Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun
***
Selulerku dengan sengaja kumatikan. Pintu kamar kututup rapat, menikmati hening. Mencoba keluarkan jiwa dan pikiran dari tubuh. Membiarkannya untukmelihat semua yang ada disekeliling. Mengambang, menerawang. Terkadang yang terlihat hanya siluet putih dan hitam. Mungkin, siluet itu hanya disebabkan oleh kesukaanku pada dua warna itu.
Lantas pikiranku terantuk pada sebuah potret yang terjadi tidak jauh dari kotaku. Potret yang menceritakan tentang seorang ibu yang meninggalkan suami dan anak-anaknya. Salah satu dari anak itu masih berusia sekitar 8 bulan, masih bayi untuk menikah dengan lelaki lain yang sebenarnya juga sudah memiliki istri.
Tak lama, pikiranku juga terbawa pada sebuah suguhan pemandangan yang dilakukan oleh seorang lelaki. Lelaki yang meninggalkan istrinya untuk hidup sendiri dan mencari nafkah tanpa dibantu oleh suami ‘tercinta’. Lelaki itu sendiri merambah berbagai kota, terkadang terdengar kabar ia sudah menikah dengan seorang perempuan di salah satu kota yang didatanginya.
Lalu, sebuah kesimpulan menghinggapi pikiranku seperti pipit kecil bermain di pucuk-pucuk padi. Kezaliman tidak mengenal kelamin.
***
Ada sedih dan trenyuh menghinggapi hati membayangkan itu semua. Jadi teringat protes para malaikat saat Tuhan akan menciptakan Adam,”Kenapa Engkau menciptakan manusia yang hanya mengotori bumi dengan keserakahan mereka?”
Tuhan tidak banyak bicara, selain:”Aku lebih tahu daripada kalian.”
Adam dilempar ke dunia, beranak pinak. Mengisi hampir tiap jengkal tanah yang ada di bumi. Mengambil kebaikan dari bumi, menelanjanginya. Anak-anak Adam itu selanjutnya semakin memperkuat tubuhnya, memakan apa saja yang bisa dimakannya. Terkadang untuk mencari makan itu, harga diri tidak lagi menjadi sebuah hal yang mahal.
Beberapa rekan yang bijak menulis puisi-puisi keluhan,”kekuatan tubuh tidak untuk membuat mereka semakin banyak melakukan kebaikan. Tapi justru mereka semakin perkasa untuk melakukan kelaziman kezaliman.” Protes mereka pada pelaku kezaliman. Saat berlangsung diskusi tentang kezaliman manusia, dari yang kecil-kecil sampai skala besar.
***
Aku merasa ingin tertawa pada beberapa figur yang begitu yakin dengan kecerdasan intelektualitasnya,”ini semua adalah kesalahan Tuhan”, Ujarnya satu ketika. Ia tunjukkan berlembar-lembar surat kabar padaku. Terpampang cerita, tentang Ayah yang memperkosa anaknya. Pemerintah yang juga memperkosa rakyatnya. Lelaki yang bangga disebut sebagai pembunuh. Sarjana yang merasa tidak berdosa dengan kebodohan yang masih berselemak di sekitar rumahnya. Para pelaku perang yang memperkosa perdamaian yang dielu-elukan sebagai pahlawan.
“Ini kesalahan Tuhan.” Ujarnya dengan tegas. Ekspresi keyakinan begitu kental terpancar dari wajahnya. Tidak keluar satu patah bantahan dariku. Selain hanya tercenung,”kenapa ketika ada hal-hal buruk yang terjadi justru Tuhan jadi sasaran. Tetapi saat sedang bermandikan kesenangan, keindahan, Tuhan terlupakan. Manusia bisa berpikir dengan mencari-cari kesalahan Tuhan, tetapi sangat jarang tergerak untuk mencari kesalahan sendiri.”
Dinamika. Aku mensyukuri berada didalam semua dinamika itu. Dinamika yang sesekali memang mengundang marah, tetapi terkadang juga menjadi banyolan yang indah untuk didengar dan dilihat. Cukup mampu untuk mengundang tawa–meski dalam hati–.
Sampai detik ini aku masih setia pada barisan orang-orang yang tidak berselera untuk menyalahkan Tuhan. Meskipun, aku tetap menebar senyum pada mereka yang berlainan pikiran denganku.
***
Selalu saja aku merasa kagum pada beberapa figur yang terkadang memang belum pernah bertatap muka denganku. Sebagian mereka mungkin telah bertemu Tuhan di peristirahatannya. Mereka, yang selalu menebar prinsip, bahwa semua keburukan yang terpampang seperti pelacur mengangkang bukan untuk diteladani, tidak untuk diikuti. Mereka, yang selalu percaya, hidangan keburukan itu akan selalu ada sebagai pesan Tuhan,”selesaikan semua keburukan itu agar hati dan pikiran berfungsi, Agar hati dan pikiran lebih terasah, nurani bisa lebih berfungsi. Mencari-cari kesalahan sama sekali tidak membutuhkan ilmu atau pengetahuan apapun.”
Kunjungi Juga: Suhu Cinta
Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.
Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”
Saya tidak tahu, bagaimana pikiran yang sedang berjalan di kepala anda membaca judul saya itu yang mungkin memang terkesan “asal”. Mirip seseorang yang sedang belajar menulis bukan? Sebenarnya, kendati sudah menggeluti dan menggemari kegiatan menulis sejak 15 tahun terakhir, tetap saja saya harus akui bahwa saya masih belajar untuk menulis.
saya selama ini dan bahkan sampai sekarang meyakini bahwa hanya dengan menulis ini saja keran yang tersumbat itu bisa lancar kembali.
Sambil mengepak barang, pagi ini pikiranku terus saja berbicara. Bahwa, sebagai lelaki tidak perlu takut dengan beribu resiko dan tantangan. Tetapi, jangan pernah harga diri terbiarkan terinjak, atas alasan apapun. Sambil terus mengepak barang, lagi pikiranku masih terus saja berceloteh, sekarang aku sedang merasakan sebuah kondisi hidup yang harus kuakui sarat dengan ketidak pastian. Dan ini semua juga merupakan buah dari keputusanku sendiri. Walaupun ini berat dan melemparkanku pada sebentuk kemiskinan yang sangat parah.
Sering terlihat wajah-wajah berkernyit, jidat yang mengerut. Terkadang mereka untuk tersenyum pun sepertinya sulit. Dan tidak terasa justru kita dan saya juga sering menjadi aktor dari dagelan yang berjudul: Kernyit dan Kerut di Pesta Jidat. Sebuah dagelan yang dari judul saja sudah tidak mampu menggugah selera, apalagi dipaksa harus dinikmati.
