Kata lemah tidak hanya ada dalam kamus-kamus bahasa. Ia ada dan berintegrasi dalam jiwa kita. Sesekali ia mencuat. Menghancurkan, mematahkan bahkan menghilangkan. Tidak jarang ketakutan muncul dihadapan kata yang terdiri dalam lima huruf itu.
Untuk fisik, sebagian dari kita memilih nutrisi yang memadai dan berbagai langkah lain untuk mengembalikan kekuatannya. Bagaimana halnya dengan jiwa? Saya teringat seorang rekan yangmengkritisi merebaknya buku-buku self-help yang dengan mudah ditemui di pasar-pasar dan bahkan di kaki lima. Ia berpandangan bahwa orang-orang yang membaca buku tersebut sebagai bagian dari orang-orang yang cengeng, yang tidak berani berhadapan dengan kekalahan. Sedangkan, mau baca atau tidaknya buku-buku tersebut, tetap saja ketika kemalangan harus terjadi tetap saja ia akan terjadi. Seperti itu ia berujar.
Karena saya sendiri memang bukan tipikal yang suka berdebat, maka saya hanya mencoba merenunginya saja tanpa tertarik untuk mencoba membantah. Kendati, saya suka berpikir dari dua sisi dalam melihat sebuah kondisi, dalam melihat apa saja. Tidak melulu pada baiknya saja, atau pada buruknya saja. Bila ketika itu saya pergunakan sudut pandang yang berlawanan dengannya yang juga tumbuh di pikiran saya, sepertinya tidak akan ketemu. So, dalam hal itu pikiran saya lebih tertuju pada, bahwa setiap kita memiliki strategi tersendiri dalam penyelesaian masalah. Hanya saja, apakah dengan keyakinan seperti itu lantas menutup diri dari pengalaman orang-orang yang berada di sekitar kita? Saya kira tidak, karena dengannya justru menjadi pelajaran untuk kita ketika mungkin mengalami hal yang persis serupa


0 Tanggapan ke “Berbicara tentang Kelemahan”