Arsip untuk Kategori 'KONTEMPLASI'



14
Mar
09

Obrol versus Obral Janji

kekasih3 hal menjadi ciri manusia munafik:

1. Bila berkata ia dusta

2. Bila dipercaya ia khianat

3. Bila berjanji ia ingkar (Hadits)

Orang boleh tidak lihai dalam banyak hal, tetapi dalam urusan menabur janji sepertinya tidak butuh sekolah tinggi. Iya, tidak butuh sekolah tinggi untuk seseorang bisa menabur janji. Kita hidup bermasyarakat, toh karena memang kita makhluk sosial yang secara kodrati ‘terharuskan’ untuk bergaul entah dengan siapa saja. Lepas apa saja yang mungkin melatarinya. Bagi kalangan remaja yang masih mencari-cari makna hidup, barangkali janji juga menjadi senjata untuknya bisa menaklukkan pujaan hatinya.

Seorang kepala rumah tangga, barangkali menjadikan janji sebagai senjata untuk menaklukkan kerewelan istri dan anak-anaknya. Seorang Jenderal akan memberi janji kepada prajuritnya agar tetap gairah di medan tempur. Guru akan memberikan janji agar muridnya termotivasi untuk belajar. Seperti halnya juga seorang sahabat kepada sahabatnya, memberikan janji untuk membuat sahabatnya senang.

Intinya janji menjadi alat, alat penakluk dan alat untuk mencapai tujuan. Dan janji juga sering dilihat sebagai alternatif untuk menyelesaikan sebuah masalah. Meski janji hanya bisa menyelesaikan masalah secara temporer saja. Tetapi, memang janji di satu sisi menggembirakan. Sebut saja janji seorang politikus kepada bakal konstituennya. Ini bisa menjadi alat bagi dia untuk menghipnosis konstituen agar dengan yakin menjatuhkan pilihan padanya.

Disana butuh strategi agar konstituen tersebut teryakinkan dengan janji yang ditawarkan oleh seorang politikus (baca;calon legislatif atau calon kepala daerah). Pun, terkait ini, diakui salah satu ciri seorang pemimpin tergambar dari bagaimana ia menumbuhkan keyakinan pada orang lain, atau orang yang bakal ia pimpin. Seseorang tidak akan bisa ’santai’ duduk dikursi kepemimpinannya jika pada saat yang sama ia tidak bisa meyakinkan pada orang yang melihat ’sikap santai’nya sebagai bagian dari skenarionya untuk menuju pada tujuan yang ingin ia berikan untuk pengikutnya. Namun tentu itu bukanlah sebuah sikap yang mutlak layak untuk ditiru tentunya. Karena secara realistis saja kita katakan, tidak akan pernah ada manusia waras yang akan bisa tidur tenang oleh buaian janji saja. Jika dalam sekian lama janji hanya bertahta di tahta janji saja, tidak pernah ada sinyal akan muncul singgasana yang bernama realisasi. Kecenderungan kita akan kecewa jika yang terjadi seperti yang disebutkan terakhir tadi. Kita adalah manusia. Kita memiliki harapan. Tentu saat mendengar janji diutarakan dan itu mengarah pada kita. Paling tidak saat merasakan bahwa janji tersebut menguntungkan, dalam angan timbul harap, kelak janji tersebut menjadi kenyataan. Dan disaat yang sama juga kita membayangkan, adalah hal yang sangat membahagiakan ketika janji tersebut menjadi realitas.

Namun begitu ada hal juga yang harus diperhatikan. Kita yang menginginkan untuk bertemu dengan manusia jujur, menjadi keharusan diri kita untuk memulai kejujuran tersebut dari diri sendiri. Menyimak pada sebuah hukum dasar alam, keserupaan menarik keserupaan. Menginginkan orang lain agar menjadi figur-figur yang menepati janji, agar kita tidak terkecawakan. Merupakan keharusan juga untuk kita adil menepati janji yang pernah kita ikrarkan, lepas kepad siapa saja janji tersebut terikrarkan.

Diakui juga, negeri kita sejauh ini menjadi ladang untuk tumbuhnya janji-janji dengan subur, tetapi tidak terlalu banyak dari janji tersebut berhasil menjadi benih yang kuat untuk tumbuh sebagai realitas. Dari remaja, tidak sedikit kita dengar yang bunuh diri disebabkan oleh janji kekasihnya yang jauh panggang dari api. Orang tua yang tidak dihargai lagi oleh anak-anaknya disebabkan terlalu banyak yang belum ditepatinya. Sampai pada sahabat yang terpaksa menerima kado wajah merengut dan cemberut dari sahabatnya dikarenakan ketidak-berhasilannya menepati janji.

Juga politikus yang sudah diplesetkan sebagai “poli-tikus” disebabkan posisi mereka selama ini membuat mereka terpaksa bersikap seperti tikus. Entahlah. Lepas dari itu semua, ada beberapa hal yang–sepertinya— penting untuk kita cermati, dalam posisi kita sebagai penerima janji. Ataupun siapa saja yang sudah merasa mual dengan jejalan janji yang terpaksa tersumpal di mulut obsesi kita:

1. Mereka yang menyampaikan janji adalah manusia. Manusia memiliki potensi untuk menyalahi janjinya. Sekalipun ia melanggarnya secara tidak sengaja. Jadi, jangan gantungkan harapan pada manusia jika tidak ingin kecewa.

2. Mereka punya kepentingan sendiri, terkadang mereka juga punya kelemahan untuk memprioritaskan, antara kepentingan sendiri dengan kepentingan kita yang sudah pernah disodori janji. Disini butuh kebijaksanaan kita sebagai orang yang dijanjikan apa saja

3. Kita jangan gantungkan diri pada janji mereka. Jika dengan potensi yang kita miliki, yang dianugerahkan Tuhan, memungkinkan kita untuk menggapai apa yang dijanjikan oleh sesama manusia, sebaiknya saja untuk meraih sendiri apa yang pernah dijanjikan oleh orang lain.

4. Jangan melihat mereka yang berjanji memiliki power atas segalanya. Ada saatnya energi mereka untuk realisasikan janji menemui saat untuk menguap dan hilang, janji itupun turut menguap dan turut hilang. Merasa yakin pada janji hanya akan membuat kita terpuruk dalam kekecewaan yang dalam. Apalagi banyak faktor di alam ini yang terjadi secara tidak sesederhana yang kita pikirkan. Nah itu beberapa masukan sederhana saja dari perenungan yang juga sederhana saya lakukan.

Selanjutnya, kita yang pernah merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang yang menjadi ‘korban’ atas janji-janji yang pernah tertujukan pada kita. Adalah pilihan sangat cerdas jika kita berikhtiar untuk tidak mengulangi hal yang sama pada orang lain. Jika ini kita pegang dan ikrarkan pada diri, tentu akan semakin berkuran manusia yang kecewa hanya disebabkan oleh kezaliman mulut yang disebut janji kosong (baca:bualan). Jangan, seperti yang pernah saya ikuti dalam beberapa seminar Psikologi—sebagai ilustrasi—, dikatakan seorang perempuan yang telah pernah menyerahkan keperawanan kepada kekasihnya diluar nikah, saat ia tidak dinikahi oleh kekasihnya, kecenderungan yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah, ia akan ‘berkampanye’ pada perawan-perawan lain untuk mengikuti jejaknya. Intinya mereka beranggapan, sakit ini baru adil ketika orang lain juga merasakannya.

Tetapi manusia berjiwa besar akan berikrar, biarlah selama ini aku menjadi korban dari kesalahanku, tetapi kesalahan ini janganlah terulang pada yang lain. Seperti yang dilakukan oleh beberapa perempuan di level internasional yang kemudian berkampanye untuk anti Free Seks setelah mereka sendiri merasakan dampak butuk dari praktik free seks. Ini sebagai ilustrasi. Berbicara janji maka kita berbicara karakter, berbicara moral dan berbicara hidup matinya nurani.

Untuk zaman sekarang, akan menjadi hal yang konyol mengatakan janji sebagai sesuatu yang berharga, karena paradigma berpikir sebagian manusia modern yang tidak lagi menjadikan nurani sebagai kiblat. Tetapi masyarakat yang tumbuh hanya berputar pada kepentingan dan kepentingan saja, yang mengarah dan menuju untuk kepentingan sederhana didalam diri sendiri saja. Diluar dengan wajah yang diperindah sedemikian rupa, janji-janji diukir dan tertabur. Sangat disayangkan jika figur demikian menjadi kekasih, menjadi istri, menjadi kepala rumah tangga atau bahkan menjadi politikus—untuk skala lebih luas—. Dan kita bayangkan sebaliknya, bagaimana indahnya saat janji kembali mendapat tempat berharga di dalam perlakuan manusia. Janji tidak disepelekan, dan janji dianggap sebagai cermin dari harga diri. Sehingga tidak lagi ada celah bumi yang disemaki oleh manusia yang merendahkan derajat kemanusiaan dengan melanggar janjinya. Jadilah kekasih yang menghargai janji, jadilah keluarga yang menepati janji dan jadilah bangsaku sebagai bangsa yang tidak merendahkan janji.

Dan, beruntunglah kita yang hari ini yang masih menjadi figur-figur yang tidak terlalu banyak menabur janji. Karena, kita percaya semua janji itupun kelak hanya akan menjadi beban di akhirat saat disini, dibumi ini kita hanya menaburnya untuk mencapai tujuan tanpa pernah ada realisasi. Sebagai penutup obrolan ini, sepertinya kita bisa renungkan seuntai kalimat yang pernah diuraikan dengan bijak oleh seorang Filsuf China yang pernah hidup ratusan tahun lampau: sebaiknya seseorang hanya mengatakan apa yang dipahaminya. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya. Karena, saat seseorang mengatakan apa yang tidak ia pahami, maka itulah yang akan menjadi penyebab seseorang itu menjadi pendusta.

Akhirnya, kehati-hatian dalam menelurkan kata dan bahasa akan menjadi alat paling bijak untuk menangkal diri menjadi manusia munafik. Hingga, ketika posisi kita sebagai kekasih, menjadi kekasih yang dikagumi kekasihnya karena berani menepati janji selalu. Menjadi kepala keluarga, menjadi kepala keluarga yang dikagumi istri dan anak-anaknya karena selalu menepati janji. Apalagi sebagai seorang negarawan, akan sangat penting untuknya menjadi sosok yang berhati-hati dalam janji, sehingga yang dijanjikannya bisa terealisasikan. Dari sana ia menjadi negarawan yang akan dicatat dalam sejarah rakyatnya sebagai pemimpin yang menepati janji. Kekasih yang mendapat tempat paling berharga dihati kekasihnya dengan ketepatan janjinya.

Renungan Tengah Malam untuk Kekasih dan untuk Bangsa Meulaboh, 14032009

23:54

13
Agu
08

Orasi Anak-anak Gelandangan

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiri saja menunggu teman yang sedang belanja di salah satu swalayan di Meulaboh. Pandanganku tertuju pada satu objek yang ‘menarik’, menyentuh. Beberapa anak-anak dengan baju lusuh, kumal dan terlihat daki cukup kentara di seluruh pakaiannya. Berlarian di depan swalayan tidak jauh dari posisiku yang nyander diatasĀ  motor.

Tidak terlihat sedih di wajah mereka, tidak ada muram, yang tertangkap olehku adalah mereka cukup menikmati kondisi mereka. Oops, tidak terhenti disitu. Sebuah perubahan ekspresi terjadi ketika seorang anak lainnya yang turun dari sebuah mobil mewah dituntun seorang bapak yang saya yakin adalah ayah si anak menuju cafe yang bersebelahan dengan swalayan ini. Pandangan anak-anak berbaju lusuh dan kumal itu hampir semua tertuju kesana. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak yang hidup dan mencari kehidupan dijalanan ini,”andai saja aku memiliki orang tua seperti anak itu, pasti aku tidak harus bersahabat dengan debu seperti yang aku jalani ini”.

Aku tatap lamat dan dalam ekspresi iri anak-anak jalanan ini, gurat cerianya seperti telah larut kedalam pikirannya yang mungkin lebih dalam dari yang bisa kuterka saat itu.

Ini adalah potret kota. Tapi nurani takkan berhenti berbicara atas semua gurat gundah anak-anak ini. Ah, negeriku sebenarnya sudah cukup dewasa secara usia. Akankan pertambahan usia negeriku semakin meningkatkan kepedulian bangsanya pada nasib anak-anak itu. Apakah bangsaku hanya bisa berujar singkat dengan pemandangan ini yang memang tertulis di semua kanvas wajah kota,”kasihan”. Sebab, sekedar kasihan takkan mengeyangkan perut-perut mereka. Untai kata kasihan itu takkan membuat anak-anak ini cerdas dan kemudian saat mereka dewasa akan melahirkan generasi yang lebih cerdas. Mereka akan juga melahirkan generasi lemah kelak, 20 tahun yang akan datang. Berapa banyak sudah nurani terketuk dengan pemandangan ini, semoga takkan ada lagi anak bangsa yang sedang berkehidupan lebih baik mengelak dari tanggung jawab ini. Semoga.

Meulaboh, 13 Aug 2008

12
Agu
08

Peran Tuhan dan Tanda Tanya Kita

Ah, kita tidak diberikan yang kita inginkan. Kitapun menulis keluhan di dinding waktu yang terus berjalan.

Jika kita hari ini kecewa, itu adalah pilihan kita sebenarnya. Barangkali saja kita belum cerdas dalam melihat sistem kerja alam berhadapan dengan interest kita sebagai manusia. Begitu banyak ambisi, obsesi yang terkadang hanya berkarang di ruang-ruang bernama harapan. Sebagian dari kita memilih mengurung diri, menghindar dari penerimaan pada realitas hingga ada yang bunuh diri, mereka telah menulis tentang Tuhan sebagai sosok Yang Maha Kejam. Entahlah

Pemahaman kepada cara kerja alam tenyata penting, memahami kebijakan Tuhan juga perlu ditelusuri. Kita takkan sampai pada titik intinya mungkin, tetapi sedikit saja pemahaman yang bisa kita rengkuh sebenarnya sudah cukup memadai untuk menghindari kita dari keterpurukan yang terlalu dalam, yang kemudian menyulitkan kita untuk bangkit.

Kembalilah, kembali pada diri, kembali pada penglihatan jujur, kembali pada kerendah hatian bahwa Tuhan memang sangat bijak saat ia berkesimpulan untuk memberikan sebuah keputusan. Bagaimanapun bentuk itu pada awalnya—pilihan Tuhan tersebut—-, suatu hari kita pasti akan mengangguk bahwa memang Ia Maha Cerdas dalam memilih yang terbaik untuk hamba-Nya

07
Agu
08

Mengtradisikan Menulis Wajah Bangsa

Berbicara bangsa, pasti yang terbayang dibenak kita bisa saja beragam. Akan terlihat wajah-wajah kuyu di terminal, ekspresi letih para kondektur, tukang becak yang ’sangar’ karena menahan lapar, sampai ke anak-anak negeri yang berkumis lebih ‘berminyak’. Sembari merenung, sejauh ini raut seperti apakah yang lebih sering terlihat di ujung mata kita?

Itu potret, keluhkan saja itu. Kita confident saja bahwa keluhan itu satu hari kelak akan mengantarkan kita pada ruang kesadaran, bahwa ada sesuatu yang mutlak harus kita kontribusikan untuk memoles kanvas negeri menjadi lebih berseri.

Tidak penting mengumbar tulisan dimana, karena berapa banyak sudah pemikir yang terlahir ditengah-tengah bangsa ini, tetapi lihatlah berapa banyak hal itu memberi sinyal bahwa telah ada perubahan signifikan di negeri ini”, sebait puisi pesimistis tertulis, entah oleh siapa, bisa jadi saya sendiri yang sudah pernah menulis itu.

Namun selanjutnya saya ingin berujar, berapa banyak efek positif yang bisa ditimbulkan dari sebuah sikap pesimis? Nyaris tidak ada bukan.

Nah, ternyata hal seperti inipun menjadi bagian indikator kedewasaan kita. Pada kepekaan, kepedulian, kemauan melihat nurani yang selanjutnya coba ditautkan kepada realitas setiap jengkal wajah negeri, wajah bangsa.

Mari menulis tentang tetangga kita yang masih lapar

04
Agu
08

Santun dan Musium (?)

……Saat engkau belum mampu membahagiakan saudara-saudaramu, janganlah engkau sakiti mereka. Agar kelak tidak menjadi manusia yang dikutuk jiwa-jiwa yang suci

Memang, sering bahwa sikap santun hanya bermain pada tataran imajinasi. Saya sendiri adalah bagian dari orang yang pernah menjadi korban dari imajinasi indah itu.

Bayangkan anda menyapa sesorang dengan ramah, lantas anda justru di semprot, apa yang akan terbetik di benak anda? Sah saja kalau anda amarah menyikapi hal demikian, atau anda barangkali memilih untuk mendiamkannya. Namun, ini menjadi sebuah simbul, kita sedang berada dimana.

Kawan saya mengatakan,”jika sebuah sikap buruk harus dibalas dengan keburukan pula, apa bedanya kita dengan mereka?”.

Kelimat ini terasa sejuk di hati, kendati sempat panas kala menerima keadaan seperti yang saya ilustrasikan di atas.

Ini tentang kita, ini tentang realitas, dan ini tentang sisi-sisi manusiawi yang akan kita temui disekeliling. Mungkin saat di terminal bis, di halte, atau mungkin di acara hajatan tetangga sebelah.

Anyway, kita sedang merangkak pada topik kebesaran jiwa, kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang besar, berjiwa besar, dan sikap kita dalam menghadapi semua itu sebagai indikator. Adalah hal yang nisacaya, salju akan memancarkan aura sejuk, dingin. Mutlak harus diragukan saat onggokan ’salju’ pancarkan hawa panas yang membuat gerah.

Ah, membicarakan hal ini terkadang saya malu sendiri, karena bagaimanapun, tempo hari pernah juga menghadapi hidup dengan ‘wajah sangar’.

04
Agu
08

Hukum Konsistensi

Sempat tertanyakan pada diri sendiri sehubungan telah lebih dulu saya pilihkan judul terlebih, sebuah pelanggaran dalam tradisi saya menulis. Apakah ini berkaitan dengan hukum-hukum fisika? Mengingat menulis dengan judul yang seperti ini rentan dengan ketidak-tertarikan. Secara otomatis argumen saya mengarah pada analogi, jika saya menghidangkan semeja makanan, tentu apapun bentuk lauknya akan ditelannya. Nah, sehingga selanjutnya saya tetap confident untuk terus saja menulis, dan judul tersebut saya jadikan sebagai patron.

Mari, kita arahkan imajinasi pada sosok penebang pohon yang menggunakan kapak. Kendati sesekali seorang penebang mengayunkan kapaknya dari arah yang berbeda, tetapi itu tetaplah sebuah kekonsistenan. Terkadang ia mengayunkannya dari sisi kanan, kadang juga dari sisi kiri, muka dan belakang. Pola yang sepintas nampak inkonsisten ini justru tetaplah masih sebagai sebuah kekonsistenan.

Seorang nelayan melemparkan jala dari tempat yang berbeda, setelah ia merasa yakin tempat sebelumnya tidak memiliki ikan seperti yang diharapkan, ia berpindah. Terlihat seperti tidak konsisten. Tapi tetap ini masih merupakan sebuah sikap konsisten. Konsistensi tidak pernah memenjarakan. Ia bukan stagnansi. Bukan kejumudan.

Adalah sebuah kebenaran, konsistensi adalah sebuah kutub energi juga, dari konsistensi yang tidak terpahami seringkali juga muncul begitu banyak bentuk pengahakiman, hanya orang-orang yang benar-benar sadar atas apa yang ia lakukan yang akan tetap bertahan pada hukum kekonsistenan. Dan ia meraup kemenangan yang unpredictable. Ya, anda, kita jangan bunuh diri dengan segala bentuk penghakiman dari siapapun. Konsistensi itu tidak akan bisa diterjemahkan mereka yang hanya melihat dengan mata kepala tanpa keikut-sertaan mata hati

<!– –>