Arsip untuk September, 2009

18
Sep
09

Tuhan di Ujung Telunjuk

telunjukBukan lagi keluar yang harus dilihat ketika terjadi berbagai ironi. Ketika sekian banyak pendusta mencoba bicarakan kebenaran dengan ekspresi meyakinkan. Kita tidak bisa diizinkan untuk menjadi bagian dari manusia yang berkesempatan untuk beroleh anugerah yang bersifat permisif, dari kita. Karena kendati dengan geraham pun kita menggigit tradisi permisif mencuat, namun itu terus saja menggejala dan menjala ikan-ikan kecil di samudera kita yang kian keruh. Ikan-ikan kecil kebenaran yang belum bisa menunjukkan diri sesangar dan setegas hiu.

Kita masih melihat kebenaran masih menjadi bahan eksperimen yang terus dibedah, mereka mengulik-nguliknya. Laik kucing remaja yang terpesona dengan bola yang bergulir didepannya.

Kita menjadi manusia yang begitu peka pada hal-hal yang harusnya memang tidak perlu diberi stempel bertanda curiga. Dan kita secara perlahan, menjadi figur-figur mengerikan yang menjadi permisif dengan kebatilan dengan keseriusan kita melogikakan. Hingga tidak lagi terpedulikan jidat mengerut.

Pada kemunafikan, pada justifikasi-justifikasi tanpa aroma nurani. Agama menjadi terdakwa. Tuhanpun kemudian berada di ujung-ujung telunjuk kita. Raungan para sahaya yang bertelanjang dada diterik matahari sudah tidak lagi membuat perikemanusiaan kita terbetik. Bayi-bayi yang dilahirkan pengemis meronta di pinggir-pinggir jalan-jalan utama di kota-kota yang sudah tidak lagi bernama. Tanpa ada selera untuk kita membuka keangkuhan yang terlihat jingga di relung-relung, memeluk mereka dengan sekerat roti yang bisa kita beri. Sebegitu sudah kita berubah nista. Maka akupun hanya bisa bercerita dengan irama nestapa

17
Sep
09

Bank Syariah: Bukan Bank Islam

bankBerkisar 15 tahun saya belajar di lembaga pendidikan Islam. Dari ibtidaiyah hingga berenang di lautan kampus di IAIN Ar Raniry-banda Aceh. Kendati saya tidak mengambil Fakultas Syariah sebagai pilihan, namun hasrat untuk mengenal semua “pori-pori” Islam terus mengepung.

Saya sering berdialog tentang Islam dengan rekan-rekan. Tidak saja yang sesama Muslim, tetapi juga bahkan yang non-Muslim juga acap saya jadikan partner untuk membicarakan Islam. Ini tidak bermakna sebagai kebanggan subjektif kepada agama yang memang saya anut dari sejak saya sadar sebagai manusia. Tetapi, karena saya suka menggeluti Islam dari perspektif sejarah—disini silahkan kernyitkan dahi, kok bicarakan Syariah malah bicarakan sejarah?—. Iya, dari displin ilmu Islam yang berkaitan dengan muamalah, nyaris dihampir seluruh belahan dunia, teori-teori perbankan cukup lama terbengkalai. Hanya menjadi bahan diskusi. Menjadi bahan obrolan untuk mengangkat pamor “pembicara” sebagai orang-orang yang sangat paham dengan pengetahuan Islam, tapi nihil disisi implementasi.

Begitu, saya tidak akan membahas persoalan itu dengan gaya seorang pakar historis. Namun, lebih tertarik untuk melihat itu sebagai ujud ‘kedongkolan’ yang puluhan tahun bercokol di pikiran saya. Kenapa baru sekarang persoalan Bank Syariah lebih diseriusi? Kenapa malah dulu justru pilihan yang berhubungan dengan masalah perbankan itu seperti tidak menggugah selera untuk diimplementasikan, khususnya di Indonesia. Tapi, ini tidak bermakna saya ingin memarahi kondisi tersebut. Hanya saja, kendati sah-sah saja untuk menjadikan persoalan “lebih menguntungkan” sebagai alasan untuk lebih mengseriusi persoalan Bank Syariah. Namun, lebih ideal jika alasan untuk pengimplementasian itu mendapatkan alasan yang lebih meng-global. Intinya Bank Syariah tidak lagi harus ter-eksklusifkan sebagai Bank Islam, namun ia juga bisa memberi out put lebih bahkan kepada yang non-Muslim. Maka dari sini, jika memang kita sama setuju menyebut Bank Syariah sebagai Bank Islam, maka tanggalkan itu dulu dengan menunjukkan lebih konkret bahwa perbankan yang berlandas kepada syariah tidak mengharamkan memberi keuntungan kepada nasabah atawa siapa saja yang memiliki ketertarikan kepada lembaga perbankan tersebut.

Sebagai nasabah di salah satu Bank Syariah—tepatnya Bank Syariah Mandiri—, di Meulaboh, saya terharu dengan beberapa nasabah disana yang non Muslim, dengan tanpa beban, tidak merasa sebagai “turis” di Bank Syariah yang sering disebut sebagai hanya “miliknya” orang-orang Islam, membawa berkantong-kantong rupiah untuk ditabung disana. Karena mereka percaya dengan kelebihan institusi perbankan syariah. Apakah kedepan kondisi ini bisa tetap terjaga. Terjebolnya ekslusifitas Bank Syariah sehingga juga bisa diakses oleh yang non-Muslim menjadi penting dalam hubungan dengan hal ini. Ini kembali kepada pengelola lembaga perbankan di Indonesia, bagaimana menciptakan dengan lebih tegas bahwa Bank Syariah sama sekali jauh dari ekslusifitas. Membuktikan bahwa Bank Syariah ‘bukan’ Bank Islam. Ini penting untuk dikampanyekan secara gencar, ketika kita memang mendambakan rahmat dari keberadaan Bank Syariah bisa lebih universal dan meng-global. Sehingga memberi efek positif juga terhadap Islam sendiri yang selama ini sering hanya direkatkan dengan fundamentalisme picik. Wallaahu a’lam

Resources: http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/?p=2923

17
Sep
09

Dalail Cinta

miskin cintaCinta itu bukanlah seperti remaja yang sedang mengeja rasa. Dan, jangan sesekali menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa ia hanya layak untuk menjadi bagian dari sebuah cerita belaka, seperti yang dipaksakan ada dalam telenovela. Hari ini, ternyata kita sedang tidak lagi bisa merasa bangga untuk berbicara tentang cinta. ya, karena kita sudah mabuk dalam wacana-wacana yang kita pandang lebih berguna. Obrolan politik terlihat lebih sempurna untuk menjadi bagian dari diri kita sejati, entah agar kita bisa lebih terpublikasi dengan berharap bisa membuat tertekuk para bidadari.

Kita telah begitu meng-dewakan kedewasaan. Sehingga merasa tidak perlu lagi mengupas cinta. Ah, entahlah. Akupun tidak berani mengatakan itu sebagai sebuah ketololan, kawan.

Aku tercenung sembari mencoba untuk merenung. Apakah aku yang telah gila untuk memaksa bicara tentang cinta. Tapi, bukankah memang cinta menjadi obat mujarab yang takkan pernah bisa diramu para tabib untuk mengobati derita. Aku melihat wajah-wajah derita di kota-kota. Membaca cerita tentang orang-orang yang menderita di berita-berita media. Bukankah itu semua bisa tertanggulangi dengan cinta?

Aku hanya bicara dengan semua yang telah kupercaya. Karena saya percaya ini cinta masih lebih berharga dari logika yang dipaksakan kedalam beribu kata.

Mari pelajari cinta dengan sepenuh rasa, hingga ia kuasa menepis segala cerita durja. Musnah segala logika-logika yang justru membuat manusia semakin nista.

17
Sep
09

Puisi Matahari dan Lelaki Kusut

matahari_fickarAku harus jujur mengakui. Hari ini aku adalah laki-laki yang masih coba berbangga dengan sebuah realita. Menyapa sebuah kehidupan nyata. Dengan penampilan fisik yang kusut. Untuk sebuah sisir saja aku sudah tidak punya. Aku melegitimasi lima jari sudah cukup memadai untuk menata rambutku untuk terlihat sedikit rapi.

Iya, akulah laki-laki yang kusut yang justru sedang kuceritakan ini. Tapi, engkau tak perlu takut para sahabat-sahabat yang kucintai. Walau otakku masih berisi kegalauan atas banyak hal yang telah dengan terpaksa kutelan. Aku tidak merasa tersiksa hanya dengan sekedar rambut kusut yang nyaris tak pernah lagi kuizinkan bersenggama dengan sisir. Karena aku masih konsisten dengan seribu prinsip yang ku tulis dalam baris-baris puisi. Aku masih punya hati yang sama sekali tidaklah semrawut. 

Baik, aku akan menyebut diriku sebagai matahari, mereka yang lemah takkan pernah bisa meraba makna. Bahwa matahari menjadi energi. Ah, apakah engkau melihat ini sebagai sebentuk basa-basi yang kuakui kau benci? Tidak, tidak sahabat. Ini bukanlah basa-basi yang kupaksakan menjadi puisi. Begini, sebenarnya aku sedang mengajakmu untuk berbicara tentang hati, tetapi harus kau tepis dulu semua ngeri terhadap panas matahari.

Aku sebenarnya hanya ingin mengajakmu, ayunkan saja beribu-ribu langkah kaki dengan beribu tekad yang telah kau patri. Tapi, jangan pernah menistakan hati.

Iya, inilah ajakan sang matahari

Photo taken: http://www.bbc.co.uk/herefordandworcester/content/images/2007/09/28/sunrise_01_406×304.jpg

17
Sep
09

Perjalanan di Atas Jalan Cinta

bidadariSambil mengepak barang, pagi ini pikiranku terus saja berbicara. Bahwa, sebagai lelaki tidak perlu takut dengan beribu resiko dan tantangan. Tetapi, jangan pernah harga diri terbiarkan terinjak, atas alasan apapun. Sambil terus mengepak barang, lagi pikiranku masih terus saja berceloteh, sekarang aku sedang merasakan sebuah kondisi hidup yang harus kuakui sarat dengan ketidak pastian. Dan ini semua juga merupakan buah dari keputusanku sendiri. Walaupun ini berat dan melemparkanku pada sebentuk kemiskinan yang sangat parah.

Tapi, tunggu dulu. Apakah seorang lelaki akan memaki sebuah keputusan yang ia ambil sendiri? Sebuah keputusan yang memang lahir dari serangkaian proses perenungan, penghayatan atas makna hidup dan buah dari deklarasi untuk tidak menunduk pada beribu tantangan yang memang akan menghadang terus.

Buku-buku dengan cekatan kukepak, berat. Baju dan semua celana tanpa kulipat langsung kumasukkan kedalam koper. Kebetulan beberapa bulan menjadi penghuni disebuah kamar, disalah satu sudut Meulaboh. yang membayang di kepalaku hanyalah wajah Bapak, Ibuku dan saudara-saudaraku. Berkelebat wajah lucu keponakanku dikampung.

Semua seperti lintasan album yang dibuka cepat. Tetapi kemudian, pikiranku kembali pikiranku bicara. Lelaki mutlak harus menjunjung harga diri. Walau pengejaran pada makna hidup yang lebih baik menjadi sebuah keharusan, menjadi sebuah hal yang wajib. Ini pilihan laki.

Satu hal yang penting, jangan sakiti perasaan siapapun. Kendati aku sendiri terkadang tersakiti dengan sikap beberapa orang angkuh yang entah karena takdir harus hadir dalam kehidupanku. Kadang-kadang muncul memang perasaan bahwa aku menyesal mengenal manusia yang ternyata bukan untuk menjadi seorang saudara. Iya, sempat terbetik dikepalaku, jangnan mencari saudara saat sedang berada dibawah. Tidak akan bermakna apa-apa. Dan, memang aku harus fokus saja pada pencarian dan pengejaranku pada mimpi yang masih kuyakin bakal terujud, kendati aku dilihat mereka begitu pelan dalam melangkah. Mereka takkan bisa memahamiku. Ini lebih baik. Inilah sebuah perjalanan menapaki jalanan untuk sebuah cinta, sebuah ekspresi cinta.

Meulaboh, 170909

13
Sep
09

Manifesto Penyair Lapar

Kita tidak perlu lagi berpuisi jika puisi sudah tidak lagi kuasa memberi sugesti. Coba saja berdiri untuk melihat matahari, apakah ia juga mau berdiri? Atukah ia selalu berkeliling, mengitari bumi tanpa puisi. Ia justru datangkan begitu banyak kehidupan di bumji. Sedangkan puisi hari ini? Lebih banyak berisi caci-maki, tidak bisa memberikan apapun arti, hanya terjebak dalam definisi.

Masih ada catatan derita di jantung persada. Tetapi kita masih saja terus percaya hanya dengan kata-kata. Dan merasa itulah tahta yang bisa memupus derita rakyat jelata.

Mari, kita coba berdiri dan beranjak dari ego dan keinginan yang hanya mencerminkan libido tanpa adanya kerja secara de facto. Inilah keharusan yang idealnya akan menjadi catatan penyair sebagai manifesto.WS_Rendra

09
Sep
09

Guyon Kemajuan

Sebenarnya yang ingin aku tanyakan dalam tulisan ini adalah, bagaimana keadaan bangsa ini hari ini. Masih terjebak dengan spirit parsialitaskah?

Ah, tiba-tiba aku teringat dengan guyon yang kujawab saat seorang rekan mengajak untuk berpikir agar Aceh bisa lebih maju. Secara spontanitas saja kuberikan jawaban,”kemana Aceh ingin dimajukan, ke arah Malaysia, Singapore atau Filipina? Karena memiliki sedikit keraguan jika Aceh bisa ‘maju’ dengan posisi seperti sekarang” Titik.

Sebenarnya aku ingin menjabarkan seperti ini. Dari dulu, sejak merasa lebih ‘rajin’ dalam menelaah sejarah, dibenakku sempat terpikir bahwa Indonesia ini sangat luas. Kadang usil terpikir lagi, kenapa dulu ketika masa kemerdekaan dan beberapa Propinsi ingin menjadi negara sendiri. Justru pemerintah lebih mengandalkan senjata. Duh, kok pikiranku melantur kesana.

Jangan permasalahkan tanda tanyaku itu. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana negeri ini lebih baik. Seketika, otak pesimisku muncul—walaupun ia sering gagal dalam menduga-duga—, bahwa sampai kapanpun jika penyatuan itu masih berlandas pada keterpaksaan dan pemaksaan. Maka dengan sendirinya, sendi yang sudah dibangun itu sama sekali tidak permanen. Jadi, bukan tidak mungkin kelak gejolak yang beragam akan kembali muncul, lagi dan lagi.

Lupakan itu, tapi idealnya memang, sekarang harus betul-betul terketemukan sebuah formula yang lebih efektif untuk memajukan negeri ini. Dan itu sebenarnya bukan hanya tugas dari pemerintah saja. Kita sebagai rakyat semestnya lebih terbuka juga untuk lepaskan baju parsialitas. Dan memasang pakaian optimisme. Dan itu bukan hanya pakaian luar saja, tapi pakaian dalam juga harus betul-betul steril. Walaupun tantangan diakui kuat, tapi membawa perubahan negeri ini pasti terjadi kearah lebih baik. Tinggal, apa yang bisa kita berikan, apa yang bisa kita bagi?

tulisan setelah semalam tidak tidur.