Basa-basi itu bagian dari budaya kita. Setelah proses penetrasi dalam rentang waktu yang lama kita lakukan. Basa-basi menjadi lumrah. Dan menjadi senjata untuk membuat banyak hal menjadi mudah. Dengan basa-basi juga ternyata bisa saja menjebak kita menjadi penipu.
Kita akui memang bukan, basa-basi adalah poesan yang sangat indah. Kita bisa terbuai dan pun kita bisa membuat orang terbuai. Kita cenderung tidak akan ber-negative thinking bahwa apa yang disodorin ke muka kita tidak lebih dari basa-basi, ataupun sebaliknya. Pun memang, basa-basi punya energi yang bisa memengaruhi jiwa. Dari jiwa maka semua bermula.
Kekecewaan…..
Mungkin seorang suami menganggap hal lumrah pada basa-basi yang ia ucapkan pada istrinya, segudang janji yang melenakan. Tetapi itu sebenarnya punya daya pengaruh yang sangat temporer. Selanjutnya sang istri hanya menelan kekecewaan. Yang masih remaja juga tidak jauh berbeda. Oleh trend yang bernama basa-basi, tidak sedikit gadis muda yang harus merelakan kegadisannya terenggut. Ini sebagian dari efek sederhana sebuh basa-basi.
Dalam tataran yang lebih besar, jika sebuah budaya bernama basa-basi telah melakukan penetrasi cukup dalam pada tradisi komunitas bangsa. Sudah bisa dipastikan, yang terlihat kelaknya adalah intelektual yang hanya bisa berbicara kosong saja. Pemimpin yang hanya bisa memberi janji tanpa pernah terbeban untuk merealisasikan janjinya. Efek selanjutnya, maka jadilah bangsa itu sebagai bangsa yang penuh basa-basi, menjadi pembual. Terus, semua yang didapat dari kepiawaian berbasa-basi pun menjadi sah-sah saja. Lebih lanjut, berjalanlah bangsa itu pada rel yang mengarah pada posisi semula, stagnan saja. Entahlah, saya belum bisa mengambil kesimpulan, apakah bangsa kita adalah bangsa pembual?
Wallaahu a’lam


0 Tanggapan ke “Trend Basa-basi”