hamper tertangkap saat ada razia gabungan, untung saja saya sedang belum nyabu, jadi bisa dengan sigap melarikan diri. Kalau kita nyabu, mereka gak akan mengejarnya, Percaya deh” Ujarnya meyakinkan

Miris, tetapi beginilah realitas yang masih terpampang. Dari sini bisa diambil kesimpulan pada masih banyaknya celah pada possibilitas terjadinya praktik-praktik yang bertentangan dengan moral dan agama ini. Masyarakat, tentu dengan kemampuan yang mereka miliki sudah menunjukkan peran serta menggawangi pelaksanaan Syariat Islam Di Bumi Aceh Darussalam, namun tetap saja masih banyak lini lainnya yang harus di benahi. Lembaga pendidikan, peran dai, lembaga Syariat Islam (Wilayatul Hisbah), dari sini dituntut untuk lebih berperan aktif untuk mengurangi terjadi praktik-praktik demikian rupa.(fickar)


2 Tanggapan ke “Investigasi: Menelusuri Jejak Maksiat di Aceh Barat”


  1. 1 agam
    Maret 27, 2009 pukul 2:47 am

    itulah orang kita banyak yg munafik,penerapan syariat hanya untuk terlihat indah diluar saja tapi didalam amburadul,dibanda aceh prostitusi merajalela di hotel2 dan salon,kemana polisi syariat kok gak nangkap,yang bisa ditangkap cuma anak kecil pacaran diatas motor aja,dan cuma razia jilbab dan pakaian ketat sehingga timbul istilah di aceh….ATAS KERUDUNG DIBAWAH WARUNG….

  2. 2 Tal
    Juli 21, 2009 pukul 10:19 am

    Dunia memang sudah mendekati zaman jahiliah kembali. Agama hanya dianggap sebagai simbol identitas seperti KTP bukan lagi menjadi kewajiban yang harus dijalani dan dipatuhi. Cukup berat tugas orang tua sekarang. Apalagi teknologi informasi yang semakin canggih dan berkembang terus sehingga banyak info tentang pornografi di layar kaca komputer, TV dengan DVD dll sangat mudah diakses. Sangat sulit mencegah hal itu karena sudah mengglobal dan berkembang biak dgn cepat spt kanker ganas. Jadi bagaimana sekarang?
    Orang tua harus memprotet keluarganya masing-masing dgn nilai-nilai agama dan memberikan penjelasan tentang Sex dengan santun seperti yang dijelaskan dalam agama. Dan yang menjadi target paling utama mendapatkan pelajaran ini adalah anak-anak perempuan, sehingga mereka tidak mudah dipermainkan oleh nafsu yang salah yang dibangkitkan oleh calon-calon penzina pria yg masih mau kencur. Orang tua juga harus menjadi contoh teladan. Kalau orang tuanya juga berzina sebelumnya, bagaimana cara mendidik anak untuk menjadi saleh dan salehah. Apalagi orang tua suka jajan ke Kota-kota besar dengan alasan ada tugas rapat misalnya ke Medan dll? Rahasia jilbab buat apa? yang penting ciptakan suasana Islami dalam jiwa kita. Jangan Munafik, bersihkan maksiat mulai dari harta yang kita peroleh, dari pusat pemerintahan karena air yang bersih untuk mensucikan harus diturunkan dari atas. Pejabat harus bersih, Pengusaha harus bersih, Pedangan harus bersih, Guru dan Ulama juga harus bersih. Bisa nggak? WH kok ditugasi macam-macam untuk apa?, ee kalau pejabat yang seharusnya menjadi contoh malah enak-enakan melakukan zina juga dan melakukan hal-hal yang tidak halal. Anak-anak sekarang sulit mencari tauladan kita orang-orang tuanya sehingga mereka menirukan apa yang dilihat di TV dan Internet. Pesan saya ” berilah tauladan paling tidak untuk keluargamu sendiri dan masyarakat lingkunganmu”. terima kasih.


Tinggalkan Balasan