Oleh: Zulfikar Akbar*

Soe mantoeng nyeung jeuet keu presiden, atau soe mantoeng nyeung jeuet keu waki tanyoe nyeung ek ue teutap mantoeng ek ue, hana nyeung meu ubah. Meunan cit nyeung weng becak teutap weng becak (terj: Siapa saja yang menjadi presiden ataupun siapa saja yang kelak menempati kursinya, kita yang jadi pemanjat kelapa tetaplah akan menjadi pemanjat kelapa).
Kalimat ini saya dengar sebagai buah dari sebuah kegemaran baru saya saat sedang duduk disebuah tempat berkumpulnya masyarakat, dan itu keluar dari mulut salah seorang warga saat mereka sedang berbincang tentang pemilu.
Kalimat tersebut tentu saja sangat kental dengan aroma pesimistis. Dan itulah yang ternyata bercokol, mungkin, di banyak pikiran masyarakat. Mereka tidak akan menganalisis terlalu jauh tentang kebijakan-kebijakan yang mungkin akan muncul secara berbeda dari setiap pemimpin atau wakil mereka yang akan terpilih. Nah, kondisi semacam itu bisa saja dikarenakan pengaruh dari tingkat pemahaman atas demokrasi dan yang berhubungan dengannya. Apa yang mungkin lebih banyak dipikirkan oleh masyarakat kita tidak jauh-jauh sejauh mana manfaat yang bisa dibawa oleh elemen diluar diri mereka (baca: pemimpin atau wakil rakyat), kepada nasib mereka tentunya.
Kita tidakhendak mengatakan masyarakat kita terlalu bodoh, hanya saja kita tidak bisa menutup mata atas kejujuran masyarakat bagaimana mereka melihat. Atas apapun. Kondisi politik, keadaan sosial. Mereka tidak akan menelan begitu saja teori-teori tentang pengaruh politik kepada kondisi sosial. Mereka lebih tertarik untuk melongok kepada keadaan sebenarnya yang dialami oleh mereka. Baik dari satu pemimpin yang pernah muncul maupun saat terjadinya pergantian pemimpim.
Pemilu 2009 tidak lama lagi akan terselenggara sebagai sebuah pesta rakyat. Yang bisa jadi sebagai awal datangnya perubahan yang lebih baik, dan bisa juga menjadi awal terjadinya permasalahan yang lebih buruk. Yang ini sangat ditentukan oleh siapa yang kelak mereka pilih.
Semoga saja, yang kita bersama harapkan, pemimpin yang kelak muncul bukanlah pemimpin yang memaksakan libido mereka untuk menjadi pemiimpin. Namun benar-benar figur yang benar-benar yang dibutuhkan oleh rakyat, yang memiliki kapasitas lebih sehingga sedemikian banyak persoalan masyarakat bisa terjawab. Tidak mesti tuntas sama sekali. Karena kita yakin bahwa siapa saja yang kelak menjadi pemimpin di Nusantara ini tetaplah mereka yang berasal dari kalangan kita manusia. Mereka tidak datang dari negeri dongeng yang super dalam segala hal, dengan mu’jizat. Rakyat tidak butuh itu. Akan tetapi sosok yang benar bisa melihat dengan jeli dan jernih, apa yang mennjadi persoalan terpenting yang harus dituntaskan, dan apa kontribusi mendesak yang harus diberikan kepada masyarakat.
Karena, berbicara dari sudut apatis, apa yang diperlihatkan oleh birokrat kita, politikus kita selama ini adalah pelajaran-pelajaran yang tidak pernah bisa dijadikan uswah (teladan). Sekalipun pengentasan kemiskinan—sebagai sebuah bagian dari kampanye yang telah teramat sering digaungkan-nyaris tidak pernah sepi mengisi kanvas lukisan besar yang berjudul kepentingan politik. Yang selanjutnya muncul justru, tetap seperti mantra umum yang sering dipegang dan tercantum kuat dipikiran-pikiran ‘jujur’ para politikus, tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.rakyat menjadi batu pijakan saja. Setelah mereka sampai pada tujuan yang diinginkan, entah batu itu akan dibawa arus dan hanyut kemanapun tidak lagi menjadi persoalan. Tanpa mengingat lagi, bahwa dengan adanya ‘batu-batu’ itu ia bisa dengan leluasa tiba pada titik yang telah dicapainya.
Sebenarnya tidak terlalu muluk yang diharapkan oleh masyarakat,oleh bangsa ini. Mereka hanya ingin bisa dengan tenang mencari nafkah, tidak tersendat-sendat untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dan tidak ribet saat mereka butuh layanan kesehatan. Sandang pangan mereka bisa tercukupi. Yang lemah bisa dikuatkan. Dan, mereka bisa beroleh kesimpulan baru, bahwa keberadaan pemimpin dan wakil mereka di parlemen, “sekalipun tetap dengan pekerjaan saya yang itu-itu juga namun saya bisa mendapatkan yang lebih baik secara pendapatan dan hasil dari apa yang saya kerjakan”.
Dan pemimpin tetap teringat saat bermonolog dalam evaluasi diri yang saya yakin sering diilakukan oleh pemimpin kita bahwa, batu-batu itulah yang telah membantu saya untuk bisa tiba pada posisi yang sekarang saya raih. Posisi yang saya bisa beroleh fasilitas mewah, kendaraan yang nyaman dan berbagai fasilitas lain yang tidak dimiliki oleh umumnya anak-anak bangsa ini. Selanjutnya mereka bisa menikam mati hantu kesenjangan yang selama ini telah cukup mengerikan ditengah-tengah bangsa ini. Entahlah, kita mungkin tidak perlu mengdikte apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin baru kita kelak.
Namun, kita berharap mereka bisa menjadi figur yang betul-betul memiliki sensitifitas atas kebutuhan masyarakat. Lagi, tidak hanya libido kepentingan saja yang menjadi dasar mereka saat proses decision making (pembuatan keputusan), tetapi benar-benar people oriented. Mereka bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang sepenuhnya terorientasi pada kebutuhan rakyat. Semoga.
*Penulis, peminat masalah kerakyatan


0 Tanggapan ke “Rakyat dan Libido Politik Calon Pemimpin”