Bukan sama sekali tulisan yang terlalu serius yang ingin saya tuliskan disini, maka kenapa dari judul saja sudah seperti itu. Jelasnya, berbicara flu, berbicara pilek, toh itu pastilah jenis penyakit yang kebetulan sedang menghinggapi saya. Seperti capung di ranting semak belukar, nanti juga ia hilang, maka aku tidak mempermasalahkannya, walaupun memang kondisi ini sedikitnya terasa lumayan mengganggu juga.
Sedangkan kopi merupakan bagian dari minuman klasik yang saya gemari. Kopi memperlihatkan saya pada makna, pada makna kesederhanaan. Hitamnya menyiratkan sebuah sisi yang tidak bisa ditembus mata tetapi ia bisa memasuki banyak lorong di rongga di dalam tubuh peminumnya. Dan itu merupakan bagian pelajaran prinsip. Prinsip bahwa, kendati kejlasan dalam hidup, sisi terangnya harus ada. Tetapi terlalu telanjang bukanlah sebuah pilihan yang terlalu bijak juga. Karena, toh tanpa diproklamirkan pun kita memang manusia biasa. Punya kesalahan, kekhilafan dan yang sesuku dengannya.
Tetapi saya coba percaya saja, dan menjadikannya sebagai bagian dari prinsip juga. bahwa kendati kopi itu adalah minuman yang memiliki rasa yang sebenarnya pahit, namun ia bisa menyatu dengan manisnya gula atau bahkan susu. Ia bisa menyatu dengan unsur tersebut. Kopi bisa menjadi sajian nikmat untuk dihidangkan—tentu bagi yang tidak anti pada kopi—. Tetapi dari sini juga, saya selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak pernah menyajikan kopi pahit pada mereka–siapa? entah—. Kecuali pada beberapa yang memang tidak menyenangi gula dan susu, ya apa boleh buat, aku sajikan saja kopi itu dengan rasa aslinya, pahit.
Tidak perlu bingung menerka arah obrolan saya ini.
Kopi adalah hidup. Maksud saya, kopi menjadi bagian dari simbol kehidupan. Gambaran kesederhanaan. Sekaligus gambaran dari kepekatan. Pekat tidak bermakna tidak bisa dinikmati. Penderitaan dalam hidup pun masih bisa juga dinikmati. Mengutip rekan Rio Menajang dalam salah satu diskusi, orang miskin sering menjadikan seks sebagai hiburan. dan itu tentu menjadi pilihan yang sangat mungkin ia dapatkan. Walaupun selanjutnya dengan ia memiliki banyak anak akan menambah keruwetan dia, yang harus ia hadapi, tetapi paling tidak ia telah bisa mendapatkan sebuah hiburan juga. Ah, apakah saya sudah ngelantur, entahlah. Intinya, saya hanya ingin katakan, semua bisa dinikmati tergantung pada bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Wallaahu a’lam
Meulaboh, 12 Maret 2009


