Saya sempat pesimis berbicara pluralisme di Indonesia. Dengan pandangan saya, persoalan pengintegrasian beragam kultur, suku, bahasa, agama bukanlah sebuah kemungkinan yang terlalu simpel untuk diujudkan. Mengingat, setiap suku, setiap agama memiliki –maaf– egosentrisme tersendiri di tingkatan pemeluk-pemeluknya.
Ini mengingatkan juga saya sendiri pada beberapa pengalaman. Dari kecil sampai saya beranjak dewasa di tanoeh Aceh. Pertama, terasa sekali saat masih kecil. Di gampong saya di Jeuram, Nagan Raya juga terdapat sejumlah kecil warga non Aceh. Saya perhatikan, mereka seperti menghindar untuk mau berbaur dengan aneuek-aneuek Aceh. Telisik punya telisik, ternyata mereka lebih berpandangan bahwa orang Aceh keras kepala, tidak memiliki karakter dan beberapa pandangan yang sangat tidak mendasar lainnya—ini pikiran ketika itu—.
Kedua, waktu Aceh masih diperkosa oleh konflik, khususnya pada dekade akhir 90-an. Saat orang-orang non Aceh terusir sebagiannya karena dipandang sebagai bagian dari penjajah. Rumah-rumah masyarakat non Aceh banyak dibakar. Saling fitnah begitu mudah terjadi. Masyarakat terbentuk sudah begitu sensitif. Airmata tidak mampu lagi untuk meluluhkan hati manusia. Jeritan anak sudah tidak lagi mampu membuat perasaan tergugah. Nurani seperti mati. Itu yang tertangkap di pikiran saya kala itu.Media juga seperti gamang untuk memberitakan kebenaran. Hingga tak jarang saya perhatikan sajian dari beberapa koran dan televisi, media-media tersebut justru menjadi sumbu tambahan yang menyulut api fitnah dan permusuhan. Hingga, sering terjadi juga beberapa oknum tentara yang merasa ada keluarganya yang ‘teraniaya’ di Aceh, memilih untuk meluapkan kesumatnya saat bertugas di Aceh. Biasanya mereka cenderung lebih beringas. Aceh menjadi neraka sampai dengan tsunami tiba pada 2004 menjadi Superhero natural yang sedikit meredakan api pertikaian di Aceh. Hingga kemudian lahir perjanjian Helsinki yang menjadi titik awal RI-Aceh bisa saling lempar senyum secara leluasa lagi.
Pemandangan lainnya, ketika saya ingin menggeluti tentang hal-hal yang berbau Kristen, sampai saya meminta seorang rekan yang beragama Kristen untuk kirimkan saya buku-buku yang berbicara tentang Kristen. Sampai kemudian juga alkitab pun menjadi bagian koleksi dan bacaan saya. Yang muncul kemudian malah kecurigaan dari orang-orang disekitar saya. Bahkan, beberapa dari mereka tanpa konfirmasi menuduh saya sebagai agen missionaris. Awalnya saya menyambut dengan sedikit geram. Namun setelah mencoba memahami, justru saya tertawa. Menertawakan diri sendiri dan menertawakan bangsa sendiri. Seperti inilah bangsaku.
Selanjutnya saya mencoba menganalisis dan mengkaji-kaji ada apa dibalik ini semua. ternyata memang pelajaran yang kita dapatkan dalam keseharian dari sejak kecil tidak mengenal objektifitas. Sayaseringkali dipaksa berucap A tanpa boleh bertanya kenapa harus A. Saya dijejali makanan B, dan makanan C dilarang. Dan tidak boleh terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak bertanya hanyalah kebiasaan orang-orang Yahudi. Ternyata memang lingkungan memang menjadi hantu, ketika lingkungan tersebut terdiri dari elemen-elemen yang begitu mengkultuskan eksklusifitas.
Dari sini, saya memperhatikan. Butuh proses panjang agar tidak lagi terjadi pemenjaraan pikiran. Karena pemenjaraan itu telah terjadi begitu lamanya. Tidak butuh terlalu banyak teori untuk hal ini. Hanya saja, harus ada kesamaan dalam melihat, lebih penting manakah sesuatu yang bersifat cover saja dengan isi yang menjadi hal yang esensial. Sebenarnya negara bisa berlari lebih kencang ketika memang masyarakat kita bisa lebih bijak dalam melihat pluralisme. Dan terhindar dari sikap-sikap yang salah kaprah. Yang dengan perlahan merongrong nilai-nilai yang idealnya masih bisa ditumbuhkembangkan. Kita bisa lebih baik ketika kita bersedia untuk keluar dari kepicikan terlebih dahulu.


0 Tanggapan ke “Refleksi Pluralisme ala Bangsa Kita, versus Pesimisme”