Tan Malaka mengdebat Tuhan dalam bukunya: Madilog. “Kenapa Tuhan membenci makhluk yang Ia ciptakan sendiri?”. Tentu, yang disorot oleh Tan Malaka adalah binatang semisal babi dan anjing yang dalam Islam memang diharamkan.
Saya sempat tercenung lama oleh ‘celetukan’ Tan Malaka di buku yang sangat dicari oleh banyak aktifis pergerakan di Indonesia, mungkin sebuah keberuntungan saya bisa membaca buku ini ketika itu. Cuman, yang kemudian saya katakan pada diri sendiri hanya seuntai kalimat sederhana,“cukup pentingkah memperdebatkan hal itu?”
Berbicara Tuhan, merujuk pada pendapat seorang rekan, Saiful Mahdi pada sebuah seminar di PP Cafe tahun lalu, memang bisa memicu perdebatan yang sulit menemukan ujungnya, tidak bisa menjadikan logika sebagai standar kebenaran dalam hal yang satu ini. Berbicara Tuhan memang merupakan pembicaraan pada keyakinan yang tidak bisa di tangkap indra.
Saya sendiri hanya mengatakan, dunia fisik, sesuatu yang bisa diraba dengan fisik adalah hal-hal yang sangat sederhana. Punya batasan dan keterbatasan. Sedangkan dunia kepercayaan adalah lautan yang tidak bertepi. Sehingga, dalam hal kepercayaan, meregang nyawa dalam pertempuran untuk membela keyakinan menjadi hal yang sah saja.
Saya mengulang-ulang pada diri sendiri mengatakan, logika itu masih berada pada tataran yang sangat sederhana—tidak bermakna mengecilkan fungsi logika—, tetapi ada esensi kebenaran yang itu hanya bisa teraba oleh hati dan nurani yang jernih. Socrates, Aristoteles miliki itu. Muhammad, Jesus miliki itu, cuma terkadang kita saja yang telah memenjarakan diri pada hal-hal yang sederhana, maka kemudian fungsi agama sebagai representasi introduksi mazhab Tuhan yang penuh cinta tersamarkan. Iya oleh kita sendiri
Wallaahu a’lam

