3 hal menjadi ciri manusia munafik:
1. Bila berkata ia dusta
2. Bila dipercaya ia khianat
3. Bila berjanji ia ingkar (Hadits)
—
Orang boleh tidak lihai dalam banyak hal, tetapi dalam urusan menabur janji sepertinya tidak butuh sekolah tinggi. Iya, tidak butuh sekolah tinggi untuk seseorang bisa menabur janji. Kita hidup bermasyarakat, toh karena memang kita makhluk sosial yang secara kodrati ‘terharuskan’ untuk bergaul entah dengan siapa saja. Lepas apa saja yang mungkin melatarinya. Bagi kalangan remaja yang masih mencari-cari makna hidup, barangkali janji juga menjadi senjata untuknya bisa menaklukkan pujaan hatinya.
Seorang kepala rumah tangga, barangkali menjadikan janji sebagai senjata untuk menaklukkan kerewelan istri dan anak-anaknya. Seorang Jenderal akan memberi janji kepada prajuritnya agar tetap gairah di medan tempur. Guru akan memberikan janji agar muridnya termotivasi untuk belajar. Seperti halnya juga seorang sahabat kepada sahabatnya, memberikan janji untuk membuat sahabatnya senang.
Intinya janji menjadi alat, alat penakluk dan alat untuk mencapai tujuan. Dan janji juga sering dilihat sebagai alternatif untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meski janji hanya bisa menyelesaikan masalah secara temporer saja. Tetapi, memang janji di satu sisi menggembirakan. Sebut saja janji seorang politikus kepada bakal konstituennya. Ini bisa menjadi alat bagi dia untuk menghipnosis konstituen agar dengan yakin menjatuhkan pilihan padanya.
Disana butuh strategi agar konstituen tersebut teryakinkan dengan janji yang ditawarkan oleh seorang politikus (baca;calon legislatif atau calon kepala daerah). Pun, terkait ini, diakui salah satu ciri seorang pemimpin tergambar dari bagaimana ia menumbuhkan keyakinan pada orang lain, atau orang yang bakal ia pimpin. Seseorang tidak akan bisa ’santai’ duduk dikursi kepemimpinannya jika pada saat yang sama ia tidak bisa meyakinkan pada orang yang melihat ’sikap santai’nya sebagai bagian dari skenarionya untuk menuju pada tujuan yang ingin ia berikan untuk pengikutnya. Namun tentu itu bukanlah sebuah sikap yang mutlak layak untuk ditiru tentunya. Karena secara realistis saja kita katakan, tidak akan pernah ada manusia waras yang akan bisa tidur tenang oleh buaian janji saja. Jika dalam sekian lama janji hanya bertahta di tahta janji saja, tidak pernah ada sinyal akan muncul singgasana yang bernama realisasi. Kecenderungan kita akan kecewa jika yang terjadi seperti yang disebutkan terakhir tadi. Kita adalah manusia. Kita memiliki harapan. Tentu saat mendengar janji diutarakan dan itu mengarah pada kita. Paling tidak saat merasakan bahwa janji tersebut menguntungkan, dalam angan timbul harap, kelak janji tersebut menjadi kenyataan. Dan disaat yang sama juga kita membayangkan, adalah hal yang sangat membahagiakan ketika janji tersebut menjadi realitas.
Namun begitu ada hal juga yang harus diperhatikan. Kita yang menginginkan untuk bertemu dengan manusia jujur, menjadi keharusan diri kita untuk memulai kejujuran tersebut dari diri sendiri. Menyimak pada sebuah hukum dasar alam, keserupaan menarik keserupaan. Menginginkan orang lain agar menjadi figur-figur yang menepati janji, agar kita tidak terkecawakan. Merupakan keharusan juga untuk kita adil menepati janji yang pernah kita ikrarkan, lepas kepad siapa saja janji tersebut terikrarkan.
Diakui juga, negeri kita sejauh ini menjadi ladang untuk tumbuhnya janji-janji dengan subur, tetapi tidak terlalu banyak dari janji tersebut berhasil menjadi benih yang kuat untuk tumbuh sebagai realitas. Dari remaja, tidak sedikit kita dengar yang bunuh diri disebabkan oleh janji kekasihnya yang jauh panggang dari api. Orang tua yang tidak dihargai lagi oleh anak-anaknya disebabkan terlalu banyak yang belum ditepatinya. Sampai pada sahabat yang terpaksa menerima kado wajah merengut dan cemberut dari sahabatnya dikarenakan ketidak-berhasilannya menepati janji.
Juga politikus yang sudah diplesetkan sebagai “poli-tikus” disebabkan posisi mereka selama ini membuat mereka terpaksa bersikap seperti tikus. Entahlah. Lepas dari itu semua, ada beberapa hal yang–sepertinya— penting untuk kita cermati, dalam posisi kita sebagai penerima janji. Ataupun siapa saja yang sudah merasa mual dengan jejalan janji yang terpaksa tersumpal di mulut obsesi kita:
1. Mereka yang menyampaikan janji adalah manusia. Manusia memiliki potensi untuk menyalahi janjinya. Sekalipun ia melanggarnya secara tidak sengaja. Jadi, jangan gantungkan harapan pada manusia jika tidak ingin kecewa.
2. Mereka punya kepentingan sendiri, terkadang mereka juga punya kelemahan untuk memprioritaskan, antara kepentingan sendiri dengan kepentingan kita yang sudah pernah disodori janji. Disini butuh kebijaksanaan kita sebagai orang yang dijanjikan apa saja
3. Kita jangan gantungkan diri pada janji mereka. Jika dengan potensi yang kita miliki, yang dianugerahkan Tuhan, memungkinkan kita untuk menggapai apa yang dijanjikan oleh sesama manusia, sebaiknya saja untuk meraih sendiri apa yang pernah dijanjikan oleh orang lain.
4. Jangan melihat mereka yang berjanji memiliki power atas segalanya. Ada saatnya energi mereka untuk realisasikan janji menemui saat untuk menguap dan hilang, janji itupun turut menguap dan turut hilang. Merasa yakin pada janji hanya akan membuat kita terpuruk dalam kekecewaan yang dalam. Apalagi banyak faktor di alam ini yang terjadi secara tidak sesederhana yang kita pikirkan. Nah itu beberapa masukan sederhana saja dari perenungan yang juga sederhana saya lakukan.
Selanjutnya, kita yang pernah merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang yang menjadi ‘korban’ atas janji-janji yang pernah tertujukan pada kita. Adalah pilihan sangat cerdas jika kita berikhtiar untuk tidak mengulangi hal yang sama pada orang lain. Jika ini kita pegang dan ikrarkan pada diri, tentu akan semakin berkuran manusia yang kecewa hanya disebabkan oleh kezaliman mulut yang disebut janji kosong (baca:bualan). Jangan, seperti yang pernah saya ikuti dalam beberapa seminar Psikologi—sebagai ilustrasi—, dikatakan seorang perempuan yang telah pernah menyerahkan keperawanan kepada kekasihnya diluar nikah, saat ia tidak dinikahi oleh kekasihnya, kecenderungan yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah, ia akan ‘berkampanye’ pada perawan-perawan lain untuk mengikuti jejaknya. Intinya mereka beranggapan, sakit ini baru adil ketika orang lain juga merasakannya.
Tetapi manusia berjiwa besar akan berikrar, biarlah selama ini aku menjadi korban dari kesalahanku, tetapi kesalahan ini janganlah terulang pada yang lain. Seperti yang dilakukan oleh beberapa perempuan di level internasional yang kemudian berkampanye untuk anti Free Seks setelah mereka sendiri merasakan dampak butuk dari praktik free seks. Ini sebagai ilustrasi. Berbicara janji maka kita berbicara karakter, berbicara moral dan berbicara hidup matinya nurani.
Untuk zaman sekarang, akan menjadi hal yang konyol mengatakan janji sebagai sesuatu yang berharga, karena paradigma berpikir sebagian manusia modern yang tidak lagi menjadikan nurani sebagai kiblat. Tetapi masyarakat yang tumbuh hanya berputar pada kepentingan dan kepentingan saja, yang mengarah dan menuju untuk kepentingan sederhana didalam diri sendiri saja. Diluar dengan wajah yang diperindah sedemikian rupa, janji-janji diukir dan tertabur. Sangat disayangkan jika figur demikian menjadi kekasih, menjadi istri, menjadi kepala rumah tangga atau bahkan menjadi politikus—untuk skala lebih luas—. Dan kita bayangkan sebaliknya, bagaimana indahnya saat janji kembali mendapat tempat berharga di dalam perlakuan manusia. Janji tidak disepelekan, dan janji dianggap sebagai cermin dari harga diri. Sehingga tidak lagi ada celah bumi yang disemaki oleh manusia yang merendahkan derajat kemanusiaan dengan melanggar janjinya. Jadilah kekasih yang menghargai janji, jadilah keluarga yang menepati janji dan jadilah bangsaku sebagai bangsa yang tidak merendahkan janji.
Dan, beruntunglah kita yang hari ini yang masih menjadi figur-figur yang tidak terlalu banyak menabur janji. Karena, kita percaya semua janji itupun kelak hanya akan menjadi beban di akhirat saat disini, dibumi ini kita hanya menaburnya untuk mencapai tujuan tanpa pernah ada realisasi. Sebagai penutup obrolan ini, sepertinya kita bisa renungkan seuntai kalimat yang pernah diuraikan dengan bijak oleh seorang Filsuf China yang pernah hidup ratusan tahun lampau: sebaiknya seseorang hanya mengatakan apa yang dipahaminya. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya. Karena, saat seseorang mengatakan apa yang tidak ia pahami, maka itulah yang akan menjadi penyebab seseorang itu menjadi pendusta.
Akhirnya, kehati-hatian dalam menelurkan kata dan bahasa akan menjadi alat paling bijak untuk menangkal diri menjadi manusia munafik. Hingga, ketika posisi kita sebagai kekasih, menjadi kekasih yang dikagumi kekasihnya karena berani menepati janji selalu. Menjadi kepala keluarga, menjadi kepala keluarga yang dikagumi istri dan anak-anaknya karena selalu menepati janji. Apalagi sebagai seorang negarawan, akan sangat penting untuknya menjadi sosok yang berhati-hati dalam janji, sehingga yang dijanjikannya bisa terealisasikan. Dari sana ia menjadi negarawan yang akan dicatat dalam sejarah rakyatnya sebagai pemimpin yang menepati janji. Kekasih yang mendapat tempat paling berharga dihati kekasihnya dengan ketepatan janjinya.
Renungan Tengah Malam untuk Kekasih dan untuk Bangsa Meulaboh, 14032009
23:54


0 Tanggapan ke “Obrol versus Obral Janji”