26
Feb
09

Menunggu Generasi Penulis, Kapan?

images1Saya belum menemukan kebiasaan membaca sebagai hal penting dalam budaya keseharian bangsa ini. Apalagi kalau berbicara  tradisi selangkah kedepannya, menulis. Juga masih belum menggembirakan. Mungkin beberapa pertanyaan sederhana akan dihadapkan, terkait persoalan itu, apa pentingnya menulis? Buat apa menulis? Apa keuntungan menulis? Sering terlihat mereka-mereka yang belum merasakan menulis sebagai sebuah kebajikan, sebagai sebuah tabungan amal, yang akan tetap memberi dampak positif pada penulis sekalipun kelak ia mati, merasa telah menang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut.

Padahal, sebagian yang lain yang telah berkiprah dalam dunia kepenulisan telah menunjukkan sisi plus dari aktifitas menulis dengan kerja mereka. Bagaimana mereka sebenarnya telah berhasil menunjukkan diri sebagai bagian pelaku perubahan ke arah dunia yang lebih beradab, lebih baik dengan sumbangsih pemikiran mereka. Seharusnya bangsa kita merasa iri dan malu dengan founding father, karena dalam hal yang satu ini mereka lebih unggul dibandingkan dengan ‘manusia sekarang’ yang sering mengklaim diri lebih unggul. Sederet nama bisa ditunjukkan, mereka telah menulis namanya dengan tinta emas, kendati yang mereka sumbangkan untuk bangsa ini ‘hanya’ berupa pemikiran.

Sebut saja Hamka, Mohd Natsir, Soekarno dan sederet nama lainnya. Tubuh-tubuh mereka mungkin hari ini boleh sudah menyatu dengan tanah, namun mereka sebenarnya masih hidup. Hidup dalam obrolan-obrolan (baca: diskusi) yang diucapkan dari mulut-mulut manusia yang mencintai kemajuan kemanusiaan. Dan bagaimana mereka juga telah banyak menunjukkan hasil sebagai figur-figur inspirasional. Masih punya daya untuk menggerakkan manusia dari balik tanah kubur yang memeluknya.

Saya membayangkan, anak-anak kita hari ini dan besok menjadi anak-anak yang mencintai membaca dan membaca. Selanjutnya merekapun menjadi figur-figur yang diperhitungkan, tidak saja di tingkatan nasional tetapi bahkan internasional. Seperti halnya yang diperankan oleh J.K Rowling, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Freud, Harun Yahya, David J. Schwartz, Annemarie Schimmel dan figur-figur yang telah memberi kontribusi tidak sederhana untuk kemajuan dunia. Mereka telah melepaskan pikiran mereka dari diri, dari negeri dan merangkak pada permukaan kemanusiaan sejati. Bisakah kita bisa memunculkan generasi yang lebih piawai, lebih diperhitungkan daripada mereka yang telah lebih dulu hidup? Usaha kita hari ini yang akan memberikan jawabannya besok pagi.


0 Tanggapan ke “Menunggu Generasi Penulis, Kapan?”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan