Berbicara obsesi, maka yang terbetik bisa beragam. diri sendiri dan unsur lain di luar diri. Disana ada orang tua, kekasih atau istri, rekan kerja, sahabat, tetangga dan sebagainya. Satu hal yang sering membayangi kita barangkali, bagaimana mereka melihat kita, tegasnya “bagaimana mereka melihat saya?” Kesalahan dalam menentukan obsesi juga berakibat pada anggapan mereka terhadap kita.
Lepas anda setuju atau tidaknya, tetapi sejauh yang saya perhatikan, memang sangat sering terjadi obsesi pun menjadi hantu ketik dihadapkan pada posisi mereka sebagai figur-figur yang tidak bisa kita lepaskan dari eksistensi ego kita. Apa yang ingin saya angkat disini sebenarnya? Kecermatan dalam menentukan obsesi.
Obsesi, kendati sering diyakini sebagai cerminan dari jiwa yang masih punya energi. Obsesi juga memiliki dampak plus dan minus pada diri sejati kita. Anda bisa dikatakan sebagai sosok yang sangat egois ketika anda hanya mau mendengar diri sendiri, tetapi menutup telinga atas yang diinginkan figur-figur tadi. Menyeimbanginya? Itu adalah solusi, namun juga harus diakui, tidak mudah untuk bisa bersikap seimbang disini.
Tak jarang timbul tanya saat kita dihadapkan pada pilihan, mana yang harus lebih saya perhatikan, keinginan sayakah, ataukah keinginan saya sendiri? saat menyerah pada keinginan mereka, konsekuensi lain yang juga bisa muncul barangkali, “anda lemah!” Penghakiman seperti itu bisa saja muncul, entah dari siapa nantinya, tetapi itu tertuju pada kita. Sebaliknya saat mengarahkan pikiran, sikap dan kerja kita pada obsesi.
Ketika berbenturan dengan figur-figur tadi, seringkali yang timbul adalah perasaan bersalah. Tengok saja seoang bapak yang hanya lebih mencintai pekerjaannya sampai ia ‘tidak berminat’ pada keluarganya. Padahal yang sedang ia tunjukkan adalah cinta yang dalam juga kepada keluarganya, namun karena ia merasa yakin bahwa hanya dengan bekerja seperti itu ia bisa ekspresikan cinta untuk anak, istrinya, maka selanjutnya yang terjadi—terkesan— ia tidak terlalu berhasrat untuk memperhatikan keluarganya—dari sisi kedekatan—. Maka yang timbul kemudian, anak-anak menjauhinya, istri sering cemberut saja sampai dengan tetangga yang terkadang ikut-ikutan menghakimi si bapak sebagai sosok yang terlalu mementingkan dirinya sendiri.
Lebih lanjut lagi yang timbul, tetangga menjadikan si bapak sebagai tema diskusi di serambi-serambi rumah. Padahal, ketika berbicara dari sudut yang lebih realistis,bila si bapak ini tidak memiliki duit berlebih, bagaimana ia bisa untuk memenuhi undangan pesat pernikahan misalnya. Bagaimana ia bisa membantu tetangganya yang lemah secara ekonomi. Dan banyak lainnya. Itu sebagai ilustrasi yang bisa saya tunjukkan secara sederhana. Atas apa? Atas sebuah sisi dilematis yang seringkali menghinggapi diri kita.
Kondisi seperti ini pula yang sangat lazim saya sendiri temui, walaupun saya belum berkeluarga. Pada saat tertentu saya mengdikte diri sendiri untuk menjaga kedekatan dengan keluarga besar saya dengan cara—tidak bisa dielak– harus ‘melupakan’ kerja saya. Tetapi begitu yang terasakan adalah, tidak sedikit penghakiman tertujukan kepada saya, dan ini sangat terasakan. Itu muncul secara beragam sekali. Tidak akan ada apresiasi dalam pilihan sikap seperti itu. Selanjutnya, saat bisa mengimbangi antara obsesi diri—disini, kerja— terkadang yang muncul adalah, sepertinya tenagaku jauh lebih sedikit daripada beban yang harus aku pikul. Dan yang terjadi kemudiannya, depresi, frustasi dan terkadang saya bermetamorfosis sebagai manusia sangar, angker disebabkan oleh kesulitan untuk tersenyum.
Bisa saja hal terakhir ini terjadi disebabkan oleh pilihan yang tidak berdasar pada keinginan tulus, tetapi bukankah memang tidak mudah untuk bisa tulus dalam segalanya? Namun pada akhirnya, walaupun secara riil, ini bukan pilihan mudah, tetapi mencoba untuk tulus dan seimbang mendengar diri sendiri dan mereka yang berada diluar ego saya, tetap harus menjadi pilihan. Entahlah Meulaboh,12 Maret 2009


0 Tanggapan ke “Membunuh Obsesi sebagai Pilihan, Cerdaskah?”