Arsip untuk Maret, 2009

16
Mar
09

Berpikir bagaimana Cara Berpikir

dia-dan-matahariSering terlihat wajah-wajah berkernyit, jidat yang mengerut. Terkadang mereka untuk tersenyum pun sepertinya sulit. Dan tidak terasa justru kita dan saya juga sering menjadi aktor dari dagelan yang berjudul: Kernyit dan Kerut di Pesta Jidat. Sebuah dagelan yang dari judul saja sudah tidak mampu menggugah selera, apalagi dipaksa harus dinikmati.

Berbicara cara berpikir, sah saja kita katakan kening mengerut sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Namun, sepertinya tidak ‘halal’ kalau hal tersebut dipandang sebagai cara paling cerdas untuk menunjukkan “saya berpikir!” Terus? Entahlah saya juga bingung harus lanjutkan tema ini dengan apa lagi. Barangkali saya hanya ingin protes pada diri sendiri yang tidak bisa tersenyum saat sedang memikirkan sesuatu. Saya merasa belum cerdas jika untuk berpikir saja masih sulit untuk mengelola hal-hal lain pada tubuh saya saat sedang berpikir.

Selanjutnya, ada kecenderungan untuk marah dan marah saat sedang berpikir dan tidak kunjung bertemu dengan jawaban. Nah disini saya merasa lebih bijak untuk memarahi diri sendiri, kok bisa menikmati ketololan seperti itu?—maaf bahasa saya tidak halus kalau berbicara untuk diri sendiri—.

Sampai kemudian, saya memilih menyepi dan tidak mempedulikan apa-apa. Saya larut dengan pikiran sendiri. Untuk bicara saja saya berubah enggan. Dan ternyata memang sikap seperti iniyang sering saya lakukan, hingga tidak sedikit janji yang kemudian secara sengaja terlupakan, dan saya menjadi munafik karena telah menjadi figur seperti itu atas pilihan sendiri. Saya tidak hanya berdosa pada Tuhan saja, tetapi juga berdosa pada teman, sahabat, saudara dan semua yang pernah berinteraksi dengan saya. Oleh pengingkaran seperti itu, ternyata saya telah memilih untuk menjadi figur antagonis ditengah panggung drama hidup keseharian yang saya jalani.

Ah, ternyata proses terjadinya sebuah dosa terjadi secara sangat sistematis. Dosa sistematis? Tidak saya tidak akan membahas itu. Hanya yang terangsang bagi saya untuk membahas adalah apakah saya juga telah berpikir secara sistematis. Mengingat, intelektualitas belum bisa diakui ketika pada saat yang sama pikiran tersebut belum sistematis. Apalagi memang, sistematis tidak seseorang dalam berpikir menjadi indikator telah terintegral atau tidaknya pengetahuan yang telah pernah dimiliki oleh orang tersebut. Tentu saya juga berada didalam ketentuan demikian ini. Lagi, bagaimana cara berpikir?

Mengaitkannya dengan rumus ideal, saya termasuk salah seorang penganut konsep anti rumus dalam hal berpikir. Dalam arti, pola seseorang boleh berbeda dalam membentuk sebuah kerja pikiran. Karena hal ini juga tidak lepas dari latar pengalaman, darimana ia belajar, dan siapa saja yang berada di sekelilingnya. Intinya tidak ada pola baku pada mekanisme seperti apakah yang ideal untuk berpikir.

Cuma, yang masih saya yakini adalah tidak ada yang namanya berpikir yang tepat ketika seseorang tidak pernah secara rendah hati mengenal, bagaimana berpikir yang baik plus dampak dari sekian pemikiran yang telah pernah dihasilkan. Jika ingin arogan sedikit pada diri sendiri, menanggalkan keyakinan bahwa hari ini saya telah berpikir secara benar sebelum menemukan sebuah ketegasan dari apa yang telah pernah diperbuat. Oleh anda dan juga oleh saya disini. Maaf jika anda tidak menemukan kesimpulan apapun

Meulaboh,160309

14
Mar
09

Obrol versus Obral Janji

kekasih3 hal menjadi ciri manusia munafik:

1. Bila berkata ia dusta

2. Bila dipercaya ia khianat

3. Bila berjanji ia ingkar (Hadits)

Orang boleh tidak lihai dalam banyak hal, tetapi dalam urusan menabur janji sepertinya tidak butuh sekolah tinggi. Iya, tidak butuh sekolah tinggi untuk seseorang bisa menabur janji. Kita hidup bermasyarakat, toh karena memang kita makhluk sosial yang secara kodrati ‘terharuskan’ untuk bergaul entah dengan siapa saja. Lepas apa saja yang mungkin melatarinya. Bagi kalangan remaja yang masih mencari-cari makna hidup, barangkali janji juga menjadi senjata untuknya bisa menaklukkan pujaan hatinya.

Seorang kepala rumah tangga, barangkali menjadikan janji sebagai senjata untuk menaklukkan kerewelan istri dan anak-anaknya. Seorang Jenderal akan memberi janji kepada prajuritnya agar tetap gairah di medan tempur. Guru akan memberikan janji agar muridnya termotivasi untuk belajar. Seperti halnya juga seorang sahabat kepada sahabatnya, memberikan janji untuk membuat sahabatnya senang.

Intinya janji menjadi alat, alat penakluk dan alat untuk mencapai tujuan. Dan janji juga sering dilihat sebagai alternatif untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meski janji hanya bisa menyelesaikan masalah secara temporer saja. Tetapi, memang janji di satu sisi menggembirakan. Sebut saja janji seorang politikus kepada bakal konstituennya. Ini bisa menjadi alat bagi dia untuk menghipnosis konstituen agar dengan yakin menjatuhkan pilihan padanya.

Disana butuh strategi agar konstituen tersebut teryakinkan dengan janji yang ditawarkan oleh seorang politikus (baca;calon legislatif atau calon kepala daerah). Pun, terkait ini, diakui salah satu ciri seorang pemimpin tergambar dari bagaimana ia menumbuhkan keyakinan pada orang lain, atau orang yang bakal ia pimpin. Seseorang tidak akan bisa ’santai’ duduk dikursi kepemimpinannya jika pada saat yang sama ia tidak bisa meyakinkan pada orang yang melihat ’sikap santai’nya sebagai bagian dari skenarionya untuk menuju pada tujuan yang ingin ia berikan untuk pengikutnya. Namun tentu itu bukanlah sebuah sikap yang mutlak layak untuk ditiru tentunya. Karena secara realistis saja kita katakan, tidak akan pernah ada manusia waras yang akan bisa tidur tenang oleh buaian janji saja. Jika dalam sekian lama janji hanya bertahta di tahta janji saja, tidak pernah ada sinyal akan muncul singgasana yang bernama realisasi. Kecenderungan kita akan kecewa jika yang terjadi seperti yang disebutkan terakhir tadi. Kita adalah manusia. Kita memiliki harapan. Tentu saat mendengar janji diutarakan dan itu mengarah pada kita. Paling tidak saat merasakan bahwa janji tersebut menguntungkan, dalam angan timbul harap, kelak janji tersebut menjadi kenyataan. Dan disaat yang sama juga kita membayangkan, adalah hal yang sangat membahagiakan ketika janji tersebut menjadi realitas.

Namun begitu ada hal juga yang harus diperhatikan. Kita yang menginginkan untuk bertemu dengan manusia jujur, menjadi keharusan diri kita untuk memulai kejujuran tersebut dari diri sendiri. Menyimak pada sebuah hukum dasar alam, keserupaan menarik keserupaan. Menginginkan orang lain agar menjadi figur-figur yang menepati janji, agar kita tidak terkecawakan. Merupakan keharusan juga untuk kita adil menepati janji yang pernah kita ikrarkan, lepas kepad siapa saja janji tersebut terikrarkan.

Diakui juga, negeri kita sejauh ini menjadi ladang untuk tumbuhnya janji-janji dengan subur, tetapi tidak terlalu banyak dari janji tersebut berhasil menjadi benih yang kuat untuk tumbuh sebagai realitas. Dari remaja, tidak sedikit kita dengar yang bunuh diri disebabkan oleh janji kekasihnya yang jauh panggang dari api. Orang tua yang tidak dihargai lagi oleh anak-anaknya disebabkan terlalu banyak yang belum ditepatinya. Sampai pada sahabat yang terpaksa menerima kado wajah merengut dan cemberut dari sahabatnya dikarenakan ketidak-berhasilannya menepati janji.

Juga politikus yang sudah diplesetkan sebagai “poli-tikus” disebabkan posisi mereka selama ini membuat mereka terpaksa bersikap seperti tikus. Entahlah. Lepas dari itu semua, ada beberapa hal yang–sepertinya— penting untuk kita cermati, dalam posisi kita sebagai penerima janji. Ataupun siapa saja yang sudah merasa mual dengan jejalan janji yang terpaksa tersumpal di mulut obsesi kita:

1. Mereka yang menyampaikan janji adalah manusia. Manusia memiliki potensi untuk menyalahi janjinya. Sekalipun ia melanggarnya secara tidak sengaja. Jadi, jangan gantungkan harapan pada manusia jika tidak ingin kecewa.

2. Mereka punya kepentingan sendiri, terkadang mereka juga punya kelemahan untuk memprioritaskan, antara kepentingan sendiri dengan kepentingan kita yang sudah pernah disodori janji. Disini butuh kebijaksanaan kita sebagai orang yang dijanjikan apa saja

3. Kita jangan gantungkan diri pada janji mereka. Jika dengan potensi yang kita miliki, yang dianugerahkan Tuhan, memungkinkan kita untuk menggapai apa yang dijanjikan oleh sesama manusia, sebaiknya saja untuk meraih sendiri apa yang pernah dijanjikan oleh orang lain.

4. Jangan melihat mereka yang berjanji memiliki power atas segalanya. Ada saatnya energi mereka untuk realisasikan janji menemui saat untuk menguap dan hilang, janji itupun turut menguap dan turut hilang. Merasa yakin pada janji hanya akan membuat kita terpuruk dalam kekecewaan yang dalam. Apalagi banyak faktor di alam ini yang terjadi secara tidak sesederhana yang kita pikirkan. Nah itu beberapa masukan sederhana saja dari perenungan yang juga sederhana saya lakukan.

Selanjutnya, kita yang pernah merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang yang menjadi ‘korban’ atas janji-janji yang pernah tertujukan pada kita. Adalah pilihan sangat cerdas jika kita berikhtiar untuk tidak mengulangi hal yang sama pada orang lain. Jika ini kita pegang dan ikrarkan pada diri, tentu akan semakin berkuran manusia yang kecewa hanya disebabkan oleh kezaliman mulut yang disebut janji kosong (baca:bualan). Jangan, seperti yang pernah saya ikuti dalam beberapa seminar Psikologi—sebagai ilustrasi—, dikatakan seorang perempuan yang telah pernah menyerahkan keperawanan kepada kekasihnya diluar nikah, saat ia tidak dinikahi oleh kekasihnya, kecenderungan yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah, ia akan ‘berkampanye’ pada perawan-perawan lain untuk mengikuti jejaknya. Intinya mereka beranggapan, sakit ini baru adil ketika orang lain juga merasakannya.

Tetapi manusia berjiwa besar akan berikrar, biarlah selama ini aku menjadi korban dari kesalahanku, tetapi kesalahan ini janganlah terulang pada yang lain. Seperti yang dilakukan oleh beberapa perempuan di level internasional yang kemudian berkampanye untuk anti Free Seks setelah mereka sendiri merasakan dampak butuk dari praktik free seks. Ini sebagai ilustrasi. Berbicara janji maka kita berbicara karakter, berbicara moral dan berbicara hidup matinya nurani.

Untuk zaman sekarang, akan menjadi hal yang konyol mengatakan janji sebagai sesuatu yang berharga, karena paradigma berpikir sebagian manusia modern yang tidak lagi menjadikan nurani sebagai kiblat. Tetapi masyarakat yang tumbuh hanya berputar pada kepentingan dan kepentingan saja, yang mengarah dan menuju untuk kepentingan sederhana didalam diri sendiri saja. Diluar dengan wajah yang diperindah sedemikian rupa, janji-janji diukir dan tertabur. Sangat disayangkan jika figur demikian menjadi kekasih, menjadi istri, menjadi kepala rumah tangga atau bahkan menjadi politikus—untuk skala lebih luas—. Dan kita bayangkan sebaliknya, bagaimana indahnya saat janji kembali mendapat tempat berharga di dalam perlakuan manusia. Janji tidak disepelekan, dan janji dianggap sebagai cermin dari harga diri. Sehingga tidak lagi ada celah bumi yang disemaki oleh manusia yang merendahkan derajat kemanusiaan dengan melanggar janjinya. Jadilah kekasih yang menghargai janji, jadilah keluarga yang menepati janji dan jadilah bangsaku sebagai bangsa yang tidak merendahkan janji.

Dan, beruntunglah kita yang hari ini yang masih menjadi figur-figur yang tidak terlalu banyak menabur janji. Karena, kita percaya semua janji itupun kelak hanya akan menjadi beban di akhirat saat disini, dibumi ini kita hanya menaburnya untuk mencapai tujuan tanpa pernah ada realisasi. Sebagai penutup obrolan ini, sepertinya kita bisa renungkan seuntai kalimat yang pernah diuraikan dengan bijak oleh seorang Filsuf China yang pernah hidup ratusan tahun lampau: sebaiknya seseorang hanya mengatakan apa yang dipahaminya. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya. Karena, saat seseorang mengatakan apa yang tidak ia pahami, maka itulah yang akan menjadi penyebab seseorang itu menjadi pendusta.

Akhirnya, kehati-hatian dalam menelurkan kata dan bahasa akan menjadi alat paling bijak untuk menangkal diri menjadi manusia munafik. Hingga, ketika posisi kita sebagai kekasih, menjadi kekasih yang dikagumi kekasihnya karena berani menepati janji selalu. Menjadi kepala keluarga, menjadi kepala keluarga yang dikagumi istri dan anak-anaknya karena selalu menepati janji. Apalagi sebagai seorang negarawan, akan sangat penting untuknya menjadi sosok yang berhati-hati dalam janji, sehingga yang dijanjikannya bisa terealisasikan. Dari sana ia menjadi negarawan yang akan dicatat dalam sejarah rakyatnya sebagai pemimpin yang menepati janji. Kekasih yang mendapat tempat paling berharga dihati kekasihnya dengan ketepatan janjinya.

Renungan Tengah Malam untuk Kekasih dan untuk Bangsa Meulaboh, 14032009

23:54

14
Mar
09

Menjadi Dewan atau Menjadi Dewa?

353183614lae7Sebuah kalimat menarik saya temukan dari salah seorang kandidat legislatif saat mengikuti Diskusi Terfokus: Partai Politik Bicara, di Kantor P2TP2A Pemkab Aceh Barat, (13/03). Nyanyak, kandidat dari Partai SIRA menyorot potret anggota dewan yang selama ini tidak sedikit yang seperti dewa. Entah apa yang lebih dimaksudkan oleh caleg tersebut, tetapi memang kalau menelusuri sepak terjang anggota dewan di banyak daerah—spesifik di Aceh— Memang tidak sedikit yang selama ini berulah seperti dewa.

Mereka merasa berada di tempat yang berbeda dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk sekedar mengobrol dengan masyarakat kecuali untuk kepentingan tertentu, tidak akan ada waktu. Itu yang seringkali ditemui oleh masyarakat. dari sana secara pelan-pelan memang mereka telah mulai mendeklarasikan diri sebagai dewa, tidak lagi sebagai dewan, yang berasal dari manusia yang juga membutuhkan manusia biasa. Syahdan untuk bisa duduk di kursi empuk dewan padahal tidak mungkin tanpa adanya pendapukan dari masyarakat. Mereka yang berasal dari tukang becak, dari tukang sayur, mugee, dsb. Fenomena semisal ini juga mengingatkan saya pada komentar Mansur Alam, salah seorang anggota legislatif DPRK Nagan Raya, ia secara jujur mengakui tidak akan naik lagi sebagai bakal legislatif pada pemilihan ini, ia beralasan, “sekian tahun saya di legislatif, yang terjadi hanyalah menumpuk dosa pada Tuhan dan pada rakyat. Selama saya duduk di legislatif ini, yang sering terbahas disini hanyalah apa yang bisa didapatr oleh legislatif, dan tidak ada 1 qanun  (peraturan) pun yang mengarah pada kepentingan rakyat.” Seperti itu yang sempat saya tangkap saat legislatif gaek ini menyampaikan keluhan dalam Workshop Mukim Kabupaten Nagan Raya beberapa hari lalu (11/03). Mungkin yang disampaikan legislatif tersebut menyiratkan sebuah pengakuan jujur, tetapi disana juga menjadi simbol ‘pentingnya’ legislatif (?)

Nah, kedepan, mengingat Pemilu sudah akan menjelang dalam hitungan ‘detik’, kita menunggu apakan kelak akan bisa menghadirkan anggota legislatif yang benar-benar bisa menjadi Dewan, bukan Dewa?

Menanyakan demikian kita pasti akan terlempar pada kesimpulan lain, bahwa disana ada nasib, disana ada perjuangan, disana juga akan ada selera yang menentukan selera. Iya, selera konstituen. Apakah konstituen akan memilih manusia yang berambisi menjadi Dewa yang kelak hanya terobsesi untuk bermain di ‘awan’ ataukah anggota dewan yang akan menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai dewan untuk kesejahteraan rakyat Aceh? Wallaahu a’lam. Peta politik Aceh, disatu sisi memang tidak terlalu berat diprediksi, tetapi terkait caleg mana yang bakal muncul nantinya, sepertinya memang sangat bergantung pada kualitas selera masyarakat Aceh

Meulaboh, 14 Maret 2009

12
Mar
09

Menikmati Flu, Pilek dengan Secangkir Kopi

flu1Bukan sama sekali tulisan yang terlalu serius yang ingin saya tuliskan disini, maka kenapa dari judul saja sudah seperti itu. Jelasnya, berbicara flu, berbicara pilek, toh itu pastilah jenis penyakit yang kebetulan sedang menghinggapi saya. Seperti capung di ranting semak belukar, nanti juga ia hilang, maka aku tidak mempermasalahkannya, walaupun memang kondisi ini sedikitnya terasa lumayan mengganggu juga.

Sedangkan kopi merupakan bagian dari minuman klasik yang saya gemari. Kopi memperlihatkan saya pada makna, pada makna kesederhanaan. Hitamnya menyiratkan sebuah sisi yang tidak bisa ditembus mata tetapi ia bisa memasuki banyak lorong di rongga di dalam tubuh peminumnya. Dan itu merupakan bagian pelajaran prinsip. Prinsip bahwa, kendati kejlasan dalam hidup, sisi terangnya harus ada. Tetapi terlalu telanjang bukanlah sebuah pilihan yang terlalu bijak juga. Karena, toh tanpa diproklamirkan pun kita memang manusia biasa. Punya kesalahan, kekhilafan dan yang sesuku dengannya.

Tetapi saya coba percaya saja, dan menjadikannya sebagai bagian dari prinsip juga. bahwa kendati kopi itu adalah minuman yang memiliki rasa yang sebenarnya pahit, namun ia bisa menyatu dengan manisnya gula atau bahkan susu. Ia bisa menyatu dengan unsur tersebut. Kopi bisa menjadi sajian nikmat untuk dihidangkan—tentu bagi yang tidak anti pada kopi—. Tetapi dari sini juga, saya selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak pernah menyajikan kopi pahit pada mereka–siapa? entah—. Kecuali pada beberapa yang memang tidak menyenangi gula dan susu, ya apa boleh buat, aku sajikan saja kopi itu dengan rasa aslinya, pahit.

Tidak perlu bingung menerka arah obrolan saya ini.
Kopi adalah hidup. Maksud saya, kopi menjadi bagian dari simbol kehidupan. Gambaran kesederhanaan. Sekaligus gambaran dari kepekatan. Pekat tidak bermakna tidak bisa dinikmati. Penderitaan dalam hidup pun masih bisa juga dinikmati. Mengutip rekan Rio Menajang dalam salah satu diskusi, orang miskin sering menjadikan seks sebagai hiburan. dan itu tentu menjadi pilihan yang sangat mungkin ia dapatkan. Walaupun selanjutnya dengan ia memiliki banyak anak akan menambah keruwetan dia, yang harus ia hadapi, tetapi paling tidak ia telah bisa mendapatkan sebuah hiburan juga. Ah, apakah saya sudah ngelantur, entahlah. Intinya, saya hanya ingin katakan, semua bisa dinikmati tergantung pada bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Wallaahu a’lam

Meulaboh, 12 Maret 2009

12
Mar
09

Membunuh Obsesi sebagai Pilihan, Cerdaskah?

ecoBerbicara obsesi, maka yang terbetik bisa beragam. diri sendiri dan unsur lain di luar diri. Disana ada orang tua, kekasih atau istri, rekan kerja, sahabat, tetangga dan sebagainya. Satu hal yang sering membayangi kita barangkali, bagaimana mereka melihat kita, tegasnya “bagaimana mereka melihat saya?” Kesalahan dalam menentukan obsesi juga berakibat pada anggapan mereka terhadap kita.

Lepas anda setuju atau tidaknya, tetapi sejauh yang saya perhatikan, memang sangat sering terjadi obsesi pun menjadi hantu ketik dihadapkan pada posisi mereka sebagai figur-figur yang tidak bisa kita lepaskan dari eksistensi ego kita. Apa yang ingin saya angkat disini sebenarnya? Kecermatan dalam menentukan obsesi.

Obsesi, kendati sering diyakini sebagai cerminan dari jiwa yang masih punya energi. Obsesi juga memiliki dampak plus dan minus pada diri sejati kita. Anda bisa dikatakan sebagai sosok yang sangat egois ketika anda hanya mau mendengar diri sendiri, tetapi menutup telinga atas yang diinginkan figur-figur tadi. Menyeimbanginya? Itu adalah solusi, namun juga harus diakui, tidak mudah untuk bisa bersikap seimbang disini.

Tak jarang timbul tanya saat kita dihadapkan pada pilihan, mana yang harus lebih saya perhatikan, keinginan sayakah, ataukah keinginan saya sendiri? saat menyerah pada keinginan mereka, konsekuensi lain yang juga bisa muncul barangkali, “anda lemah!” Penghakiman seperti itu bisa saja muncul, entah dari siapa nantinya, tetapi itu tertuju pada kita. Sebaliknya saat mengarahkan pikiran, sikap dan kerja kita pada obsesi.

Ketika berbenturan dengan figur-figur tadi, seringkali yang timbul adalah perasaan bersalah. Tengok saja seoang bapak yang hanya lebih mencintai pekerjaannya sampai ia ‘tidak berminat’ pada keluarganya. Padahal yang sedang ia tunjukkan adalah cinta yang dalam juga kepada keluarganya, namun karena ia merasa yakin bahwa hanya dengan bekerja seperti itu ia bisa ekspresikan cinta untuk anak, istrinya, maka selanjutnya yang terjadi—terkesan— ia tidak terlalu berhasrat untuk memperhatikan keluarganya—dari sisi kedekatan—. Maka yang timbul kemudian, anak-anak menjauhinya, istri sering cemberut saja sampai dengan tetangga yang terkadang ikut-ikutan menghakimi si bapak sebagai sosok yang terlalu mementingkan dirinya sendiri.

Lebih lanjut lagi yang timbul, tetangga menjadikan si bapak sebagai tema diskusi di serambi-serambi rumah. Padahal, ketika berbicara dari sudut yang lebih realistis,bila si bapak ini tidak memiliki duit berlebih, bagaimana ia bisa untuk memenuhi undangan pesat pernikahan misalnya. Bagaimana ia bisa membantu tetangganya yang lemah secara ekonomi. Dan banyak lainnya. Itu sebagai ilustrasi yang bisa saya tunjukkan secara sederhana. Atas apa? Atas sebuah sisi dilematis yang seringkali menghinggapi diri kita.

Kondisi seperti ini pula yang sangat lazim saya sendiri temui, walaupun saya belum berkeluarga. Pada saat tertentu saya mengdikte diri sendiri untuk menjaga kedekatan dengan keluarga besar saya dengan cara—tidak bisa dielak– harus ‘melupakan’ kerja saya. Tetapi begitu yang terasakan adalah, tidak sedikit penghakiman tertujukan kepada saya, dan ini sangat terasakan. Itu muncul secara beragam sekali. Tidak akan ada apresiasi dalam pilihan sikap seperti itu. Selanjutnya, saat bisa mengimbangi antara obsesi diri—disini, kerja— terkadang yang muncul adalah, sepertinya tenagaku jauh lebih sedikit daripada beban yang harus aku pikul. Dan yang terjadi kemudiannya, depresi, frustasi dan terkadang saya bermetamorfosis sebagai manusia sangar, angker disebabkan oleh kesulitan untuk tersenyum.

Bisa saja hal terakhir ini terjadi disebabkan oleh pilihan yang tidak berdasar pada keinginan tulus, tetapi bukankah memang tidak mudah untuk bisa tulus dalam segalanya? Namun pada akhirnya, walaupun secara riil, ini bukan pilihan mudah, tetapi mencoba untuk tulus dan seimbang mendengar diri sendiri dan mereka yang berada diluar ego saya, tetap harus menjadi pilihan. Entahlah Meulaboh,12 Maret 2009

11
Mar
09

JKMA BTU Laksanakan Workshop Draft Qanun Mukim

Di Nagan Raya

JKMA BTU Laksanakan Workshop Draft Qanun Mukim

Assisten III: “ini langkah terobosan baru”

img_0327Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Bumoe Teuku Umar (JKMA BTU) mengadakan kegiatan Workshop Draft Qanun Mukim bertempat di Ruang Rapat DPRK Nagan Raya (11/3). Kegiatan tersebut dihadiri tidak hanya oleh seluruh Imum Mukim yang ada di Nagan Raya namun juga terdapat beberapa peserta yang berasal dari luar lingkup Imum Mukim. Sebut saja dari kalangan militer, Majelis Adat Aceh, Majelis Permusyawaratan Ulama dan perwakilan dari Pemerintah Kabupaten dan legislatif Kabupaten Nagan Raya.

Acara yang mengangkat tema perdana untuk konteks Nagan Raya tersebut di buka oleh Asisten III Pemkab Nagan Raya. Setelah selesai pidato pengantar dari Koordinator JKMA BTU, Khalidin Alba yang mengakui ini memang kegiatan perdana mereka di lingkup kabupaten Nagan raya dalam hal pembahasan draft qanun seperti ini. Dalam pembukaannya, unsur eksekutif Nagan Raya tersebut mengemukakan ketertarikannya terhadap upaya yang digagas oleh JKMA BTU.

”Saya melihat, workshop seperti ini sangat penting. Dan ini kita akui yang pertama kalau yang berhubungan dengan upaya legislasi. Maka kami dari pihak pemerintah Nagan Raya sangat mendukung kegiatan positif seperti ini. Karena memang ini menjadi ekspresi partisipasi sekaligus menjadi suatu warna baru dalam pembuatan Qanun kabupaten Nagan Raya.” Selanjutnya ia menambahkan, Mukim pada masa kerajaan dulu mendapatkan posisi yang sangat urgen dalam struktur pemerintahan.

Karena memang saat itu fungsi Mukim sangat jelas, maka Mukim menjadi institusi yang sangat dihormati. Sayangnya oleh perubahan rezim, perubahan zaman, posisi Mukim sempat tidak mendapatkan kejelasan. Sehingga Mukim yang seyogyanya lebih dihormati dari Geuchik malah tidak mendapat perhatian masyarakat. Karena, lagi, alasannya adalah secara peran, tidak terlalu banyak peran yang bisa dilakukan oleh Imum Mukim. Tetapi dengan adanya UU no 11 tahun 2006, ruang untuk mukim dibuka dengan terbukanya kesempatan untuk menjadikan persoalan keberadaan Mukim sebagai sebuah bahasan yang harus mendapat perhatian yang lebih serius.

img_0330Kegiatan ini menghadirkan panelis dari Biro Hukum Pemkab Nagan Raya, Zulfikar SH dan Panelis dari Koalisi Kebijakan Partisipatif ( KKP) Banda Aceh, TAF Haikal. Dalam pembahasan pertama oleh Zulfikar, ia mengatakan bahwa selama ini di Nagan Raya sering terjadi mispersepsi dalam hal partisipasi masyarakat. Tidak sedikit yang menuduh pemerintah dan legislatif menutup peran masyarakat, padahal kalau kita perhatikan, masyarkaat kita memiliki kesibukan yang terlalu banyak. Dari yang bekerja sebagai buruh kasar, sampai dengan pekerjaan bisnis lainnya. Mungkin entah karena mereka merasa waktunya rugi jika melaksanakan kegiatan serupa ini, ataukah karena mereka tidak tahu bahwa dalam UU memang dibenarkan masyarakat untuk berkontribusi dalam proses legislasi seperti yang di gagas JKMA BTU ini dalam UU no 11/2006 hal ini mendapatkan ruangnya.

Juga dalam UU no.3/2007. Cuma, karena selama ini masyarakat tidak menyukai hal-hal begini maka kemudian yang terjadi, timbul anggapan bahwa pemerintah Kabupaten Nagan Raya menutup pintu untuk akses masyarakat dalam berpartisipasi dalam proses pembuatan Qanun Kabupaten. Sedangkan TAF Haikal dalam paparan yang dilakukan selama waktu berkisar 60 menit lebih banyak mengangkat persoalan proses dan mekanisme untuk mengajukan sebuah draft qanun. Jalur-jalur mana saja yang harus ditempuh lebih menjadi pokok bahasan dari sosok muda yang juga merupakan Caleg PAN untuk DPR Pusat ini.img_0314

“cuman, saya hanya ingin mengatakan bahwa, kita harus mengubah dulu anggapan bahwa qanun ini adalah sebuah hal yang berat. Kita tidak boleh melihat ini sebagai beban yang terlalu berat. Justru dengan kita bisa melakukannya dengan cara yang tenang, maka kemudian apa yang menjadi cita-cita, misi kita bisa tercapaui” Demikian pungkas Haikal yang selama ini juga aktif melakukan kampanye untuk Pemerintah Aceh lebih perhatian terhadap pembangunan Pantai Barat Selatan. Peserta yag terlihat antusias dalam kisaran waktu 8 jam sempat dihiasi dengan perdebatan sengit terkait dengan pembahasan yang berkenaan dengan pelibatan perempuan dalam unsur Tuha Peuet Mukim. Budian Berma, sosok perempuan dari Biro Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Nagan raya berharap sangat agar perempuan jangan diposisikan pada posisi tertentu tetapi secara peran nyaris tidak ada yang bisa dilakukan,”sering terjadi selama ini, perempuan dilibatkan dalam banyak kegiatan, tetapi secara fungsi tidak ada sama sekali. Ini dikarenakan posisi yang diberikan hanyalah posisi-posisi yang tidak penting..” Sementara Cut Afifah juga mengkritisi persoalan yang berada di tingkatan Mukim yang sering ia amati terjadi ditengah masyarakat, “banyak kegiatan yang biasa dilakukan oleh perempuan di desa, dan memang menuntut peran aktif perempuan, namun tidak jarang justru perempuan tidak terlalu dianggap oleh aparat pemerintah desa dan mukim, ini sangat sering terjadi. Maka saya sebagai salah seorang perempuan di Nagan Raya sangat berharap agar dengan qanun ini, permpuan juga lebih terperhatikan dan bisa mendapat apresiasi yang layak di tingkatan desa dan mukim” Demikian Pungkasnya. Syahrullah YA, Ketua Panitia kegiatan Workshop ini menjelaskan bahwa, memang workshop ini sengaja kami libatkan banyak unsur lain diluar lingkup mukim, agar mereka juga bis amemberikan pandangannya terhadap qanun dan mereka bisa berbagi tentang banyak fenomena menarik yang mungkin memang penting juga menjadi bagian dari draft qanun ini (fick).

10
Mar
09

Shalat Subuh Pejabat Kita

Mungkin saya hanya akan menuliskan tentang yang saya lihat dan kemudian mencoba menyimpulkannya.

sujud13

Yang saya lihat itu adalah pemandangan saat waktu shalat subuh tiba. Bukan matahari yang akan terbit, bukan fajar yang muncul indah. Tetapi manusia-manusia yang mau bersyukur dengan kedatangan subuh. Bagi setiap Muslim menjadi moment untuk berlomba menunjukkan pada Tuhan, “saya berterima kasih pada Mu Tuhan, karena engkau telah izinkan aku untuk hidup kembali pada pagi ini. Dan aku bangun pagi-pagi sekali begini agar tercatat disisi Mu sebagai salah seorang hamba Mu yang tergolong kedalam barisan pertama yang berterima kasihpada Mu dengan menunaikan shalat subuh”.

Seketika saja, saya jadi ‘terangsang’ untuk meng-absen pejabat-pejabat yang mau untuk shalat subuh. Bukan atas suruhan siapa-siapa tetapi bisa dikatakan hanya sebagai ulah saya yang suka ‘cari kerjaan’. Dari sekian banyak pejabat yang sering masuk dalam list pejabat rajin hadir shalat subuh hanya seorang camat, ia bernama Agusdi, Camat Kecamatan Seunagan. Observasi ‘iseng’ ini saya lakukan di Masjid Agung Kabupaten Nagan Raya. Alasan saya memilih Masjid ini adalah, mesjid ini berada di Kota Jeuram yang notabene menjadi sentral Kabupaten Nagan Raya.

. Kembali terkait pejabat, jika mereka masih suka memuja dan memanjakan diri sendiri, tidak akan bisa diharap terlalu banyak untuk mau mengurus orang lain. Ini berhubungan dengan karakter pemimpin, karakter pejabat yang seyogyanya harus mendedikasikan pikiran dan kerjanya untuk rakyat. Percaya atau tidak, seorang filsuf pernah mengutarakan,”bagaimana seseorang menyikapi dirinya sendiri, cara ia mengurus dan mengatur dirinya menjadi cerminan bagaimana ia berhubungan dengan manusia lain—untuk disini adalah cara pejabat melayani rakyatnya—. Nah, jika di Indonesia, dalam setiap Kabupaten hanya punya 1 pejabat yang mau shalat subuh berjamaah, bisa diterka, akan seperti apakah mereka mengurus rakayat di negeri ini?

Semoga saja, dalam kasus yang saya ilustrasikan disini tidak lebih dari analisis subjektif saya, karena bisa saja, pejabat-pejabat yang ada shalat subuh berjamaah di Masji-masjid lain, secara kebetulan saja tidak satu masjid dengan saya. Tentu kita akan sangat bersyukur jika dugaan saya terakhir adalah benar, karena kelak potret seperti ini akan menjadi gambaran ‘bentuk wajah’ negeri ini.