Arsip untuk Februari, 2009

26
Feb
09

Dikte Syukur untuk Diri

sujudTadi malam, keasyikan main catur dengan tetangga, tanpa terasa baru bisa tidur jam 3 pagi. Syukur pulas. Jam 5 bangun lagi saat jelang Shubuh. Ke mesjid sambil menikmati udara dingin pagi, wah aroma pagi terasa sangat indah—wah kaya puisi saja—.

Beberapa hal yang saya syukuri hari ini adalah:

1. Saya bisa bangun untuk shalat shubuh berjamaah walaupun hanya tidur 3 jam. Saya merasa menang atas diri sendiri yang sebenarnya sempat nyaris memaksa saya untuk tidur lebih lama.

2. Saya senang, jama’ah shalat Shubuh di Mesjid Jeuram semakin ramai saja. Kalau beberapa tahun lalu hanya 4-5 orang setiap Shubuh, sekarang telah penuh satu shaf, kira-kira jumlahnya sudah mendekati 50 orang, alhamdulillah.

3. Saya bisa berangkat ke kantor, sekalipun sebenarnya kantong sedang tipis habis. Apalagi tadi ditengah jalan, sekitar 15 KM dari rumah, dan 2O KM lagi ke kantor, ban motor bocor. Alhamdulillah, datang pertolongan dari adik angkatku, Darwis yang bayarkan ongkos tempel ban motor.

Alhamdulillah, Saya bisa mengucapkan syukur, karena tidak menujukan pikiran pada beberapa kendala riil yang sedang Saya hadapi. Baik persoalan kantong kempes habis, ban motor yang bocor ditengah jalan, sampai dengan perut keroncongan kehabisan uang.

Yah, ini hanya bentuk renungan, bahwa mengingat sisi anugerah yang diberikan Tuhan ternyata lebih membuat tenang daripada melulu melihat pada kekurangan yang ditemui saat menjalani merangkaknya matahari.

Melongok pada yang saya alami hari ini, seakan Tuhan menitipkan pesan:” Aku akan selalu memberikan setiap sesuatu yang memiliki 2 sisi yang bertolak belakang. Hal ini untuk membuatmu lebih mengenal diri, apakah engkau menujukan pikiranmu pada sisi minus dan engkau mengeluhkannya, ataukah engkau bersyukur dengan pemberian-Ku. Jika engkau mensyukuri apa yang Aku berikan, Aku pasti akan memberikan yang lebih baik padamu, tetapi jika engkau hanya bisa mengeluh, maka engkau hanya akan merasa susah, engkau hanya akan selalu memposisikan diri sebagai korban, sebagai pecundang. Seorang prajurit tangguh bukan cuma yang bisa berperang dengan segala perlengkapan yang ia miliki. Namun, prajurit tersebut harus bisa tetap maju sekalipun ia hanya diberikan amunisi sekedar yang mungkin dimilikinya. Disini yang menentukan ksatria dengan pecundang

Jeuram-Meulaboh 25022009

Published also in:

http://fickar.multiply.com

http://www.family-writing.com

26
Feb
09

Menunggu Generasi Penulis, Kapan?

images1Saya belum menemukan kebiasaan membaca sebagai hal penting dalam budaya keseharian bangsa ini. Apalagi kalau berbicara  tradisi selangkah kedepannya, menulis. Juga masih belum menggembirakan. Mungkin beberapa pertanyaan sederhana akan dihadapkan, terkait persoalan itu, apa pentingnya menulis? Buat apa menulis? Apa keuntungan menulis? Sering terlihat mereka-mereka yang belum merasakan menulis sebagai sebuah kebajikan, sebagai sebuah tabungan amal, yang akan tetap memberi dampak positif pada penulis sekalipun kelak ia mati, merasa telah menang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut.

Padahal, sebagian yang lain yang telah berkiprah dalam dunia kepenulisan telah menunjukkan sisi plus dari aktifitas menulis dengan kerja mereka. Bagaimana mereka sebenarnya telah berhasil menunjukkan diri sebagai bagian pelaku perubahan ke arah dunia yang lebih beradab, lebih baik dengan sumbangsih pemikiran mereka. Seharusnya bangsa kita merasa iri dan malu dengan founding father, karena dalam hal yang satu ini mereka lebih unggul dibandingkan dengan ‘manusia sekarang’ yang sering mengklaim diri lebih unggul. Sederet nama bisa ditunjukkan, mereka telah menulis namanya dengan tinta emas, kendati yang mereka sumbangkan untuk bangsa ini ‘hanya’ berupa pemikiran.

Sebut saja Hamka, Mohd Natsir, Soekarno dan sederet nama lainnya. Tubuh-tubuh mereka mungkin hari ini boleh sudah menyatu dengan tanah, namun mereka sebenarnya masih hidup. Hidup dalam obrolan-obrolan (baca: diskusi) yang diucapkan dari mulut-mulut manusia yang mencintai kemajuan kemanusiaan. Dan bagaimana mereka juga telah banyak menunjukkan hasil sebagai figur-figur inspirasional. Masih punya daya untuk menggerakkan manusia dari balik tanah kubur yang memeluknya.

Saya membayangkan, anak-anak kita hari ini dan besok menjadi anak-anak yang mencintai membaca dan membaca. Selanjutnya merekapun menjadi figur-figur yang diperhitungkan, tidak saja di tingkatan nasional tetapi bahkan internasional. Seperti halnya yang diperankan oleh J.K Rowling, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Freud, Harun Yahya, David J. Schwartz, Annemarie Schimmel dan figur-figur yang telah memberi kontribusi tidak sederhana untuk kemajuan dunia. Mereka telah melepaskan pikiran mereka dari diri, dari negeri dan merangkak pada permukaan kemanusiaan sejati. Bisakah kita bisa memunculkan generasi yang lebih piawai, lebih diperhitungkan daripada mereka yang telah lebih dulu hidup? Usaha kita hari ini yang akan memberikan jawabannya besok pagi.