Sebuah kalimat menarik saya temukan dari salah seorang kandidat legislatif saat mengikuti Diskusi Terfokus: Partai Politik Bicara, di Kantor P2TP2A Pemkab Aceh Barat, (13/03). Nyanyak, kandidat dari Partai SIRA menyorot potret anggota dewan yang selama ini tidak sedikit yang seperti dewa. Entah apa yang lebih dimaksudkan oleh caleg tersebut, tetapi memang kalau menelusuri sepak terjang anggota dewan di banyak daerah—spesifik di Aceh— Memang tidak sedikit yang selama ini berulah seperti dewa.
Mereka merasa berada di tempat yang berbeda dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk sekedar mengobrol dengan masyarakat kecuali untuk kepentingan tertentu, tidak akan ada waktu. Itu yang seringkali ditemui oleh masyarakat. dari sana secara pelan-pelan memang mereka telah mulai mendeklarasikan diri sebagai dewa, tidak lagi sebagai dewan, yang berasal dari manusia yang juga membutuhkan manusia biasa. Syahdan untuk bisa duduk di kursi empuk dewan padahal tidak mungkin tanpa adanya pendapukan dari masyarakat. Mereka yang berasal dari tukang becak, dari tukang sayur, mugee, dsb. Fenomena semisal ini juga mengingatkan saya pada komentar Mansur Alam, salah seorang anggota legislatif DPRK Nagan Raya, ia secara jujur mengakui tidak akan naik lagi sebagai bakal legislatif pada pemilihan ini, ia beralasan, “sekian tahun saya di legislatif, yang terjadi hanyalah menumpuk dosa pada Tuhan dan pada rakyat. Selama saya duduk di legislatif ini, yang sering terbahas disini hanyalah apa yang bisa didapatr oleh legislatif, dan tidak ada 1 qanunĀ (peraturan) pun yang mengarah pada kepentingan rakyat.” Seperti itu yang sempat saya tangkap saat legislatif gaek ini menyampaikan keluhan dalam Workshop Mukim Kabupaten Nagan Raya beberapa hari lalu (11/03). Mungkin yang disampaikan legislatif tersebut menyiratkan sebuah pengakuan jujur, tetapi disana juga menjadi simbol ‘pentingnya’ legislatif (?)
Nah, kedepan, mengingat Pemilu sudah akan menjelang dalam hitungan ‘detik’, kita menunggu apakan kelak akan bisa menghadirkan anggota legislatif yang benar-benar bisa menjadi Dewan, bukan Dewa?
Menanyakan demikian kita pasti akan terlempar pada kesimpulan lain, bahwa disana ada nasib, disana ada perjuangan, disana juga akan ada selera yang menentukan selera. Iya, selera konstituen. Apakah konstituen akan memilih manusia yang berambisi menjadi Dewa yang kelak hanya terobsesi untuk bermain di ‘awan’ ataukah anggota dewan yang akan menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai dewan untuk kesejahteraan rakyat Aceh? Wallaahu a’lam. Peta politik Aceh, disatu sisi memang tidak terlalu berat diprediksi, tetapi terkait caleg mana yang bakal muncul nantinya, sepertinya memang sangat bergantung pada kualitas selera masyarakat Aceh
Meulaboh, 14 Maret 2009


0 Tanggapan ke “Menjadi Dewan atau Menjadi Dewa?”