Arsip untuk Agustus, 2009

17
Agu
09

Merdekakan (ulang) Indonesia

benderaMerdekakan (ulang) Indonesia

Oleh: Zulfikar Akbar

(Harian Aceh, 17 Agustus 2009)

Tidak untuk menyepelekan ikhtiar Pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup bangsa, dalam membangun tanah pertiwi dan dalam menjalankan roda negeri ini. Hanya saja, terlalu banyak indikator yang menunjukkan bahwa Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka.

Indikator bisa berupa angka kemiskinan yang masih belum turun semestinya. Pengangguran masih merebak. Kriminalitas yang menjadi buah dari kondisi tersebut juga semakin meningkat. Aceh saja, nyaris setiap harinya mengisi halaman-halaman koran dengan reportase kriminalitas. Lantas, apakah kemudian kita akan memilih untuk melulu melemparkan tuduhan bahwa pemerintah telah dengan sendirinya menjadi aktor utama, terdakwa atas segala ketimpangan yang idealnya tidak terjadi ini? Satu sisi dengan amanat UU terhadap pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya, mungkin disini memang pemerintah didudukkan di kursi ‘pesakitan’ itu. Tapi saling lempar kesalahan seperti itu saya kira bukanlah sebuah pilihan bijak. Mengingat, dari beberapa rezim yang telah berlangsung di negeri ini tidak pernah sepi dengan ‘metode’ saling lempar kesalahan, namun tidak berhasil menjadikan negeri menjadi lebih baik. Hanya saja, saya berpikir, perlu untuk ditumbuhkan satu spirit yang lebih positif. Tidak saling jegal karena merasa telah mencapai tangga intelektualitas yang lebih baik dari umumnya masyarakat Indonesia lainnya yang memang masih banyak yang tidak memiliki pendidikan. Hanya saja, kinerja nyata dan proaktif, plus sinergi yang lebih mampu untuk menggugah selera membangun dan berlari bersama, ini yang penting untuk semakin ditumbuhkan.

Indonesia harus dimerdekakan ulang. Tapi tidak lagi secara physically barangkali. Dalam arti tidak perlu lagi harus mengadu fisik dan mengangkat senjata dan kembali bersimbah darah. Tapi pada mindset, pada mainstream.

Menyimak, yang kentara muncul ke permukaan khususnya akhir-akhir ini bukanlah upaya serius untuk melongok persoalan rakyat yang masih tidak sedikit yang untuk makan siang saja kesulitan. Namun lebih mencerminkan dahaga pada gengsi, haus pada kekuasaan dan kengerian dalam menerima kekalahan. Tingkat elit terlihat lebih banyak saling tendang, memaksa ejakulasi dengan retorika yang entah mereka kira lebih dibutuhkan masyarakat negeri ini?

Cobalah untuk berpaling sejenak dari keserakahan itu. Sekarang, coba lihat lebih jernih pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2008 mencapai 111,48 juta orang. Dan jumlah penduduk yang bekerja di pada Februari 2008 sebanyak 102,05 juta orang. Ini potret 2008, 2009 bagaimana? Apakah sudah ketemu sebuah alasan yang cukup terang berhubungan dengan hasil kerja pemerintah yang lebih baik, sehingga angka itu lebih turun. Persoalan itu lebih terjawab? Saya yakin belum ada yang berani tunjukkannya. Karena, hari ini Indonesia seperti belum sah disebut Indonesia jika angka kemiskinan tidak ‘betah’ seperti angka diatas.

Untuk itu, Indonesia butuh untuk di merdekakan ulang. Dimerdekakan dari kemiskinan, dibebaskan dari kolonialis yang mengaku nasionalis. Ini yang seharusnya lebih ditunjukkan. Menyimak ini, saya jadi teringat saat sedang melakukan observasi ke sebuah desa pedalaman di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat setahun lalu. “untuk jalan menuju ke desa kami saja belum ada jalan yang memadai, apa bedanya sekarang dengan dulu. Kami bahkan hampir tidak yakin kalau Belanda sudah tidak ada lagi di negeri ini.”

Nah, Agustus yang seyogyanya menjadi bulan yang sangat sakral di pelaminan bernama Indonesia ini, seharusnya tidak diluputkan dari refleksi atas kondisi nyata yang masih terjadi dan masih menjadi virus yang tak kalah kuasa membunuh anak-anak negeri ini dibandingkan H1N1 ataupu HIV. Cita-cita untukmengurangi angka kemiskinan, sepertinya sudah tidak saatnya lagi dijadikan sebagai sebuah dagangan sekedar untuk bisa menghipnotis bangsa yang memang belum seluruhnya ‘tercerdaskan’. Karena, kemiskinan membuat mereka ‘alergi’ dengan yang namanya sekolah. Ketika sebuah bangsa alergi dengan pendidikan, tentu tidak akan pernah bisa diharap untuk bisa cerdas; selain mengandalkan insting daripada akal yang menjadi kelebihan mereka sebagai manusia.

Merdekakan lagi negeri ini dengan kemerdekaan yang sebenar-benarnya.Sebuah kemerdekaan yang tidak perlu lagi dengan proklamasi yang terlalu di agung-agungkan, tetapi dengan jawaban tegas yang langsung mengarah ke jantung kemiskinan. Sehingga, saat sedang menghentikan kendaraan di traffic light, kita tidak harus menahan sesak lagi menatap wajah-wajah dekil pengemis yang selama ini menjadi ‘billboard’ yang mengpromosikan bahwa kita belum sebenarnya merdeka. Dan, kemiskinan masih menjadi sebuah persoalan yang menuntut jawaban sigap dan cepat. Atau, kelak pemerintahan sekarang pun akan kembali menjadi objek kutukan rakyat.