Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.
Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.
Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.
Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak
(Sebuah renungan kecil)


NIkmatilah semua berkat dan rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan untuk kamu… dan berbagilah terus dengan yang lain… tulisan-tulisan yang kamu buat bisa membuka hati dan pikiran banyak orang… untuk bisa lebih mensyukuri segala nikmat dan juga kepedihan yang memang selalu ada hikmahnya… teruslah berkarya!!!
Terima kasih Mbak untuk dukungannya yang sangat berharga ini