Bukan lagi keluar yang harus dilihat ketika terjadi berbagai ironi. Ketika sekian banyak pendusta mencoba bicarakan kebenaran dengan ekspresi meyakinkan. Kita tidak bisa diizinkan untuk menjadi bagian dari manusia yang berkesempatan untuk beroleh anugerah yang bersifat permisif, dari kita. Karena kendati dengan geraham pun kita menggigit tradisi permisif mencuat, namun itu terus saja menggejala dan menjala ikan-ikan kecil di samudera kita yang kian keruh. Ikan-ikan kecil kebenaran yang belum bisa menunjukkan diri sesangar dan setegas hiu.
Kita masih melihat kebenaran masih menjadi bahan eksperimen yang terus dibedah, mereka mengulik-nguliknya. Laik kucing remaja yang terpesona dengan bola yang bergulir didepannya.
Kita menjadi manusia yang begitu peka pada hal-hal yang harusnya memang tidak perlu diberi stempel bertanda curiga. Dan kita secara perlahan, menjadi figur-figur mengerikan yang menjadi permisif dengan kebatilan dengan keseriusan kita melogikakan. Hingga tidak lagi terpedulikan jidat mengerut.
Pada kemunafikan, pada justifikasi-justifikasi tanpa aroma nurani. Agama menjadi terdakwa. Tuhanpun kemudian berada di ujung-ujung telunjuk kita. Raungan para sahaya yang bertelanjang dada diterik matahari sudah tidak lagi membuat perikemanusiaan kita terbetik. Bayi-bayi yang dilahirkan pengemis meronta di pinggir-pinggir jalan-jalan utama di kota-kota yang sudah tidak lagi bernama. Tanpa ada selera untuk kita membuka keangkuhan yang terlihat jingga di relung-relung, memeluk mereka dengan sekerat roti yang bisa kita beri. Sebegitu sudah kita berubah nista. Maka akupun hanya bisa bercerita dengan irama nestapa


0 Tanggapan ke “Tuhan di Ujung Telunjuk”