Arsip untuk Oktober, 2009

28
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis (Mencatat Kebodohan)

IMG_1369Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

(Sebuah renungan kecil)

28
Okt
09

Renungan Lelaki Lajang saat Hujan

IMG_1366Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”

Sering, saya dibuat tersenyum sendiri dengan gaya SMS rekan-rekan saya itu. Juga sering terjadi dengan teman-teman yang saat malam pertama setelah nikah, langsung mengbombardir Seluler saya dengan pesan pendeknya:” Bro, aku duluan okey, ahhhh.” SMS yang membuat jengah dan juga menimbulkan tanya pada diri sendiri. Sekian banyak sudah teman, sahabat yang “memprovokasi” saya untuk terus menikah. Tunggu apalagi, katanya. Berbicara usia, sudah sangat layak disebut matang. Secara profesi, walaupun terkadang hanya sebagai freelancer, namun tetap juga memiliki ruang untuk terus menambah rejeki. Begitu khotbah-khotbah mereka. Meski, saat akan mengambil keputusan menikah, dulu justru mereka yang meminta saya “berkhotbah” dengan saran-saran saya.

Tetapi, lagi dan lagi saya masih tetap bergumul dengan ‘idealisme’ saya sendiri. Bahwa, untuk menikah itu tidak cukup hanya dengan kemauan. Untuk menikah butuh kematangan dari segala hal. Pattern pikiran saya ternyata sangat perfeksionis. Apalagi memang, dengan keterbukaan saya bergaul dengan banyak orang dan lintas usia, pekerjaan dan status sosial. Saya menemukan tidak sedikit keluhan.

Sebut saja Zainal (bukan nama sebenarnya), ia berujar:” aku sebenarnya memang harus mengsyukuri dengan istri yang saya miliki. Ia punya wajah yang cantik, tidak kalah dengan artis. Tetapi jangan kamu kira aku sudah sangat enak hidupnya. Secara kebutuhan seks mungkin terpenuhi. Namun, kalau mengajak diskusi tentang perihal yang sedikit serius yang aku temui sehari-hari, ia tidak nyambung Bro. Itu yang sering bikin saya jengkel. Karena memang menikah itu, disana istri tidak hanya untuk kebutuhan seks. tapi bagaimana ia juga idealnya juga bisa membantu kita mikir, aduh.” Keluar puisi keluhan dari mulutnya.

Pada kasus lain, seorang rekan yang juga tidak kalah ganteng dari saya hehe, juga mengelurkan sajak-sajak keluhan,”aku kemarin nekat untuk menikah, apalagi dengan istriku itu sudah PNS, setidaknya ia sudah lebih mapan. Saya sendiri bisa bekerja apa saja. Tapi yang terjadi sekarang, saya justru minder dengan sendirinya, oleh sebab penghasilan istri saya jauh lebih tinggi dari saya sendiri. Seringkali terjadi, seharian terkadang saat tidak ada kegiatan aku menjadi pengasuh anak. Jujur, aku merasa menjadi suami yang tidak berharga.”

Menyimak mereka dan beberapa hasil diskusi lain yang tidak saya tuliskan disini, saya semakin “memaksa” diri untuk memutuskan menikah. Mungkin, memang saya sendiri yang sudah membuat penjara dari besi yang terlalu kuat, entahlah

27
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis

riverSaya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana childrencamp,241009 239saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

 

(Sebuah renungan kecil)

18
Okt
09

Berbicara tentang Kelemahan

bersamakuKata lemah tidak hanya ada dalam kamus-kamus bahasa. Ia ada dan berintegrasi dalam jiwa kita. Sesekali ia mencuat. Menghancurkan, mematahkan bahkan menghilangkan. Tidak jarang ketakutan muncul dihadapan kata yang terdiri dalam lima huruf itu.

Untuk fisik, sebagian dari kita memilih nutrisi yang memadai dan berbagai langkah lain untuk mengembalikan kekuatannya. Bagaimana halnya dengan jiwa? Saya teringat seorang rekan yangmengkritisi merebaknya buku-buku self-help yang dengan mudah ditemui di pasar-pasar dan bahkan di kaki lima. Ia berpandangan bahwa orang-orang yang membaca buku tersebut sebagai bagian dari orang-orang yang cengeng, yang tidak berani berhadapan dengan kekalahan. Sedangkan, mau baca atau tidaknya buku-buku tersebut, tetap saja ketika kemalangan harus terjadi tetap saja ia akan terjadi. Seperti itu ia berujar.

Karena saya sendiri memang bukan tipikal yang suka berdebat, maka saya hanya mencoba merenunginya saja tanpa tertarik untuk mencoba membantah. Kendati, saya suka berpikir dari dua sisi dalam melihat sebuah kondisi, dalam melihat apa saja. Tidak melulu pada baiknya saja, atau pada buruknya saja. Bila ketika itu saya pergunakan sudut pandang yang berlawanan dengannya yang juga tumbuh di pikiran saya, sepertinya tidak akan ketemu. So, dalam hal itu pikiran saya lebih tertuju pada, bahwa setiap kita memiliki strategi tersendiri dalam penyelesaian masalah. Hanya saja, apakah dengan keyakinan seperti itu lantas menutup diri dari pengalaman orang-orang yang berada di sekitar kita? Saya kira tidak, karena dengannya justru menjadi pelajaran untuk kita ketika mungkin mengalami hal yang persis serupa