Arsip untuk Kategori 'KOLOM KELUARGA'

09
Sep
09

Cerita Cinta Seorang Lelaki

bungaHari ini, sehabis Subuh aku sempatkan untuk diskusi dengan Bapak di rumah. Apalagi, kemarin sore, saat baru tiba di rumah, aku lebih banyak bermain dengan adikku Raihan.

Beberapa saat usai itu, aku beranjak cepat kebelakang, mengguyur badan dengan air yang harus kutimba langsung dari sumur. Segar. Segera berbenah sembari mencoba sedikit merapikan kumis dengan jenggot yang terlihat semakin menyemak. Lazimnya tradisiku, jika ingin berangkat semua harus cepat.

Sambil memakai celana, aku lempar baju ke adekku Baida,“dek, ci tuloeng gosok bajee Abang siat.” (Dek, tolong setrika baju abang sebentar).

Tak lama adekku Fikri juga lewat didekatku, lagi,“dek, tuloeng peutamoeng bajee abang siat lam tah mandum nyan sekalian deungoen peci,” (Dek, masukkan baju Abang sebentar kedalam tas, sekalian dengan peci juga). Ini yang sangat membuat ku terharu. Biasanya adik-adikku tidak pernah mengeluh apa yang kuminta.

Terkait ini, Dek Baida pernah satu hari berujar,”Abang jarang marah dengan adek, kalo bapak lagi marahin adek, abang sering membela. Kalo Abang punya duit, misal kami minta pasti Abang kasih.” Sebagai manusia biasa aku juga merasakan bahwa ada bangga yang mulai bergelayut didadaku. Ternyata cinta yang kuberikan pada mereka sebagai seorang kakak kepada Adik terekam kuat di hati mereka. Dek Fikri juga, pernah berujar,”aku sering teringat Abang karena memang seringkali membela kami kalo dimarahi Bapak.”

Ah, sebenarnya karena adik-adikku itu membuatku terkadang aku terpaksa ‘ceramah’ didepan adikku,”pak, meunyoe pak sabee geu dhoet adek-adeknyoe, pajan awaknya meutumee diseumikee untuk jeuet leubeh goet. Ci neukaloen, toeh leubeh seunang Pak kaloen adek-adek nyoe teumakoet keue Pak?” (Pak, kalau Bapak selalu saja memarahi mereka untuk masalah-masalah kecil, kapan mereka bisa berpikir. Coba lihat, bapak senang melihat mereka terlihat sedih).

Jika berhadapan dengan wajah-wajah lugu adik-adikku. Terkadang, aku memang merasakan kebingungan untuk berdiri bijak. Tapi seringkali tetap adik-adikku yang aku pilih untuk tetap kubela. Karena merasa, mereka butuh seseorang yang melindungi atas sekecil apapun ketidak-nyamanan yang mungkin mereka rasakan. Sikap itu, ternyata menumbuhkan cinta yang tidak kecil dari mereka, untukku.

09
Sep
09

Cerita Raihan

MUHAMMAD RAIHANKemarin siang matahari masih panas. Dengan labi-labi (angkot ala Aceh), aku beranjak dari Meulaboh dengan tujuan pulang ke Jeuram, Nagan Raya. Hanya untuk mengobati kerinduan pada orangtua dan adik-adik dan keponakan yang masih bandel-bandelnya.

Jelang waktu berbuka, aku sudah menapaki jalanan Kota Jeuram yang sudah mulai agak menyepi. Beberapa kios yang menjual pakaian jelang lebaran sudah mulai menarik tirai dan membungkus barang-barang jualan. Tidak kutemukan seorangpun yang kukenal. Kecuali saat persis berada di muka gang menuju ke rumah orangtuaku, Gang Jeumpa. Disini Warung Mie Aceh Bang Min masih terbuka ditunggui Dek Di dan Pia yang masih setia menunggu pembeli. Belum beberapa meter, adik bungsuku Raihan yang masih berusia 6 Tahun. Fadil dan Dila, sikembar keponakanku dengan adiknya Aziz Rantisi berlarian menyambut kedatanganku.

Iya moment seperti inilah yang selalu aku rindukan. Moment yang sering membuatku terbang dengan segera untuk menjemput rindu pada mereka. Moment itu pula yang sering membuatku merasakan ganjalan untuk bisa segera menikah dan punya anak sendiri. Mungkin cita rasa kerinduan akan lebih kental kurasakan. Ah, kenapa aku mesti melamun seperti ini.

Aku menjemput mereka, Aziz langsung bergelayut di punggungku. Raihan adikku, Dilla dan Fadil sontak bergelayut dilenganku. Capek dengan haus dan lapar karena puasa tidak lagi terlalu kurasakan. Senyum tulus wajah-wajah mungil mereka begitu indah. Wajah mereka betul-betul menghadirkan aura surgawi. Ah, mereka selalu membuatku merasakan kerinduan begitu mendalam.

Dilla baru saja makan, Fadil baru makan coklat dengan Aziz baru juga makan kerupuk yang berminyak. Raihan yang baru berlarian dengan keringat dari tubuh mungilnya, semua menjadi bagian ‘penghias’ celanaku yang harusnya masih bersih karena baru kupakai satu jam lalu. Bajuku juga bertambah warna dan aroma. Tapi semua itu justru terlihat indah bersama wajah-wajah kecil mereka.

Semalaman, Adikku Raihan yang baru masuk sekolah di Ibtidaiyah bercerita tentang pengalamannya saat baru masuk sekolah, mulut mungilnya bercerita lepas nyaris tanpa beban. Sesekali dibarengi senyum lugunya,“Bang, lon uroe nyan diteubiet eek dalam sileueweue. Tapi lheueh dirah lee ibu guru, lon di yue woe laju lee bu guru. Gobnyan na syit geutanyoeng abang, kukheuen Abang na di Meulaboh. Leheuhnyan keun, lon woe laju sira lon toep punggong ngoen ileueweu dengoen tah lon” (Aku kemarin itu sempat buang air dalam celana, sampai ibu guru mencebokiku. Setelah itu aku disuruh pulang sama ibu guru karena katanya besok sudah hari minggu,libur. Juga, ibu guru nanyain Abang—kebetulan guru-guru disana sangat mengenalku, selain aku dulu tamatan di Ibtidaiyah itu, MIN Jeuram, juga pernah mengabdi di sana sebentar sebagai Guru Bahasa Inggris—. Aku bilang Abang di Meulaboh. Akhirnya, aku pulang terus kerumah, sambil nutup celana dengan tasku, hehehe).

Mendengar cerita Raihan, aku hampir tidak bisa menghentikan tawaku. Sikecil ini selalu saja punya cerita. Sudah menjadi kebiasaannya, kalau aku pulang pasti ada saja bahan cerita darinya. Dari sini aku bergitu yain adikku ini akan menjadi figur yang cerdas, dengan ingatan dia yang kuat plus ketertarikan dia terhadap musik. Hanya saja aku sedikit terpenjat saat Dek Baida menunjukkan padaku celana Dek Raihan,“nyoe Bang, adek dikaloen bak tivi ureueng di sie sileueweue, habeh ileuweue jih di sie-sie cit. Dikheuen lee jih, mangat gaul” (Lihat saja Bang, gara-gara lihat di TV banyak yang bikin celanannya robek, dia ikut-ikutan bolongin celananya, alasan dia biar gaul). Tapi keterperanjatanku hanya sebentar, akhirnya lagi aku kembali tertawa sambil mengusap kepala sikecil Raihan.

28
Agu
08

Untuk Istri, Bukan Sekedar Puisi

Saat itu saya mendebat diri sendiri. Persoalannya berawal dari ketika ibu memilihkan seorang jodoh untuk saya, setelah sekian lama saya katakan untuk segera menikah tetapi belum ada yang serius. Kalaupun ada yang serius, terus terbentur dengan persoalan jarak, persoalan ekonomi—bukan calon istri yang lebih miskin tetapi keluarga saya yang berada dibawah mereka—.

Ibu saya memilihkan seorang gadis yang saya akui, secara kadar pengetahuan agamanya tidak terlalu membanggakan, pendidikannya juga hanya tamatan menengah atas (baca: SMU). Namun, saya yang biasanya dalam keluarga sering digelari keras kepala dan ambisius, kali ini memilih mengangguk. Meski secara kriteria—agama dan intelektualitas—, sama sekali jauh dari yang saya pernah bayangkan, tapi saya benar-benar mengangguk.

Hingga akhirnya, iya, saya mengangguk.

Apa yang saya katakan pada diri sendiri?

“Dia tidak sesempurna yang pernah saya bayangkan, tetapi disinilah tanggung jawabku, inilah bagian dari tugas yang harus ku emban kelak sebagai seorang suami. Mengayomi istri, mendidik istri, menguatkannya.

Meulaboh, 28082008