Arsip untuk Kategori 'DUNIA MENULIS'

07
Sep
09

Trend Menulis, Koran dan Kemiskinan

kompas3_1Dari Lomba Penulisan yang diadakan Impact. Kendati saya hanya berhasil menempati peringkat V atawa juara harapan II. Namun, dari sini saya mengira bahwa, menulis sepertinya bisa menjadi sebuah ladang untuk melepaskan manusia dari kemiskinan.

Memang kita akui, dan saya sendiri sangat bisa merasakan, bukan pekerjaan mudah untuk bisa mendudukkan sebuah karya tulis bisa diterima oleh mereka pemegang ‘otoritas’ dunia kepenulisan. Katakanlah media massa yang memang sudah punya kelas lebih dibandingkan dengan media lainnya. Di Indonesia, sebut saja Kompas atau Republika. Untuk bisa menembus kedua koran tersebut diakui oleh banyak ‘pencoba’ kegiatan menulis sebagai pilihan hidup nyaris didera frustasi. Meski mereka kemudian bisa munculkan keunikan, dalam arti mereka kemudian bisa keluarkan buku dari tulisan mereka sendiri tetapi mereka tidak berkesempatan untuk menyaksikan tulisan-tulisannya di koran sekaliber Kompas, republika atau Tempo–Saya lebih melihat 3 koran tersebut cukup mempu meng-highlight diri sehingga sangat diminati dan sering dijadikan referensi–.

Ketiga koran itu bisa disebut sebagai koran kaya, seperti halnya beberapa koran lain seperti Sindo, Jawapos dsb.

Sering terjadi semua koran tersebut lebih mampu untuk membayar penulis yang mau berkontribusi untuk content media mereka. Hanya saja, tentu tempo koranbukan hal mudah untuk menembus media-media itu. Terkadang, saya berpikir, andai saja menyediakan ruang-ruang khusus untuk penulis-penulis yang berlatar belakang ekonomi rendah, mungkin sedikitnya mereka bisa lebih antusias belajar menulis, memperkaya dunia kepenulisan nusantara, dan bagi penulis itu sendiri lebih terbuka kesempatan agar dapurnya bisa tetap mengepul. Entahlah

07
Sep
09

Jago Nulis (Apa itu?)

Memang, persoalan menulis menjadi sebuah my wealthpertanyaan dan PR bagi tidak sedikit orang. Bahkan saya sendiri juga merasakan itu. Bagaimana yang disebut jago nulis? Apa itu penulis yang hebat? Bagaimana mengukurnya? Apakah banyak orang membaca sebuah tulisan telah cukup menjadi sebuah indikator? Indikator bahwa tulisan tersebut telah bisa dikatakan sebagai sebuah tulisan yang baik. Dan selanjutnya penulisnya layak disebut sebagai penulis yang hebat?

Saya kira tidak demikian. Saya lebih berpandangan bahwa tulisan yang baik dan seorang penulis hebat itu, tidak terukur dari seberapa taat ia pada berhala peraturan menulis. Atau pada bagaimana orang begitu menikmati tulisannya. Sedangkan persoalan apakah tulisan tersebut telah bisa memberi pengaruh terhadap pembacanya ataukah tidak, tidak terlalu menjadi perhatian.

Saya suka menyebut penulis yang baik itu sebagai penulis yang mampu mengprovokasi, yang bisa memberi inspirasi kepada pembacanya. Hal itu yang coba saya simpulkan–tidak dalam kapasitas saya sebagai penulis, tapi dalam posisi saya sebagai seorang pembaca–.

fight with thoughDalam beberapa catatan sejarah, sering kita temukan beberapa figur yang tersugesti melakukan perubahan setelah membaca sebuah tulisan. Baik berupa buku atau bahkan artikel. Seperti Fidel Castro yang berani mengambil sikap setelah membaca Das Kapital. Seperti pejuang Aceh jaman dulu yang tergerak semangat juangnya dengan membaca hikayat Perang Sabil. Juga tokoh-tokoh nasional di jaman kemerdekaan yang terinspirasi dengan banyak ide-ide, pemikiran-pemikiran yang tertuang didalam berbagai buku. Mereka membaca, dan kemudian mereka menulis sembari mereka juga melakukan apa yang ditelurkan dalam pemikirannya. Sehingga saat mereka mati pun, tulisan itu masih mampu menggerakkan banyak orang. Ini saya kira merupakan sebuah bentuk tulisan yang baik, dan ini tipikal dan karakter penulis yang hebat. Penulis yang tidak hanya melacurkan kata-kata dengan melupakan tujuan yang lebih esensial, memberi pengaruh baik kepada pembacanya.

Terkadang, tak jarang saya seperti menangkap adanya trend ditengah para penulis, bahwa dengan banyaknya pembaca mereka telah menjadi sebuah terminal yang layak dibanggakan. Dimana-dimana mempublikasikan bahwa ia telah berhasil menjadi penulis best seller. Satu sisi, karir kepenulisannya semakin baik, ia semakin mendapat tempat. Tetapi sebagai bagian dari pembaca berbagai buku dan tulisan. Saya kecewa dengan begitu banyak buku yang hanya anggun disisi sampul dan ide yang dicoba kemas tapi lemah di sisi esensi dan tujuan yang idealnya lebih dicapai. Dan yang terjadi adalah pengibulan terhadap pembaca dan hanya memberi mereka sekadar rangsangan yang hanya di sampul.

Semoga saja, negeri ini kedepan bisa lebih punya penulis-penulis handal dan bisa menggugah rakyat untuk lebih bangkit

renungan dari pelatihan jurnalistik KKSP, 6-7 Sept 2009

06
Sep
09

Mimpi Tetaskan Penulis (Catatan Seorang Trainer)

penaHari ini aku berkesempatan untuk kembali bisa berdiri di depan anak-anak. Disana aku menjadi pemateri untuk Pelatihan Jurnalistik Remaja yang diselenggarakan KKSP Meulaboh dan Terre des Hommes.

Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari Pelatihan yang saya tangani hari ini. Pertama, praktik menulis belum menjadi sebuah kegiatan yang sangat menarik buat mereka. Kedua, masih ada realitas yang menunjukkan—berdasar kejujuran mereka—, bahwa selama ini pihak sekolah belum benar-benar mampu untuk menumbuhkan minat dan ketrampilan menulis tersebut. Saya sendiri menyimpan keheranan tersendiri dalam hal ini. Bukan apa-apa, tetapi merasakan ini sebagai sebuah hal yang ironis. Dari 30 peserta, hanya 2 saja yang terlihat memiliki minat dan ketrampilan menulis lumayan baik.

Dari sini, saya jadi mencoba menasehati diri sendiri. Bahwa untuk sebuah Pelatihan seperti ini, saya mencoba yakinkan diri untuk tidak terlalu muluk untuk bisa mencetak mereka secara keseluruhan bisa menjadi penulis. Disini ada minta yang akan mempengaruhi, ada latar belakang dan pengetahuan dasar atas seberapa penting kegiatan menulis buat mereka. Ini satu hal yang sering saya tekankan pada diri sendiri ditengah semua proses yang saya lakukan dalam Pelatihan tersebut.

Disana, aku sempatkan juga untuk mengangkat beberapa figur remaja yang masih sangat muda tapi telah berkiprah luar biasa dalam dunia kepenulisan. Berharap dengan cerita seperti itu, para peserta yang rata-rata masih SMP dan SMA itu bisa lebih tersugesti dan berani merambah dunia kepenulisan. Saya coba untuk sebutkan beberapa keuntungan yang mungkin mereka peroleh jika mereka bisa menjadi seorang penulis.

fick on actionBeberapa dari mereka memang menunjukkan keseriusan dan minat, tetapi masih tidak sedikit yang pesimis dengan kemampuan mereka sendiri. Ini kukira sebagai sebuah tantangan yang memang harus aku taklukkan. Mimpiku yang belum kuijinkan untuk beranjak adalah keinginan untuk melihat mereka menjadi penulis–jika memang mungkin–sampai kaliber internasional. yang saya berikan tidaklah pada hal-hal yang terlalu bersifat teknis. Tapi lebih ke arah motivasional. Karena saya percaya persoalan kemahiran dan praktik akan sangat dipengaruhi oleh kesediaan mereka untuk keluar dari pesimisme atas kemampuan yang mereka miliki.

Meulaboh, 6  Sept 2009

Catatan dari Pelatihan Jurnalistik, KKSP Meulaboh

26
Feb
09

Menunggu Generasi Penulis, Kapan?

images1Saya belum menemukan kebiasaan membaca sebagai hal penting dalam budaya keseharian bangsa ini. Apalagi kalau berbicara  tradisi selangkah kedepannya, menulis. Juga masih belum menggembirakan. Mungkin beberapa pertanyaan sederhana akan dihadapkan, terkait persoalan itu, apa pentingnya menulis? Buat apa menulis? Apa keuntungan menulis? Sering terlihat mereka-mereka yang belum merasakan menulis sebagai sebuah kebajikan, sebagai sebuah tabungan amal, yang akan tetap memberi dampak positif pada penulis sekalipun kelak ia mati, merasa telah menang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut.

Padahal, sebagian yang lain yang telah berkiprah dalam dunia kepenulisan telah menunjukkan sisi plus dari aktifitas menulis dengan kerja mereka. Bagaimana mereka sebenarnya telah berhasil menunjukkan diri sebagai bagian pelaku perubahan ke arah dunia yang lebih beradab, lebih baik dengan sumbangsih pemikiran mereka. Seharusnya bangsa kita merasa iri dan malu dengan founding father, karena dalam hal yang satu ini mereka lebih unggul dibandingkan dengan ‘manusia sekarang’ yang sering mengklaim diri lebih unggul. Sederet nama bisa ditunjukkan, mereka telah menulis namanya dengan tinta emas, kendati yang mereka sumbangkan untuk bangsa ini ‘hanya’ berupa pemikiran.

Sebut saja Hamka, Mohd Natsir, Soekarno dan sederet nama lainnya. Tubuh-tubuh mereka mungkin hari ini boleh sudah menyatu dengan tanah, namun mereka sebenarnya masih hidup. Hidup dalam obrolan-obrolan (baca: diskusi) yang diucapkan dari mulut-mulut manusia yang mencintai kemajuan kemanusiaan. Dan bagaimana mereka juga telah banyak menunjukkan hasil sebagai figur-figur inspirasional. Masih punya daya untuk menggerakkan manusia dari balik tanah kubur yang memeluknya.

Saya membayangkan, anak-anak kita hari ini dan besok menjadi anak-anak yang mencintai membaca dan membaca. Selanjutnya merekapun menjadi figur-figur yang diperhitungkan, tidak saja di tingkatan nasional tetapi bahkan internasional. Seperti halnya yang diperankan oleh J.K Rowling, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Freud, Harun Yahya, David J. Schwartz, Annemarie Schimmel dan figur-figur yang telah memberi kontribusi tidak sederhana untuk kemajuan dunia. Mereka telah melepaskan pikiran mereka dari diri, dari negeri dan merangkak pada permukaan kemanusiaan sejati. Bisakah kita bisa memunculkan generasi yang lebih piawai, lebih diperhitungkan daripada mereka yang telah lebih dulu hidup? Usaha kita hari ini yang akan memberikan jawabannya besok pagi.

29
Agu
08

Menulis, untuk Apa?

Bisa saja terbetik beragam alasan untuk seseorang menulis. Untuk kepuasan batin, untuk popularitas, atau untuk apapun. Tidak ada yang salah terkait dengan apapun yang melandasi seseorang untuk menulis.

Namun, saya melihat, landasan untuk menulis sangat berpengaruh pada ‘power’ dari sebuah tulisan yang dihasilkan. Disini saya mencontohkan dengan tulisan Imam al Ghazali dengan tulisannya yang masih bertahan ratusan tahun dan sampai sekarang masih dengan mudah bisa ditemui dalam beragam bahasa-bahasa dunia. Sebut saja Ihya’ Ulumuddin—sebagai satu contoh dari banyaknya penulis kesohor lainnya—, sebuah tulisan yang tidak saja dibaca oleh Muslim kendati yang dibahas dalam buku ini tidak jauh-jauh dari nilai dan kandungan dalam Islam, namun juga dibaca oleh banyak non-muslim.

Dari situ tercetus tanya dikepala saya, bagaimana sebuah tulisan itu bisa memiliki energi sebegitu kuat, sehingga bisa bertahan sedemikian lama. Sebelumnya, sempat tersimpulkan dikepala saya beberapa kemungkinan:

1. Ilmu yang dimiliki oleh penulisnya yang sudah sedemikian tinggi

Cuman, jika ini menjadi penyebabnya, saya sendiri bingung, apa yang bisa dijadikan sebagai indikator kuat seseorang bisa dikatakan bisa berilmu tinggi. Karena tentu saja, kekuatan sebuah pengetahuan tidak bisa disamakan dengan tokoh kanak-kanak Power Rangers, kekuatannya terukur dari kemampuan mereka yang selalu bisa menaklukkan semua musuhnya. Ini jelas berbeda.

2. Waktu pencarian pengetahuan yang lama

Ya, bisa saja ini benar. Sebab dengannya akan membuat seorang penulis bisa memiliki banyak komparansi, banyak perbandingan yang selanjutnya akan dengan sendirinya menjadi suplemen  terhadap kekuatan tulisannya. Tetapi saya tidak yakin ini sebagai sebuah kemutlakan.

3. Proses penghayatan yang maksimal

Juga bisa jadi ini benar. Hanya saja, ini juga terasa mengambang. Karena ini melahirkan satu tanda tanya baru, pada titik mana sebuah penghayatan bisa dikatakan maksimal.

4. Orientasi

Belajar dari beberapa penulis—lepas apapun genre tulisannya—, mereka terlihat memang mengabdi penuh pada tulisannya. Apa yang bisa membuat tulisannya menarik? Selain, terasa benar, mereka seringkali menulis dan melihat tulisannya tidak serta merta dari sudut pandang pribadi saja, tetapi juga melihatnya dari pandangan luar dari dirinya. Intinya, saya sedikit teryakinkan, keobjektifan sebuah tulisan sangat berpengaruh pada power tulisan tersebut.

Sejauh itu, saya kira, ini semua memang juga masih bisa dan sangat berpeluang untuk diperdebatkan.Zulfikar Akbar.