Arsip untuk Kategori 'KONTEMPLASI'

08
Nov
09

Kesalahan Tuhan

IMG_1470Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun

***

Selulerku dengan sengaja kumatikan. Pintu kamar kututup rapat, menikmati hening. Mencoba keluarkan jiwa dan pikiran dari tubuh. Membiarkannya untukmelihat semua yang ada disekeliling. Mengambang, menerawang. Terkadang yang terlihat hanya siluet putih dan hitam. Mungkin, siluet itu hanya disebabkan oleh kesukaanku pada dua warna itu.

Lantas pikiranku terantuk pada sebuah potret yang terjadi tidak jauh dari kotaku. Potret yang menceritakan tentang seorang ibu yang meninggalkan suami dan anak-anaknya. Salah satu dari anak itu masih berusia sekitar 8 bulan, masih bayi untuk menikah dengan lelaki lain yang sebenarnya juga sudah memiliki istri.

Tak lama, pikiranku juga terbawa pada sebuah suguhan pemandangan yang dilakukan oleh seorang lelaki. Lelaki yang meninggalkan istrinya untuk hidup sendiri dan mencari nafkah tanpa dibantu oleh suami ‘tercinta’. Lelaki itu sendiri merambah berbagai kota, terkadang terdengar kabar ia sudah menikah dengan seorang perempuan di salah satu kota yang didatanginya.

Lalu, sebuah kesimpulan menghinggapi pikiranku seperti pipit kecil bermain di pucuk-pucuk padi. Kezaliman tidak mengenal kelamin.

***

Ada sedih dan trenyuh menghinggapi hati membayangkan itu semua. Jadi teringat protes para malaikat saat Tuhan akan menciptakan Adam,”Kenapa Engkau menciptakan manusia yang hanya mengotori bumi dengan keserakahan mereka?”

Tuhan tidak banyak bicara, selain:”Aku lebih tahu daripada kalian.”

Adam dilempar ke dunia, beranak pinak. Mengisi hampir tiap jengkal tanah yang ada di bumi. Mengambil kebaikan dari bumi, menelanjanginya. Anak-anak Adam itu selanjutnya semakin memperkuat tubuhnya, memakan apa saja yang bisa dimakannya. Terkadang untuk mencari makan itu, harga diri tidak lagi menjadi sebuah hal yang mahal.

Beberapa rekan yang bijak menulis puisi-puisi keluhan,”kekuatan tubuh tidak untuk membuat mereka semakin banyak melakukan kebaikan. Tapi justru mereka semakin perkasa untuk melakukan kelaziman kezaliman.” Protes mereka pada pelaku kezaliman. Saat berlangsung diskusi tentang kezaliman manusia, dari yang kecil-kecil sampai skala besar.

***

Aku merasa ingin tertawa pada beberapa figur yang begitu yakin dengan kecerdasan intelektualitasnya,”ini semua adalah kesalahan Tuhan”, Ujarnya satu ketika. Ia tunjukkan berlembar-lembar surat kabar padaku. Terpampang cerita, tentang Ayah yang memperkosa anaknya. Pemerintah yang juga memperkosa rakyatnya. Lelaki yang bangga disebut sebagai pembunuh. Sarjana yang merasa tidak berdosa dengan kebodohan yang masih berselemak di sekitar rumahnya. Para pelaku perang yang memperkosa perdamaian yang dielu-elukan sebagai pahlawan.

“Ini kesalahan Tuhan.” Ujarnya dengan tegas. Ekspresi keyakinan begitu kental terpancar dari wajahnya. Tidak keluar satu patah bantahan dariku. Selain hanya tercenung,”kenapa ketika ada hal-hal buruk yang terjadi justru Tuhan jadi sasaran. Tetapi saat sedang bermandikan kesenangan, keindahan, Tuhan terlupakan. Manusia bisa berpikir dengan mencari-cari kesalahan Tuhan, tetapi sangat jarang tergerak untuk mencari kesalahan sendiri.”

Dinamika. Aku mensyukuri berada didalam semua dinamika itu. Dinamika yang sesekali memang mengundang marah, tetapi terkadang juga menjadi banyolan yang indah untuk didengar dan dilihat. Cukup mampu untuk mengundang tawa–meski dalam hati–.

Sampai detik ini aku masih setia pada barisan orang-orang yang tidak berselera untuk menyalahkan Tuhan. Meskipun, aku tetap menebar senyum pada mereka yang berlainan pikiran denganku.

***

Selalu saja aku merasa kagum pada beberapa figur yang terkadang memang belum pernah bertatap muka denganku. Sebagian mereka mungkin telah bertemu Tuhan di peristirahatannya.  Mereka, yang selalu menebar prinsip, bahwa semua keburukan yang terpampang seperti pelacur mengangkang bukan untuk diteladani, tidak untuk diikuti. Mereka, yang selalu percaya, hidangan keburukan itu akan selalu ada sebagai pesan Tuhan,”selesaikan semua keburukan itu agar hati dan pikiran berfungsi, Agar hati dan pikiran lebih terasah, nurani bisa lebih berfungsi. Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun.”

 

Kunjungi Juga: Suhu Cinta

28
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis (Mencatat Kebodohan)

IMG_1369Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

(Sebuah renungan kecil)

28
Okt
09

Renungan Lelaki Lajang saat Hujan

IMG_1366Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”

Sering, saya dibuat tersenyum sendiri dengan gaya SMS rekan-rekan saya itu. Juga sering terjadi dengan teman-teman yang saat malam pertama setelah nikah, langsung mengbombardir Seluler saya dengan pesan pendeknya:” Bro, aku duluan okey, ahhhh.” SMS yang membuat jengah dan juga menimbulkan tanya pada diri sendiri. Sekian banyak sudah teman, sahabat yang “memprovokasi” saya untuk terus menikah. Tunggu apalagi, katanya. Berbicara usia, sudah sangat layak disebut matang. Secara profesi, walaupun terkadang hanya sebagai freelancer, namun tetap juga memiliki ruang untuk terus menambah rejeki. Begitu khotbah-khotbah mereka. Meski, saat akan mengambil keputusan menikah, dulu justru mereka yang meminta saya “berkhotbah” dengan saran-saran saya.

Tetapi, lagi dan lagi saya masih tetap bergumul dengan ‘idealisme’ saya sendiri. Bahwa, untuk menikah itu tidak cukup hanya dengan kemauan. Untuk menikah butuh kematangan dari segala hal. Pattern pikiran saya ternyata sangat perfeksionis. Apalagi memang, dengan keterbukaan saya bergaul dengan banyak orang dan lintas usia, pekerjaan dan status sosial. Saya menemukan tidak sedikit keluhan.

Sebut saja Zainal (bukan nama sebenarnya), ia berujar:” aku sebenarnya memang harus mengsyukuri dengan istri yang saya miliki. Ia punya wajah yang cantik, tidak kalah dengan artis. Tetapi jangan kamu kira aku sudah sangat enak hidupnya. Secara kebutuhan seks mungkin terpenuhi. Namun, kalau mengajak diskusi tentang perihal yang sedikit serius yang aku temui sehari-hari, ia tidak nyambung Bro. Itu yang sering bikin saya jengkel. Karena memang menikah itu, disana istri tidak hanya untuk kebutuhan seks. tapi bagaimana ia juga idealnya juga bisa membantu kita mikir, aduh.” Keluar puisi keluhan dari mulutnya.

Pada kasus lain, seorang rekan yang juga tidak kalah ganteng dari saya hehe, juga mengelurkan sajak-sajak keluhan,”aku kemarin nekat untuk menikah, apalagi dengan istriku itu sudah PNS, setidaknya ia sudah lebih mapan. Saya sendiri bisa bekerja apa saja. Tapi yang terjadi sekarang, saya justru minder dengan sendirinya, oleh sebab penghasilan istri saya jauh lebih tinggi dari saya sendiri. Seringkali terjadi, seharian terkadang saat tidak ada kegiatan aku menjadi pengasuh anak. Jujur, aku merasa menjadi suami yang tidak berharga.”

Menyimak mereka dan beberapa hasil diskusi lain yang tidak saya tuliskan disini, saya semakin “memaksa” diri untuk memutuskan menikah. Mungkin, memang saya sendiri yang sudah membuat penjara dari besi yang terlalu kuat, entahlah

27
Okt
09

Ketika Tidak Tahu yang Harus Ditulis

riverSaya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.

Ini harus diakui, dan memang sangat saya akui. Menulis telah menjadi sebuah kebutuhan dan malah saya tuliskan hukum wajib di kitab perjanjian yang ada di hati saya sendiri. Untuk popularitaskah semua itu? Menyimak dari berbagai teori human needs. sah saja anda menduga saya mungkin menjadikan alasan popularitas sebagai motivasi dalam “mewajibkan” diri untuk menulis seperti ini. Sekali lagi anggapan itu sah. Karena saya percaya anda juga cerdas—dengan tetap enggan mengatakan diri saya lebih bodoh–. Ketika anda berkesimpulan terhadap sesuatu yang anda lihat, saya percaya anda memiliki seperangkat pengetahuan awal yang menjadi pijakan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang kemudian lahir. Termasuk, tentu saja, saat melihat judul tulisan saya diatas. Sampai juga pada pilihan saya untuk tetap menulis meski sedang tidak tahu untuk menulis apa.

Memang, terkadang juga saya kembali harus mengakui lagi. Sesuatu keputusan konyol yang bahkan terkesan tolol harus saya lakukan ketika kepala sudah seperti keran yang tersumbat. Nah, dari sana childrencamp,241009 239saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.

Saya juga meyakini bahwa pada dasarnya, tidak ada dari kita berkenan untuk disebut tolol, bodoh dan sesukunya. Saya kira, kendati enggan untuk disebut demikian. Tetap saja—menyimak realitas–nyaris semua yang pernah saya kenal melakukan kekonyolan, baik sering atau hanya pernah melakukannya. Terus, saya jadi terpikir, mungkin inilah yang membuat sebagian orang yang bisa emakin menjadi cerdas dengan mengetahui kebodohannya atau justru semakin terpuruk dalam kebodohan yang lebih tragis. Ketika, kebodohan yang telah pernah dilakukan tidak pernah dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dan menulis juga bisa menjadi media mencatat kebodohan diri sendiri, berefleksi dan selanjutnya kembali untuk tetap masuk ring tempur kehidupan dengan strategi yang lebih bijak. Tanpa refleksi, saya ragu apakah kita bisa menjadi figur-figur yang lebih baik atau tidak

 

(Sebuah renungan kecil)

17
Sep
09

Perjalanan di Atas Jalan Cinta

bidadariSambil mengepak barang, pagi ini pikiranku terus saja berbicara. Bahwa, sebagai lelaki tidak perlu takut dengan beribu resiko dan tantangan. Tetapi, jangan pernah harga diri terbiarkan terinjak, atas alasan apapun. Sambil terus mengepak barang, lagi pikiranku masih terus saja berceloteh, sekarang aku sedang merasakan sebuah kondisi hidup yang harus kuakui sarat dengan ketidak pastian. Dan ini semua juga merupakan buah dari keputusanku sendiri. Walaupun ini berat dan melemparkanku pada sebentuk kemiskinan yang sangat parah.

Tapi, tunggu dulu. Apakah seorang lelaki akan memaki sebuah keputusan yang ia ambil sendiri? Sebuah keputusan yang memang lahir dari serangkaian proses perenungan, penghayatan atas makna hidup dan buah dari deklarasi untuk tidak menunduk pada beribu tantangan yang memang akan menghadang terus.

Buku-buku dengan cekatan kukepak, berat. Baju dan semua celana tanpa kulipat langsung kumasukkan kedalam koper. Kebetulan beberapa bulan menjadi penghuni disebuah kamar, disalah satu sudut Meulaboh. yang membayang di kepalaku hanyalah wajah Bapak, Ibuku dan saudara-saudaraku. Berkelebat wajah lucu keponakanku dikampung.

Semua seperti lintasan album yang dibuka cepat. Tetapi kemudian, pikiranku kembali pikiranku bicara. Lelaki mutlak harus menjunjung harga diri. Walau pengejaran pada makna hidup yang lebih baik menjadi sebuah keharusan, menjadi sebuah hal yang wajib. Ini pilihan laki.

Satu hal yang penting, jangan sakiti perasaan siapapun. Kendati aku sendiri terkadang tersakiti dengan sikap beberapa orang angkuh yang entah karena takdir harus hadir dalam kehidupanku. Kadang-kadang muncul memang perasaan bahwa aku menyesal mengenal manusia yang ternyata bukan untuk menjadi seorang saudara. Iya, sempat terbetik dikepalaku, jangnan mencari saudara saat sedang berada dibawah. Tidak akan bermakna apa-apa. Dan, memang aku harus fokus saja pada pencarian dan pengejaranku pada mimpi yang masih kuyakin bakal terujud, kendati aku dilihat mereka begitu pelan dalam melangkah. Mereka takkan bisa memahamiku. Ini lebih baik. Inilah sebuah perjalanan menapaki jalanan untuk sebuah cinta, sebuah ekspresi cinta.

Meulaboh, 170909

13
Sep
09

Manifesto Penyair Lapar

Kita tidak perlu lagi berpuisi jika puisi sudah tidak lagi kuasa memberi sugesti. Coba saja berdiri untuk melihat matahari, apakah ia juga mau berdiri? Atukah ia selalu berkeliling, mengitari bumi tanpa puisi. Ia justru datangkan begitu banyak kehidupan di bumji. Sedangkan puisi hari ini? Lebih banyak berisi caci-maki, tidak bisa memberikan apapun arti, hanya terjebak dalam definisi.

Masih ada catatan derita di jantung persada. Tetapi kita masih saja terus percaya hanya dengan kata-kata. Dan merasa itulah tahta yang bisa memupus derita rakyat jelata.

Mari, kita coba berdiri dan beranjak dari ego dan keinginan yang hanya mencerminkan libido tanpa adanya kerja secara de facto. Inilah keharusan yang idealnya akan menjadi catatan penyair sebagai manifesto.WS_Rendra

16
Mar
09

Berpikir bagaimana Cara Berpikir

dia-dan-matahariSering terlihat wajah-wajah berkernyit, jidat yang mengerut. Terkadang mereka untuk tersenyum pun sepertinya sulit. Dan tidak terasa justru kita dan saya juga sering menjadi aktor dari dagelan yang berjudul: Kernyit dan Kerut di Pesta Jidat. Sebuah dagelan yang dari judul saja sudah tidak mampu menggugah selera, apalagi dipaksa harus dinikmati.

Berbicara cara berpikir, sah saja kita katakan kening mengerut sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Namun, sepertinya tidak ‘halal’ kalau hal tersebut dipandang sebagai cara paling cerdas untuk menunjukkan “saya berpikir!” Terus? Entahlah saya juga bingung harus lanjutkan tema ini dengan apa lagi. Barangkali saya hanya ingin protes pada diri sendiri yang tidak bisa tersenyum saat sedang memikirkan sesuatu. Saya merasa belum cerdas jika untuk berpikir saja masih sulit untuk mengelola hal-hal lain pada tubuh saya saat sedang berpikir.

Selanjutnya, ada kecenderungan untuk marah dan marah saat sedang berpikir dan tidak kunjung bertemu dengan jawaban. Nah disini saya merasa lebih bijak untuk memarahi diri sendiri, kok bisa menikmati ketololan seperti itu?—maaf bahasa saya tidak halus kalau berbicara untuk diri sendiri—.

Sampai kemudian, saya memilih menyepi dan tidak mempedulikan apa-apa. Saya larut dengan pikiran sendiri. Untuk bicara saja saya berubah enggan. Dan ternyata memang sikap seperti iniyang sering saya lakukan, hingga tidak sedikit janji yang kemudian secara sengaja terlupakan, dan saya menjadi munafik karena telah menjadi figur seperti itu atas pilihan sendiri. Saya tidak hanya berdosa pada Tuhan saja, tetapi juga berdosa pada teman, sahabat, saudara dan semua yang pernah berinteraksi dengan saya. Oleh pengingkaran seperti itu, ternyata saya telah memilih untuk menjadi figur antagonis ditengah panggung drama hidup keseharian yang saya jalani.

Ah, ternyata proses terjadinya sebuah dosa terjadi secara sangat sistematis. Dosa sistematis? Tidak saya tidak akan membahas itu. Hanya yang terangsang bagi saya untuk membahas adalah apakah saya juga telah berpikir secara sistematis. Mengingat, intelektualitas belum bisa diakui ketika pada saat yang sama pikiran tersebut belum sistematis. Apalagi memang, sistematis tidak seseorang dalam berpikir menjadi indikator telah terintegral atau tidaknya pengetahuan yang telah pernah dimiliki oleh orang tersebut. Tentu saya juga berada didalam ketentuan demikian ini. Lagi, bagaimana cara berpikir?

Mengaitkannya dengan rumus ideal, saya termasuk salah seorang penganut konsep anti rumus dalam hal berpikir. Dalam arti, pola seseorang boleh berbeda dalam membentuk sebuah kerja pikiran. Karena hal ini juga tidak lepas dari latar pengalaman, darimana ia belajar, dan siapa saja yang berada di sekelilingnya. Intinya tidak ada pola baku pada mekanisme seperti apakah yang ideal untuk berpikir.

Cuma, yang masih saya yakini adalah tidak ada yang namanya berpikir yang tepat ketika seseorang tidak pernah secara rendah hati mengenal, bagaimana berpikir yang baik plus dampak dari sekian pemikiran yang telah pernah dihasilkan. Jika ingin arogan sedikit pada diri sendiri, menanggalkan keyakinan bahwa hari ini saya telah berpikir secara benar sebelum menemukan sebuah ketegasan dari apa yang telah pernah diperbuat. Oleh anda dan juga oleh saya disini. Maaf jika anda tidak menemukan kesimpulan apapun

Meulaboh,160309