Arsip untuk Kategori 'GAMPOENG'

18
Okt
09

Berbicara tentang Kelemahan

bersamakuKata lemah tidak hanya ada dalam kamus-kamus bahasa. Ia ada dan berintegrasi dalam jiwa kita. Sesekali ia mencuat. Menghancurkan, mematahkan bahkan menghilangkan. Tidak jarang ketakutan muncul dihadapan kata yang terdiri dalam lima huruf itu.

Untuk fisik, sebagian dari kita memilih nutrisi yang memadai dan berbagai langkah lain untuk mengembalikan kekuatannya. Bagaimana halnya dengan jiwa? Saya teringat seorang rekan yangmengkritisi merebaknya buku-buku self-help yang dengan mudah ditemui di pasar-pasar dan bahkan di kaki lima. Ia berpandangan bahwa orang-orang yang membaca buku tersebut sebagai bagian dari orang-orang yang cengeng, yang tidak berani berhadapan dengan kekalahan. Sedangkan, mau baca atau tidaknya buku-buku tersebut, tetap saja ketika kemalangan harus terjadi tetap saja ia akan terjadi. Seperti itu ia berujar.

Karena saya sendiri memang bukan tipikal yang suka berdebat, maka saya hanya mencoba merenunginya saja tanpa tertarik untuk mencoba membantah. Kendati, saya suka berpikir dari dua sisi dalam melihat sebuah kondisi, dalam melihat apa saja. Tidak melulu pada baiknya saja, atau pada buruknya saja. Bila ketika itu saya pergunakan sudut pandang yang berlawanan dengannya yang juga tumbuh di pikiran saya, sepertinya tidak akan ketemu. So, dalam hal itu pikiran saya lebih tertuju pada, bahwa setiap kita memiliki strategi tersendiri dalam penyelesaian masalah. Hanya saja, apakah dengan keyakinan seperti itu lantas menutup diri dari pengalaman orang-orang yang berada di sekitar kita? Saya kira tidak, karena dengannya justru menjadi pelajaran untuk kita ketika mungkin mengalami hal yang persis serupa

09
Sep
09

JEURAM

JEURAMRasa miris muncul ketika berdialog lewat Facebook dengan seorang kenalan. Setelah ia munculkan sebuah pertanyaan selepas ia minta maaf sebelumnya,”maaf, dek, Jeuram itu dimana?”

Sempat lama saya tercenung. Bukan marah, bukan geram atau perasaan negatif lainnya. Hanya saja terbetik semacam keheranan, plus sebuah kesimpulan,”Jeuram belum dikenal luas.”

Padahal, jamak orang Aceh pernah mendengar tentang Rameunee. Sebuah gelar yang dinisbahkan kepada Jeuram. Walaupun Jeuram yang sebenarnya merupakan sebuah Kota Kecil sekaligus ‘pusat Kabupaten’ Nagan Raya. Terpikir olehku, bukankah seharusnya Jeuram sudah lebih dikenal. baik dengan keunikanya disisi tradisi yang lazim dipandang berbeda dari umumnya masyarakat Aceh, dengan aksen bahasa yanglebih lugas—menghindari penyebutan kasar— dari umumnya masyarakat Aceh daerah lainnya. Tapi ini sebuah kenyataan, Jeuram tidak dikenal oleh orang Aceh sendiri. Ironis

Apa yang bisa kusimpulkan dari kenyataan ini, ternyata kendati selama ini Jeuram sering diklaim sebagai tempat yang banyak melahirkan orang-orang cerdas. Orang-orang yang tidak hanya bermain di tingkat lokal propinsi dan nasional saja, tapi memang banyak yang juga menempuh pendidikan sampai keluar negeri. Namun proses dialog singkat saya dengan kenalan baru tadi menjadi sebuah cermin, Jeuram belum dikenal. Dan ini menjadi sebuah indikasi, masih sangat minim putra/i Jeuram yang mau mengangkat nama daerahnya.

Seketika, kembali pikiranku berkelebat ketika aku masih menuntut ilmu di IAIN Ar Raniry Banda Aceh. Seorang Dosen Senior menanyakan kepadaku darimana asalku. Dengan tenng aku menjawa, saya dari Jeuram. Apa yang selanjutnya diutarakan oleh dosenku juga tidak kalah mencengangkan,”Saya sudah pernah KKN dulu semasih mahasiswa ke Jeuram. Tetapi ada namanya, misal Blang apa gitu. Kalau kamu menyebut berasal dari Jeuram, harusnya kamu juga sebutkan desanya apa?” Tiba-tiba saja saya langsung jawab dengan setengah tersenyum,”Iya saya dari desa Jeuram.”

Dosen itu kembali membantah,”jika seseorang tinggal di Banda Aceh, ia pasti bisa menjawab, apakah ia di Kampung Mulia, di Beurawee, di Ulee Lheue atau dimana gitu. Jelasnya, ada namanya yang lebih jelas. Seseorang sampai di Banda Aceh, ia bisa saja di desa-desa tersebut. Tidak seperti kamu menjawabnya. Ditanyakan tentang Jeuram, malah kamu menjawab di Desa Jeuram. Itu Jeuram memang ada, tapi hanya sebutan, tapi untuk desa, ada nama lain. Misal..Blang apa gitu.”

Dosen ini mengdikteku lagi. Dalam hati aku sempat ngedumel juga. Wong, aku memang asli dari gampong Jeuram. Kok Beliau ini yang hanya KKN, dengan waktu yang sudah puluhan tahun silam lagi, masih mendebat saya yang memang asli dari Jeuram. Aneh Bapak ini, pikirku. Karena dasarnya saya paling malas berdebat, ya sudah. Saya hanya menjawab tegas,”Jeuram ya Jeuram, tidak bisa disamakan dengan Banda Aceh dong,” Namun Dosen tersebut masih saja bersikeras dengan pandangannya. Karena merasa malu didepan mahasiswa lainnya yang juga sudah full dalam ruang kuliah, entahlah.

Tapi ini satu realitas. Ternyata harus ada proses kampanye lebih intens untuk memperkenalkan Jeuram keluar daerah. Dan ini tentu saja dari anak-anak daerah tersebut. Saya pribadi, yang paling bisa saya lakukan adalah menyebut desa ini sebagai bagian dari banyak tulisan saya. Jadi dengan sendirinya Jeuram ini sudah lebih dikenal. Ah, semoga saja aneuk Jeuram lebih membuka diri untuk juga sudi memperkenalkan daerahnya ebih ekstra, sehingga jika ada dialog yang menyertakan Jeuram, tidak ada lagi timbul pertanyaan,”Jeuram itu dimana ya dek?”

06
Sep
09

Menyikapi Perbedaan ala Indonesia

perbedaanKita sudah menjadi semakin beringas. dan itu masih saja kita pertontonkan, entah untuk siapa. Malam, dalam sebuah obrolan kecil, seorang rekan yang lebih muda dariku mengeluhkan persoalan keleluasaan ia mencari keyakinannya. Ia mengvonis, sulit. Tidak seenteng mengisap rokok putih yang saat itu berada di sela-sela jarinya.

Ia belajar dari memahami tentang komunisme yang dimatanya kala itu, kala gelora jiwa mudanya sedang dalam pergulatan hebat, terlihat sangat heroik dan lebih menyentuh kepentingan rakyat, ia memijakkan kaki dan sentuhkan pikirannya kesana. Yang dia temukan dari pilihannya adalah tuntutan untuk ‘merdeka’. Bebas dari tekanan, tapi secara tidak tersengaja ia tetap harus masuk kedalam pusaran arus sekelilingnya yang begitu deras.

Beberapa detik aku coba telusuri ekspresi wajah yang lebih menonjolkan keresahan darinya. Secara serta merta, pikiranku mengarah pada kelebat harapan yang muncul, andai terbiarkan seseorang mendekap sebuah keyakinan tanpa dikte? Ah, entah ini bis ajadi nyata. Karena dari televisi, koran dan berbagai media, bangsaku semakin garang. Entah untuk menakuti siapa, karena jika dulu penjajah menjadi musuh bersama, apakah sekarang harus mencari musuh dirumah sendiri?

Kembali aku ingin mendesah, entahlah. Bila sebuah mimpi menjadi utopi saja pun, tetap ia lebih layak ketika utopia muncul di ruang-ruang ‘penerimaan’. Bisakah? Jika inipun juga sudah tidak bisa, kita tunggu dan lihat saja perjalanan negeri ini.

04
Sep
09

Seputar Keputusan, dan…Tuhan

depresslakiSeorang temanku mengeluhkan keadaannya yang baru memiliki seoang anak, dengan istri yang sudah menjadi seorang PNS disalah satu instansi pemerintah. Sang teman ini merasakan ia tidak berarti dengan keberadaan nasibanya yang demikian. Kerap sekali ia munculkan keluhan padaku, terkadang lewat SMS ketika ia merasakan perasaan suntuk yang teramat kuat disebabkan kondisi yang tidak diinginkannya. Sesekali dengan sedikit malu-malu, ia mengabariku bahwa ia sedang menjaga anaknya karena istrinya sedang ke kantor. Sebuah kondisi, yang kalau dihadapkan padaku sendiri, sepertinya aku akan mencak-mencak kepada Tuhan.

Tapi sesering itu pula aku motivasi dia, sesekali aku mengatakan bahwa bagaimanapun ia tetap lebih baik dariku. Iya, ia lebih baik karena telah lebih berani mengambil sebuah keputusan hidup, menikah.

Beberapa tahun lalu, saat ia mengutarakan niatnya untuk menikah, dengan kondisi ekonomi sendiri yang masih belum matang. Aku besarkan hatinya, seharusnya engkau tidak meragukan Tuhan mampu memberimu rejeki jika kamu mengaku sebagai manusia yang percaya pada Tuhan. Hatinya bersama sebuah keputusan pun membulat, mengerat sisa-sisa ragu yang nyaris membuatnya membeku.

Ia sudah mengambil sebuah keputusan. Dan dalam proses pengambilan keputusan itu, ada keterlibatanku disana.

Pada saat yang lain, seorang teman mengeluhkan padaku tentang permasalahannya dengan seorang calon istrinya yang memiliki sikap seakan alergi dengan keluarga temanku ini. Ia merasa diri sebagai anak tertua yang notabene memiliki tanggung jawab lebih terhadap keluarga dan adik-adiknya. Aku membaca dirinya, kemudian sebuah saran menelur dari mulutku. “sesuatu tidak akan baik ketika dibiarkan bersenggama dengan keraguan. Jika engkau memang merasakan ragu akan bahagia bersamanya, tinggalkan ia sekarang. Ternyata, secara sadar, aku telah mengtransfer polaku dalam pengambilan keputusan pada teman-teman dekatku. Mereka kemudian menemukan implikasi lain, sebuah implikasi yang sebenarnya juga telah terbaca olehku kala menggagas sebuah keputusan untuk mereka ambil.

Namun, disana aku tidak menyalahkan diri sendiri, tidak mengalahkan temanku sendiri, hanya mneanyakan pada Tuhan, kenapa yang terhjadi harus seperti ini. Harga diri mereka terasakan olehnya tidak lagi menyatu dalam ruang ejati

04
Sep
09

Mabuk

arakIni bukanlah sebuah tulisan tersengaja. Hanya sebuah pilihan pada ketika siang sedang menunjukkan kesangarannya. Terbetik minat untuk bicarakan berbagai hal yang saya saksikan di televisi, di koran dan berbagai media yang memang lagi berkesempatan menjamur di negeri ini.

Masih ada beribu persoalan kawan. Persoalan yang jawabannya masih bergelayut di warna awan yang sudah tak lagi perawan. Yang paling telanjang adalah para pecundang yang memaksa diri memakai pakaian pahlawan. Sedang para pahlawan hanyalah gelar untuk mereka yang sudah mendapat piagam nisan. Aku masih terus saja heran kawan.

Tumbuh ingin yang hanya laik sang cendawan, untuk bisa angsurkan jawaban terindah, lebih indah dari ber ton-ton kertas berisi puisi. Tapi, entahlah. Sepertinya akupun masih menjadi bagian dari manusia pengecut yang masih bimbang untuk bicara tentang hati yang diaduk tentang

01
Sep
09

Refleksi Pluralisme ala Bangsa Kita, versus Pesimisme

pluralisSaya sempat pesimis berbicara pluralisme di Indonesia. Dengan pandangan saya, persoalan pengintegrasian beragam kultur, suku, bahasa, agama bukanlah sebuah kemungkinan yang terlalu simpel untuk diujudkan. Mengingat, setiap suku, setiap agama memiliki –maaf– egosentrisme tersendiri di tingkatan pemeluk-pemeluknya.

Ini mengingatkan juga saya sendiri pada beberapa pengalaman. Dari kecil sampai saya beranjak dewasa di tanoeh Aceh. Pertama, terasa sekali saat masih kecil. Di gampong saya di Jeuram, Nagan Raya juga terdapat sejumlah kecil warga non Aceh. Saya perhatikan, mereka seperti menghindar untuk mau berbaur dengan aneuek-aneuek Aceh. Telisik punya telisik, ternyata mereka lebih berpandangan bahwa orang Aceh keras kepala, tidak memiliki karakter dan beberapa pandangan yang sangat tidak mendasar lainnya—ini pikiran ketika itu—.

Kedua, waktu Aceh masih diperkosa oleh konflik, khususnya pada dekade akhir 90-an. Saat orang-orang non Aceh terusir sebagiannya karena dipandang sebagai bagian dari penjajah. Rumah-rumah masyarakat non Aceh banyak dibakar. Saling fitnah begitu mudah terjadi. Masyarakat terbentuk sudah begitu sensitif. Airmata tidak mampu lagi untuk meluluhkan hati manusia. Jeritan anak sudah tidak lagi mampu membuat perasaan tergugah. Nurani seperti mati. Itu yang tertangkap di pikiran saya kala itu.Media juga seperti gamang untuk memberitakan kebenaran. Hingga tak jarang saya perhatikan sajian dari beberapa koran dan televisi, media-media tersebut justru menjadi sumbu tambahan yang menyulut api fitnah dan permusuhan. Hingga, sering terjadi juga beberapa oknum tentara yang merasa ada keluarganya yang ‘teraniaya’ di Aceh, memilih untuk meluapkan kesumatnya saat bertugas di Aceh. Biasanya mereka cenderung lebih beringas. Aceh menjadi neraka sampai dengan tsunami tiba pada 2004 menjadi Superhero natural yang sedikit meredakan api pertikaian di Aceh. Hingga kemudian lahir perjanjian Helsinki yang menjadi titik awal RI-Aceh bisa saling lempar senyum secara leluasa lagi.

Pemandangan lainnya, ketika saya ingin menggeluti tentang hal-hal yang berbau Kristen, sampai saya meminta seorang rekan yang beragama Kristen untuk kirimkan saya buku-buku yang berbicara tentang Kristen. Sampai kemudian juga alkitab pun menjadi bagian koleksi dan bacaan saya. Yang muncul kemudian malah kecurigaan dari orang-orang disekitar saya. Bahkan, beberapa dari mereka tanpa konfirmasi menuduh saya sebagai agen missionaris. Awalnya saya menyambut dengan sedikit geram. Namun setelah mencoba memahami, justru saya tertawa. Menertawakan diri sendiri dan menertawakan bangsa sendiri. Seperti inilah bangsaku.

Selanjutnya saya mencoba menganalisis dan mengkaji-kaji ada apa dibalik ini semua. ternyata memang pelajaran yang kita dapatkan dalam keseharian dari sejak kecil tidak mengenal objektifitas. Sayaseringkali dipaksa berucap A tanpa boleh bertanya kenapa harus A. Saya dijejali makanan B, dan makanan C dilarang.  Dan tidak boleh terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak bertanya hanyalah kebiasaan orang-orang Yahudi. Ternyata memang lingkungan memang menjadi hantu, ketika lingkungan tersebut terdiri dari elemen-elemen yang begitu mengkultuskan eksklusifitas.

Dari sini, saya memperhatikan. Butuh proses panjang agar tidak lagi terjadi pemenjaraan pikiran. Karena pemenjaraan itu telah terjadi begitu lamanya. Tidak butuh terlalu banyak teori untuk hal ini. Hanya saja, harus ada kesamaan dalam melihat, lebih penting manakah sesuatu yang bersifat cover saja dengan isi yang menjadi hal yang esensial. Sebenarnya negara bisa berlari lebih kencang ketika memang masyarakat kita bisa lebih bijak dalam melihat pluralisme. Dan terhindar dari sikap-sikap yang salah kaprah. Yang dengan perlahan merongrong nilai-nilai yang idealnya masih bisa ditumbuhkembangkan. Kita bisa lebih baik ketika kita bersedia untuk keluar dari kepicikan terlebih dahulu.

Photo: www.fromeurope.org/tips.php?cis=1897

17
Agu
09

Merdekakan (ulang) Indonesia

benderaMerdekakan (ulang) Indonesia

Oleh: Zulfikar Akbar

(Harian Aceh, 17 Agustus 2009)

Tidak untuk menyepelekan ikhtiar Pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup bangsa, dalam membangun tanah pertiwi dan dalam menjalankan roda negeri ini. Hanya saja, terlalu banyak indikator yang menunjukkan bahwa Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka.

Indikator bisa berupa angka kemiskinan yang masih belum turun semestinya. Pengangguran masih merebak. Kriminalitas yang menjadi buah dari kondisi tersebut juga semakin meningkat. Aceh saja, nyaris setiap harinya mengisi halaman-halaman koran dengan reportase kriminalitas. Lantas, apakah kemudian kita akan memilih untuk melulu melemparkan tuduhan bahwa pemerintah telah dengan sendirinya menjadi aktor utama, terdakwa atas segala ketimpangan yang idealnya tidak terjadi ini? Satu sisi dengan amanat UU terhadap pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya, mungkin disini memang pemerintah didudukkan di kursi ‘pesakitan’ itu. Tapi saling lempar kesalahan seperti itu saya kira bukanlah sebuah pilihan bijak. Mengingat, dari beberapa rezim yang telah berlangsung di negeri ini tidak pernah sepi dengan ‘metode’ saling lempar kesalahan, namun tidak berhasil menjadikan negeri menjadi lebih baik. Hanya saja, saya berpikir, perlu untuk ditumbuhkan satu spirit yang lebih positif. Tidak saling jegal karena merasa telah mencapai tangga intelektualitas yang lebih baik dari umumnya masyarakat Indonesia lainnya yang memang masih banyak yang tidak memiliki pendidikan. Hanya saja, kinerja nyata dan proaktif, plus sinergi yang lebih mampu untuk menggugah selera membangun dan berlari bersama, ini yang penting untuk semakin ditumbuhkan.

Indonesia harus dimerdekakan ulang. Tapi tidak lagi secara physically barangkali. Dalam arti tidak perlu lagi harus mengadu fisik dan mengangkat senjata dan kembali bersimbah darah. Tapi pada mindset, pada mainstream.

Menyimak, yang kentara muncul ke permukaan khususnya akhir-akhir ini bukanlah upaya serius untuk melongok persoalan rakyat yang masih tidak sedikit yang untuk makan siang saja kesulitan. Namun lebih mencerminkan dahaga pada gengsi, haus pada kekuasaan dan kengerian dalam menerima kekalahan. Tingkat elit terlihat lebih banyak saling tendang, memaksa ejakulasi dengan retorika yang entah mereka kira lebih dibutuhkan masyarakat negeri ini?

Cobalah untuk berpaling sejenak dari keserakahan itu. Sekarang, coba lihat lebih jernih pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2008 mencapai 111,48 juta orang. Dan jumlah penduduk yang bekerja di pada Februari 2008 sebanyak 102,05 juta orang. Ini potret 2008, 2009 bagaimana? Apakah sudah ketemu sebuah alasan yang cukup terang berhubungan dengan hasil kerja pemerintah yang lebih baik, sehingga angka itu lebih turun. Persoalan itu lebih terjawab? Saya yakin belum ada yang berani tunjukkannya. Karena, hari ini Indonesia seperti belum sah disebut Indonesia jika angka kemiskinan tidak ‘betah’ seperti angka diatas.

Untuk itu, Indonesia butuh untuk di merdekakan ulang. Dimerdekakan dari kemiskinan, dibebaskan dari kolonialis yang mengaku nasionalis. Ini yang seharusnya lebih ditunjukkan. Menyimak ini, saya jadi teringat saat sedang melakukan observasi ke sebuah desa pedalaman di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat setahun lalu. “untuk jalan menuju ke desa kami saja belum ada jalan yang memadai, apa bedanya sekarang dengan dulu. Kami bahkan hampir tidak yakin kalau Belanda sudah tidak ada lagi di negeri ini.”

Nah, Agustus yang seyogyanya menjadi bulan yang sangat sakral di pelaminan bernama Indonesia ini, seharusnya tidak diluputkan dari refleksi atas kondisi nyata yang masih terjadi dan masih menjadi virus yang tak kalah kuasa membunuh anak-anak negeri ini dibandingkan H1N1 ataupu HIV. Cita-cita untukmengurangi angka kemiskinan, sepertinya sudah tidak saatnya lagi dijadikan sebagai sebuah dagangan sekedar untuk bisa menghipnotis bangsa yang memang belum seluruhnya ‘tercerdaskan’. Karena, kemiskinan membuat mereka ‘alergi’ dengan yang namanya sekolah. Ketika sebuah bangsa alergi dengan pendidikan, tentu tidak akan pernah bisa diharap untuk bisa cerdas; selain mengandalkan insting daripada akal yang menjadi kelebihan mereka sebagai manusia.

Merdekakan lagi negeri ini dengan kemerdekaan yang sebenar-benarnya.Sebuah kemerdekaan yang tidak perlu lagi dengan proklamasi yang terlalu di agung-agungkan, tetapi dengan jawaban tegas yang langsung mengarah ke jantung kemiskinan. Sehingga, saat sedang menghentikan kendaraan di traffic light, kita tidak harus menahan sesak lagi menatap wajah-wajah dekil pengemis yang selama ini menjadi ‘billboard’ yang mengpromosikan bahwa kita belum sebenarnya merdeka. Dan, kemiskinan masih menjadi sebuah persoalan yang menuntut jawaban sigap dan cepat. Atau, kelak pemerintahan sekarang pun akan kembali menjadi objek kutukan rakyat.