Begitu banyak analisis yang muncul terkait dengan persoalan krisis di Palestina. Hal itu tidak saja dibicarakan di tataran intelektual yang dengan sengaja mengfokuskan pikirannya pada analisis yang beragam. Tetapi masyarakat awam pun tidak ketinggalan menjadikan permasalahan itu sebagai bagian obrolan dalam keseharian, akhir-akhir ini.
Mungkin yang cukup kental mencuat adalah kesimpulan yang mengarah pada mentalitas dari umat Islam. Mengingat, permasalahan Palestina tidak sesederhana sebagai persoalan sejengkal tanah, ataupun latar historikal. Namun disini juga terdapat agama yang sering dijadikan sebagai landasan dan argumen terhadap setiap tetes darah yang tumpah. Israel dengan kepercayaan yahudinya versus Bangsa Palestina yang meyakini perjuangan mereka sebagai bagian dari representasi dari kecintaan kepada agamanya,Islam.
Tentu, dengan alasan diatas, maka bukan pilihan yang tepat mengambil kesimpulan sederhana atas permasalahan krisis klasik ini. Kendati,dipermukaan sangat kentara terlihat banyak pihak yang menawarkan solusi. Namun praktik yang bisa kita lihat adalah, sejauh yang sudah yang di implementasikan, belum ada yang efektif secara permanen. Semua yang sudah dimunculkan sangat bersifat temporer saja. Indikasi apakah yang bisa kita tarik dari fenomena ini? Saya sendiri dengan keterbatasan saya akan mengatakan itu sebagai simbol dari sebentuk kegamangan, siapa yang gamang?
Jika saya mengatakan ini sebagai ekspresi kegamangan dunia internasional, mungkin juga benar. Tapi, pandangan saya lebih terarah pada terlalu kompleks nya unsur yang harus dipantau jika dunia internasional divonis sebagai pihak yang gamang. Karena tentu saja, disana terdapat begitu banyak agama dan kepentingan yang juga beragam, sesuai dengan latar belakang mereka masing-masing. Sedangkan dalam konteks ini, adalah adanya keyakinan—yang disatu sisi terlihat abstrak- adanya agamanya, yang disana ada juga ownership atas agama itu, Islam.
Maka disini juga menjadi tolok ukur dari kekuatan doktrin Islam. Rasa menyatu umat ini atas agama yang diakuinya sebagai napas dalam hidupnya. Hal ini juga yang akan membedakan seorang Muslim sejati dengan mereka yang menjadikan Islam sebagai simbolik yang berkisar pada ritual semata, atau bahkan munafik.
Palestina adalah gambaran dari kegamangan. Kegamangan umat Islam. Mereka nyaris seperti tidak bisa menunjukkan sikap yang tegas. Tidak ada yang dikatakan totalitas keyakinan pada kebenaran, bila umat Islam meyakini Jihad sebagai kebenaran yang datang dari Titah Tuhan saat mereka tidak berani menunjukkan kemauannya. Disini barangkali saya lebih menujukan kepada negara-negara muslim dunis. Apakah serdadu-serdadu yang mereka miliki hanya menjadi bahan pajangan untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa mereka punya gigi? Sedangkan pada sisi riil mereka yang pasang badan sebagai musuh agama ini sedang menikmati botol-botol sampanye.
Palestina hari ini adalah gambaran kegamangan umat Islam. Dan Palestina juga menjadi barometer harga diri umat agama ini. Wallaahu a’lam.
(Menunggu: Kembalinya Ababil)


0 Tanggapan ke “Palestina, Kegamangan Umat Islam”