13
Sep
09

Manifesto Penyair Lapar

Kita tidak perlu lagi berpuisi jika puisi sudah tidak lagi kuasa memberi sugesti. Coba saja berdiri untuk melihat matahari, apakah ia juga mau berdiri? Atukah ia selalu berkeliling, mengitari bumi tanpa puisi. Ia justru datangkan begitu banyak kehidupan di bumji. Sedangkan puisi hari ini? Lebih banyak berisi caci-maki, tidak bisa memberikan apapun arti, hanya terjebak dalam definisi.

Masih ada catatan derita di jantung persada. Tetapi kita masih saja terus percaya hanya dengan kata-kata. Dan merasa itulah tahta yang bisa memupus derita rakyat jelata.

Mari, kita coba berdiri dan beranjak dari ego dan keinginan yang hanya mencerminkan libido tanpa adanya kerja secara de facto. Inilah keharusan yang idealnya akan menjadi catatan penyair sebagai manifesto.WS_Rendra


0 Tanggapan ke “Manifesto Penyair Lapar”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan