Dari Lomba Penulisan yang diadakan Impact. Kendati saya hanya berhasil menempati peringkat V atawa juara harapan II. Namun, dari sini saya mengira bahwa, menulis sepertinya bisa menjadi sebuah ladang untuk melepaskan manusia dari kemiskinan.
Memang kita akui, dan saya sendiri sangat bisa merasakan, bukan pekerjaan mudah untuk bisa mendudukkan sebuah karya tulis bisa diterima oleh mereka pemegang ‘otoritas’ dunia kepenulisan. Katakanlah media massa yang memang sudah punya kelas lebih dibandingkan dengan media lainnya. Di Indonesia, sebut saja Kompas atau Republika. Untuk bisa menembus kedua koran tersebut diakui oleh banyak ‘pencoba’ kegiatan menulis sebagai pilihan hidup nyaris didera frustasi. Meski mereka kemudian bisa munculkan keunikan, dalam arti mereka kemudian bisa keluarkan buku dari tulisan mereka sendiri tetapi mereka tidak berkesempatan untuk menyaksikan tulisan-tulisannya di koran sekaliber Kompas, republika atau Tempo–Saya lebih melihat 3 koran tersebut cukup mempu meng-highlight diri sehingga sangat diminati dan sering dijadikan referensi–.
Ketiga koran itu bisa disebut sebagai koran kaya, seperti halnya beberapa koran lain seperti Sindo, Jawapos dsb.
Sering terjadi semua koran tersebut lebih mampu untuk membayar penulis yang mau berkontribusi untuk content media mereka. Hanya saja, tentu
bukan hal mudah untuk menembus media-media itu. Terkadang, saya berpikir, andai saja menyediakan ruang-ruang khusus untuk penulis-penulis yang berlatar belakang ekonomi rendah, mungkin sedikitnya mereka bisa lebih antusias belajar menulis, memperkaya dunia kepenulisan nusantara, dan bagi penulis itu sendiri lebih terbuka kesempatan agar dapurnya bisa tetap mengepul. Entahlah
pertanyaan dan PR bagi tidak sedikit orang. Bahkan saya sendiri juga merasakan itu. Bagaimana yang disebut jago nulis? Apa itu penulis yang hebat? Bagaimana mengukurnya? Apakah banyak orang membaca sebuah tulisan telah cukup menjadi sebuah indikator? Indikator bahwa tulisan tersebut telah bisa dikatakan sebagai sebuah tulisan yang baik. Dan selanjutnya penulisnya layak disebut sebagai penulis yang hebat?
Dalam beberapa catatan sejarah, sering kita temukan beberapa figur yang tersugesti melakukan perubahan setelah membaca sebuah tulisan. Baik berupa buku atau bahkan artikel. Seperti Fidel Castro yang berani mengambil sikap setelah membaca Das Kapital. Seperti pejuang Aceh jaman dulu yang tergerak semangat juangnya dengan membaca hikayat Perang Sabil. Juga tokoh-tokoh nasional di jaman kemerdekaan yang terinspirasi dengan banyak ide-ide, pemikiran-pemikiran yang tertuang didalam berbagai buku. Mereka membaca, dan kemudian mereka menulis sembari mereka juga melakukan apa yang ditelurkan dalam pemikirannya. Sehingga saat mereka mati pun, tulisan itu masih mampu menggerakkan banyak orang. Ini saya kira merupakan sebuah bentuk tulisan yang baik, dan ini tipikal dan karakter penulis yang hebat. Penulis yang tidak hanya melacurkan kata-kata dengan melupakan tujuan yang lebih esensial, memberi pengaruh baik kepada pembacanya.
Hari ini aku berkesempatan untuk kembali bisa berdiri di depan anak-anak. Disana aku menjadi pemateri untuk Pelatihan Jurnalistik Remaja yang diselenggarakan KKSP Meulaboh dan Terre des Hommes.
Beberapa dari mereka memang menunjukkan keseriusan dan minat, tetapi masih tidak sedikit yang pesimis dengan kemampuan mereka sendiri. Ini kukira sebagai sebuah tantangan yang memang harus aku taklukkan. Mimpiku yang belum kuijinkan untuk beranjak adalah keinginan untuk melihat mereka menjadi penulis–jika memang mungkin–sampai kaliber internasional. yang saya berikan tidaklah pada hal-hal yang terlalu bersifat teknis. Tapi lebih ke arah motivasional. Karena saya percaya persoalan kemahiran dan praktik akan sangat dipengaruhi oleh kesediaan mereka untuk keluar dari pesimisme atas kemampuan yang mereka miliki.
Saya belum menemukan kebiasaan membaca sebagai hal penting dalam budaya keseharian bangsa ini. Apalagi kalau berbicara tradisi selangkah kedepannya, menulis. Juga masih belum menggembirakan. Mungkin beberapa pertanyaan sederhana akan dihadapkan, terkait persoalan itu, apa pentingnya menulis? Buat apa menulis? Apa keuntungan menulis? Sering terlihat mereka-mereka yang belum merasakan menulis sebagai sebuah kebajikan, sebagai sebuah tabungan amal, yang akan tetap memberi dampak positif pada penulis sekalipun kelak ia mati, merasa telah menang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut.

