Arsip untuk Kategori 'INSPIRASIONAL'

12
Mar
09

Menikmati Flu, Pilek dengan Secangkir Kopi

flu1Bukan sama sekali tulisan yang terlalu serius yang ingin saya tuliskan disini, maka kenapa dari judul saja sudah seperti itu. Jelasnya, berbicara flu, berbicara pilek, toh itu pastilah jenis penyakit yang kebetulan sedang menghinggapi saya. Seperti capung di ranting semak belukar, nanti juga ia hilang, maka aku tidak mempermasalahkannya, walaupun memang kondisi ini sedikitnya terasa lumayan mengganggu juga.

Sedangkan kopi merupakan bagian dari minuman klasik yang saya gemari. Kopi memperlihatkan saya pada makna, pada makna kesederhanaan. Hitamnya menyiratkan sebuah sisi yang tidak bisa ditembus mata tetapi ia bisa memasuki banyak lorong di rongga di dalam tubuh peminumnya. Dan itu merupakan bagian pelajaran prinsip. Prinsip bahwa, kendati kejlasan dalam hidup, sisi terangnya harus ada. Tetapi terlalu telanjang bukanlah sebuah pilihan yang terlalu bijak juga. Karena, toh tanpa diproklamirkan pun kita memang manusia biasa. Punya kesalahan, kekhilafan dan yang sesuku dengannya.

Tetapi saya coba percaya saja, dan menjadikannya sebagai bagian dari prinsip juga. bahwa kendati kopi itu adalah minuman yang memiliki rasa yang sebenarnya pahit, namun ia bisa menyatu dengan manisnya gula atau bahkan susu. Ia bisa menyatu dengan unsur tersebut. Kopi bisa menjadi sajian nikmat untuk dihidangkan—tentu bagi yang tidak anti pada kopi—. Tetapi dari sini juga, saya selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak pernah menyajikan kopi pahit pada mereka–siapa? entah—. Kecuali pada beberapa yang memang tidak menyenangi gula dan susu, ya apa boleh buat, aku sajikan saja kopi itu dengan rasa aslinya, pahit.

Tidak perlu bingung menerka arah obrolan saya ini.
Kopi adalah hidup. Maksud saya, kopi menjadi bagian dari simbol kehidupan. Gambaran kesederhanaan. Sekaligus gambaran dari kepekatan. Pekat tidak bermakna tidak bisa dinikmati. Penderitaan dalam hidup pun masih bisa juga dinikmati. Mengutip rekan Rio Menajang dalam salah satu diskusi, orang miskin sering menjadikan seks sebagai hiburan. dan itu tentu menjadi pilihan yang sangat mungkin ia dapatkan. Walaupun selanjutnya dengan ia memiliki banyak anak akan menambah keruwetan dia, yang harus ia hadapi, tetapi paling tidak ia telah bisa mendapatkan sebuah hiburan juga. Ah, apakah saya sudah ngelantur, entahlah. Intinya, saya hanya ingin katakan, semua bisa dinikmati tergantung pada bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Wallaahu a’lam

Meulaboh, 12 Maret 2009

10
Mar
09

Shalat Subuh Pejabat Kita

Mungkin saya hanya akan menuliskan tentang yang saya lihat dan kemudian mencoba menyimpulkannya.

sujud13

Yang saya lihat itu adalah pemandangan saat waktu shalat subuh tiba. Bukan matahari yang akan terbit, bukan fajar yang muncul indah. Tetapi manusia-manusia yang mau bersyukur dengan kedatangan subuh. Bagi setiap Muslim menjadi moment untuk berlomba menunjukkan pada Tuhan, “saya berterima kasih pada Mu Tuhan, karena engkau telah izinkan aku untuk hidup kembali pada pagi ini. Dan aku bangun pagi-pagi sekali begini agar tercatat disisi Mu sebagai salah seorang hamba Mu yang tergolong kedalam barisan pertama yang berterima kasihpada Mu dengan menunaikan shalat subuh”.

Seketika saja, saya jadi ‘terangsang’ untuk meng-absen pejabat-pejabat yang mau untuk shalat subuh. Bukan atas suruhan siapa-siapa tetapi bisa dikatakan hanya sebagai ulah saya yang suka ‘cari kerjaan’. Dari sekian banyak pejabat yang sering masuk dalam list pejabat rajin hadir shalat subuh hanya seorang camat, ia bernama Agusdi, Camat Kecamatan Seunagan. Observasi ‘iseng’ ini saya lakukan di Masjid Agung Kabupaten Nagan Raya. Alasan saya memilih Masjid ini adalah, mesjid ini berada di Kota Jeuram yang notabene menjadi sentral Kabupaten Nagan Raya.

. Kembali terkait pejabat, jika mereka masih suka memuja dan memanjakan diri sendiri, tidak akan bisa diharap terlalu banyak untuk mau mengurus orang lain. Ini berhubungan dengan karakter pemimpin, karakter pejabat yang seyogyanya harus mendedikasikan pikiran dan kerjanya untuk rakyat. Percaya atau tidak, seorang filsuf pernah mengutarakan,”bagaimana seseorang menyikapi dirinya sendiri, cara ia mengurus dan mengatur dirinya menjadi cerminan bagaimana ia berhubungan dengan manusia lain—untuk disini adalah cara pejabat melayani rakyatnya—. Nah, jika di Indonesia, dalam setiap Kabupaten hanya punya 1 pejabat yang mau shalat subuh berjamaah, bisa diterka, akan seperti apakah mereka mengurus rakayat di negeri ini?

Semoga saja, dalam kasus yang saya ilustrasikan disini tidak lebih dari analisis subjektif saya, karena bisa saja, pejabat-pejabat yang ada shalat subuh berjamaah di Masji-masjid lain, secara kebetulan saja tidak satu masjid dengan saya. Tentu kita akan sangat bersyukur jika dugaan saya terakhir adalah benar, karena kelak potret seperti ini akan menjadi gambaran ‘bentuk wajah’ negeri ini.

15
Apr
08

Energi Langit

Aku hanya sedang berbicara kepada diri sendiri, bersama rentak irama zikir yang mengalun seperti ujung-ujung ombak. Berderai seperti buih. Aku tidak berniat untuk bicara kepada siapapun, hanya pada diri sendiri

“Tunjukkanlah kepada siapapun tentang keluguan, kesalihan dan apapun yang kau inginkan. Jika engkau tujukan itu untuk beroleh simpati manusia, justru itulah yang akan membuatmu terpuruk dalam ketidak-berhargaan, kehinaan dan luka terdalam sampai kau harus menyatu dengan keruh air selokan di belakang sumur rumahmu. Atau, kau selalu mencoba untuk menjadi dirimu sebagai diri yang jujur, murni tapi selalu berupaya untuk berbuat yang terbaik, bukan untuk siapa-siapa, bukan demi manusia. Hanya untuk kebaikan itu sendiri agar ceritanya tidak hanya tenggelam kedalam sejarah masa lalu. Tidak sedikitpun keuntungan yang akan kau peroleh atas setiap kebaikan yang hanya kau orientasikan kepada simpati manusia, ataupun decak kagum mereka. Hal yang demikian hanyalah mencerminkan kekerdilan jiwa.

Menjadi besarlah engkau wahai jiwa

Agung berpayung dibawah keagungan Penciptamu saja, bukankah engkau juga sangat memahami hukum kenyataan seperti yang demikian?”

Aku mengangguk, bukan di keramaian jalanan. Aku tidak ingin juga dilihat sebagai orang yang tidak waras hanya disebabkan berlaku demikian

“Iya, aku sangat menyadari dengan segala kelemahan dan keterbatasanku, karena aku selalu arahkan mataku untuk selalu menoleh kepada kekurangan itu. Bukan untuk tujuan apapun, selain aku agar aku bisa lebih cepat untuk merubah sisi buruk menjadi kebaikan, menjadi baik. Karena, sebuah keburukan hanya akan bisa dirubah setelah keburukan itu terdeteksi olehmu. Jika aku merasa diri sebagai sosok paripurna, tentu tidak akan ada yang menjadi motivasiku merubah sesuatu. Toh semua sudah sempurna. Aku menyadari kehidupan bukanlah dongeng, bukan opera kaku”

Teruslah berbinar setiap mata yang masih memiliki kejujuran, ketulusan.

“Apapun, kau jangan murka pada langit menghitam ketika mendung, tujukan pikiranmu pada air yang bakal tercurah dari langit. Bukankah air itu yang engkau tunggu? Kau takkan dapatkan segelas airpun jika hanya mengharap air tercurah dengan kebencian pada kedatangan mendung. Biarkan mendung itu tiba menyambangi langitmu. Mendung juga takkan menutupi keagungan langit, maka tersenyumlah”

Maka, jiwa-jiwa tulus akan terus menuju ke tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan, karena hukum itu telah tertulis dari zaman yang tidak kau kenali dulu, yang tidak tercatat di buku-buku sejarah sekolahmu.

Meulaboh, 11 April 2007

15
Apr
08

Tanjakan & Sugesti

Adakah bukit di dekat rumahmu, di dekat desamu atau mungkin di pinggiran kotamu, dakilah. Di atas bukit itu ada sesuatu yang istimewa untuk siapa saja yang mau menuju kesana. Ayunkan langkahmu untuk menuju kesisi teratasnya. Bawa saja bekal untuk obati luka jika nanti disana engkau terjatuh, air minum secukupnya dan perbekalan lain yang sekira perlu. Perjalanan itu akan melelahkan. Namun, kadar kelelahan itu juga ditentukan oleh seberapa tinggi bukit itu dan bagaimana medan menuju kesana. Juga kemungkinan akan temui ular berbisa atau bahkan macan jika bukit itu bertempat di hutan.

Oya, jika pikiranmu hanya dihantui oleh keberadaan macan, ular dan yang sejenisnya sampai kemudian engkau urungkan perjalanan kesana, simpan saja mimpimu untuk dapatkan emas itu. Cuman, saya sarankan engkau lanjutkan perjalanan tanpa harus merasa takut dengan keberadaan ular dan macan itu, hanya yang engkau perlukan adalah kewaspadaan dengan segala kemungkinan. Dan, pikiran tidak boleh lepas dari sasaranmu sebelumnya. Sekali lagi mata hati jangan hanya terisi dengan keberadaan ular dan macan, ingat tujuanmu. Juga, sediakan sedikit waktu untuk persiapan kebutuhan yang engkau perlukan, bukan untuk apa-apa, namun agar perjalananmu tidak terhenti ditengah jalan, sia-sia.

Pun, jalan yang akan kau tempuh tidaklah lurus dan mulus, tetapi terjal dan berjurang. Tidak sedikit duri yang akan membuat kakimu tergores dan luka, tapi takkan membuatmu terbunuh oleh luka-luka kecil itu jika engkau tahu cara mengobati agar tidak menjadi parah. Sesekali tidak salah jika egkau mengambil jeda, rehat untuk beberapa jenak. Cuman, jangan terlalu menikmati istirahat itu, ingat tujuan.

Untuk menuju puncak, izinkan tubuh untuk merasakan sakit, letih, penat dan bahkan terluka. Jangan berhenti selain untuk istirahat mengambil energi dan selanjutnya kembali melanjutkan perjalananmu

***

Rangkaian kalimata diatas adalah kalimat yang saya gunakan untuk menasihati diri sendiri, saat-saat letih, saat merasa seolah perjalanan belum terhenti. Entah mugkin kalimat ini juga akan berguna buat anda, saya belum tahu