29
Des
08

Aceh, Caleg dan Celeng

Bukan masyarakat Aceh yang berubah menjadi celeng, atau para saya menuduh para Caleg sebagai figur-figur yang bermetamorfosis dari celeng. Tidak.

Namun memang ada yang menarik dari celeng (Aceh: Bui Sugoet). Celeng itu memiliki sebuah sifat yang juga merupakan kelebihannya dari binatang-binatang lain. Celeng menjadi simbol berani. Perawakannya tidak terlalu besar. Ia bahkan sering terlihat kumuh dan mungkin saja menjijikkan. Lepas dari kelemahan dan kekungan yang ia miliki, namun celeng punya modal keberanian yang sangat kuat. Keberaniaannya sangat diperhitungkan.

Selanjutnya, kita arahkan pikiran pada caleg yang juga ingin saya ceritakan. Di Aceh, menjelang pemilu 2009, bermunculan begitu banyak tokoh-tokoh muda yang tiba-tiba bermunculan sebagai caleg. Ada beberapa yang saya perhatikan yang memang selama in tidak pernah terdengar gaungnya ditengah masyarakat, dan peran apa yang pernah mereka tunjukkan kepada masyarakat Aceh. Dan caleg pun menjadi sebuah trend baru. Ada semacam kebanggan tersirat dari wajah-wajah muda itu saat foto atau gambar dirinya terpajang dipinggir-pinggir jalan dan lorong-lorong yang ada di kota dan desa-desa di Aceh. Nah, saya melihat mereka dari sudut yang juga positif. Iya, keberanian, mereka juga memiliki keberanian yang tentunya dari pilihan mereka untuk muncul sebagai kandidat yang akan menempati kursi legislatif kedepan. Tetapi, saya sering mengkritik mereka saat duduk-duduk santai di warung-warung kopi di beberapa tempat di Aceh, keberanian saja apakah cukup untuk menjadi seorang wakil rakyat?(saya tidak lagi menyebutnya caleg, karena pikiran saya sedang membayangkan mereka telah menjadi seorang anggota legislatif). Dari sana sering timbul berbagai macam perdebatan, dari yang memang masuk akal sampai dengan adanya argumen-argumen yang lebih mengesankan pada pencarian pembenaran atas pilihan mereka.

Tidak salah memang, siapa saja boleh menjadi bakal legislatif, tetapi dari sudut pandang saya sendiri yang boleh jadi tidak terlalu objektif, menjadi wakil rakyat denga cara peusak kha (memberanikan diri tanpa banyak pertimbangan dan kajian) sama saja kita menyamakan diri dengan bui sugoet, yang seringkali malah hanya masuk kedalam perangkap-perangkap yang tak terbaca olehnya. Karena, memang selama ini tidak sedikit dari mereka yang menyodorkan mimpi-mimpi yang lebih terlihat sebagai utopia, terlalu melangit. Nyaris tanpa melihat kondisi riil yang seperti apa yang sedang berkembang ditengah masyarakat. Selanjutnya keinginan saya untuk mendebat banyak hal itu terhenti saat salah seorang rekan yang juga Caleg berujar,”han pue laen, tatarek peng jatah dari pengurus pusat partai” (terj:paling tidak kita bisa menarik duit dari pengurus pusat partai).

Ah, semoga saja tidak semua dari mereka yang punya nawaitu untuk maju dengan logika sesederhana yang terakhir itu.


0 Tanggapan ke “Aceh, Caleg dan Celeng”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan