Arsip untuk Kategori 'LEPAS'

17
Sep
09

Bank Syariah: Bukan Bank Islam

bankBerkisar 15 tahun saya belajar di lembaga pendidikan Islam. Dari ibtidaiyah hingga berenang di lautan kampus di IAIN Ar Raniry-banda Aceh. Kendati saya tidak mengambil Fakultas Syariah sebagai pilihan, namun hasrat untuk mengenal semua “pori-pori” Islam terus mengepung.

Saya sering berdialog tentang Islam dengan rekan-rekan. Tidak saja yang sesama Muslim, tetapi juga bahkan yang non-Muslim juga acap saya jadikan partner untuk membicarakan Islam. Ini tidak bermakna sebagai kebanggan subjektif kepada agama yang memang saya anut dari sejak saya sadar sebagai manusia. Tetapi, karena saya suka menggeluti Islam dari perspektif sejarah—disini silahkan kernyitkan dahi, kok bicarakan Syariah malah bicarakan sejarah?—. Iya, dari displin ilmu Islam yang berkaitan dengan muamalah, nyaris dihampir seluruh belahan dunia, teori-teori perbankan cukup lama terbengkalai. Hanya menjadi bahan diskusi. Menjadi bahan obrolan untuk mengangkat pamor “pembicara” sebagai orang-orang yang sangat paham dengan pengetahuan Islam, tapi nihil disisi implementasi.

Begitu, saya tidak akan membahas persoalan itu dengan gaya seorang pakar historis. Namun, lebih tertarik untuk melihat itu sebagai ujud ‘kedongkolan’ yang puluhan tahun bercokol di pikiran saya. Kenapa baru sekarang persoalan Bank Syariah lebih diseriusi? Kenapa malah dulu justru pilihan yang berhubungan dengan masalah perbankan itu seperti tidak menggugah selera untuk diimplementasikan, khususnya di Indonesia. Tapi, ini tidak bermakna saya ingin memarahi kondisi tersebut. Hanya saja, kendati sah-sah saja untuk menjadikan persoalan “lebih menguntungkan” sebagai alasan untuk lebih mengseriusi persoalan Bank Syariah. Namun, lebih ideal jika alasan untuk pengimplementasian itu mendapatkan alasan yang lebih meng-global. Intinya Bank Syariah tidak lagi harus ter-eksklusifkan sebagai Bank Islam, namun ia juga bisa memberi out put lebih bahkan kepada yang non-Muslim. Maka dari sini, jika memang kita sama setuju menyebut Bank Syariah sebagai Bank Islam, maka tanggalkan itu dulu dengan menunjukkan lebih konkret bahwa perbankan yang berlandas kepada syariah tidak mengharamkan memberi keuntungan kepada nasabah atawa siapa saja yang memiliki ketertarikan kepada lembaga perbankan tersebut.

Sebagai nasabah di salah satu Bank Syariah—tepatnya Bank Syariah Mandiri—, di Meulaboh, saya terharu dengan beberapa nasabah disana yang non Muslim, dengan tanpa beban, tidak merasa sebagai “turis” di Bank Syariah yang sering disebut sebagai hanya “miliknya” orang-orang Islam, membawa berkantong-kantong rupiah untuk ditabung disana. Karena mereka percaya dengan kelebihan institusi perbankan syariah. Apakah kedepan kondisi ini bisa tetap terjaga. Terjebolnya ekslusifitas Bank Syariah sehingga juga bisa diakses oleh yang non-Muslim menjadi penting dalam hubungan dengan hal ini. Ini kembali kepada pengelola lembaga perbankan di Indonesia, bagaimana menciptakan dengan lebih tegas bahwa Bank Syariah sama sekali jauh dari ekslusifitas. Membuktikan bahwa Bank Syariah ‘bukan’ Bank Islam. Ini penting untuk dikampanyekan secara gencar, ketika kita memang mendambakan rahmat dari keberadaan Bank Syariah bisa lebih universal dan meng-global. Sehingga memberi efek positif juga terhadap Islam sendiri yang selama ini sering hanya direkatkan dengan fundamentalisme picik. Wallaahu a’lam

Resources: http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/?p=2923

09
Sep
09

Guyon Kemajuan

Sebenarnya yang ingin aku tanyakan dalam tulisan ini adalah, bagaimana keadaan bangsa ini hari ini. Masih terjebak dengan spirit parsialitaskah?

Ah, tiba-tiba aku teringat dengan guyon yang kujawab saat seorang rekan mengajak untuk berpikir agar Aceh bisa lebih maju. Secara spontanitas saja kuberikan jawaban,”kemana Aceh ingin dimajukan, ke arah Malaysia, Singapore atau Filipina? Karena memiliki sedikit keraguan jika Aceh bisa ‘maju’ dengan posisi seperti sekarang” Titik.

Sebenarnya aku ingin menjabarkan seperti ini. Dari dulu, sejak merasa lebih ‘rajin’ dalam menelaah sejarah, dibenakku sempat terpikir bahwa Indonesia ini sangat luas. Kadang usil terpikir lagi, kenapa dulu ketika masa kemerdekaan dan beberapa Propinsi ingin menjadi negara sendiri. Justru pemerintah lebih mengandalkan senjata. Duh, kok pikiranku melantur kesana.

Jangan permasalahkan tanda tanyaku itu. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana negeri ini lebih baik. Seketika, otak pesimisku muncul—walaupun ia sering gagal dalam menduga-duga—, bahwa sampai kapanpun jika penyatuan itu masih berlandas pada keterpaksaan dan pemaksaan. Maka dengan sendirinya, sendi yang sudah dibangun itu sama sekali tidak permanen. Jadi, bukan tidak mungkin kelak gejolak yang beragam akan kembali muncul, lagi dan lagi.

Lupakan itu, tapi idealnya memang, sekarang harus betul-betul terketemukan sebuah formula yang lebih efektif untuk memajukan negeri ini. Dan itu sebenarnya bukan hanya tugas dari pemerintah saja. Kita sebagai rakyat semestnya lebih terbuka juga untuk lepaskan baju parsialitas. Dan memasang pakaian optimisme. Dan itu bukan hanya pakaian luar saja, tapi pakaian dalam juga harus betul-betul steril. Walaupun tantangan diakui kuat, tapi membawa perubahan negeri ini pasti terjadi kearah lebih baik. Tinggal, apa yang bisa kita berikan, apa yang bisa kita bagi?

tulisan setelah semalam tidak tidur.

29
Des
08

Tahun Baru Hijriyah dan Kita (?)

Pertama sekali, saya layak berterima kasih kepada seorang rekan non-muslim, Thomas Prasetyo. Sosok muda idealis ini kendati ia seorang Kristiani, namun ia masih menghargai saya dan agama yang saya anut, Islam. Berhubungan dengan perayaan Tahun Baru Hijriyah 1430.Saya harus berterima kasih kepadanya, mungkin karena

1. Ia yang pertama sekali yang memberi ucapan tersebut kepada saya. Ini sangat mengharukan bagi saya.

2. Saya menjadi lebih termotivasi untuk menghargai agama ini dan agama-agama lain, dan ini juga tentunya diajarkan oleh Rasul SAW dalam kaitannya dengan hubungan dengan non Islam. Betapa, mereka yang bukan Islam saja masih menghargai agama ini, tetapi kita sebagai Muslim selama ini malah menginjak agama sendiri dengan beragam pola yang kita lakukan, entah sadar atau tidaknya. Cinta kita kepada agama ini pun sepertinya sangat layak untuk dipertanyakan. Sebuah hal yang luar biasa jika moment inipun menjadi moment kita untuk menambah kecintaan kepada agama ini.

Mungkin itu, 2 alasan yang sederhana yang ingin saya kemukakan, disaat masih banyak generasi Muslim yang terlihat tidak antusias dengan datangnya moment Tahun Baru Hijriyah 1430. Semoga kedatangan Tahun ini menjadi momentum pula untuk kemenangan kemanusiaan. Tidak ada lagi perang dan pertikaian, tidak ada lagi yang menjajah dan yang dijajah. Dan, tidak ada lagi agama yang menjadi korban. Dan KITA? Menjadi figur-figur yang lebih matang dalam melihat perbedaan, amien

Kepada rekan-rekan, saudara-saudara saya yang saya cintai dibelahan dunia manapun, yang mungkin tidak bisa saya sebutkan satu persatu, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, 1430. Mari menjadi Muslim-muslim yang lebih baik dan semakin diperhitungkan. Dan kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik dari tahun kemarin. Tentu ini bukan sebuah cita-cita yang mudah untuk diujudkan, tetapi kita percaya, PELUANG akan selalu ada!

Untuk saudara-saudaraku di Bumi Palestina, setiap darahmu akan selalu punya makna! Sebagai Muslim saya turut merasakan kesedihanmu. Semoga saja itu adalah darah terakhir yang tumpah!

Also published in: http://fickar.multiply.com

26
Des
08

Aceh dan Pemilu I

(Perang RI-Aceh Edisi II)

 

Menoleh ke pinggir-pinggir jalanan di Aceh, bermacam Baliho, billboard, poster, spanduk dan yang sejenisnya bertebaran. Dengan isi, semuanya tidak jauh-jauh “ini partai atau figur calon wakil rakyat yang paling layak untuk mewakili aspirasi anda.”

 

Yah, itu sebagai gambaran bagaimana bentuk sambutan masyarakat Aceh pada demokrasi, pada Pemilu yang tidak lama lagi akan dirayakan oleh seluruh masyarakat di Indonesia secara keseluruhan.

 

Hanya disini ada satu hal yang tentu berbeda dengan belahan lain di Nusantara ini, partai yang akan bertarung di Aceh tidak saja partai-partai yang ‘naksir’ berpusat di Jakarta. Tetapi adanya keberadaan Partai Lokal yang merupakan bayi-bayi yang ditetaskan oleh persenggamaan yang bernama MoU Helsinki pada 2005 lalu. Mereka  tentu menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh Partai-partai Nasional yang juga mencoba tetap melakukan penetrasi untuk bisa mendapatkan suara di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, hal lain yang mungkin juga menarik untuk dicermati adalah terpilahnya partai nasional, Partai Lama dan Partai Baru.Partai lama yang saya maksudkan disini adalah partai yang telah unjuk gigi sejak masa pemilu 2004 silam, sedangkan partai-partai baru saya definisikan sebagai partai-partai yang baru akan mengikuti pesta demokrasi untuk Pemilu 2009 ini.

 

Di Aceh, kalau ingin berbicara dari sudut pesimistis, jangankan Parnas yang baru berdiri, untuk partai lama saja sepertinya harus berjuang lebih ekstra untuk meraup massa di Aceh. Dan hal ini saya yakini telah sangat diperhitungkan oleh pihak partai nasional yang selama ini telah mendapat ruang gerak lebih ditengah masyarakat Aceh semisal PKS, Golkar, PPP dan PAN Selain partai Lokal sendiri semisal Partai Aceh, Partai SIRA dan lain sebagainya.

 

Cuman, melongok kembali pada Pemilihan Kepala Daerah yang dimenangkan oleh unsur GAM/independen menjadi sebuah gambaran lain terhadap selera politik masyarakat Aceh. Saya tidak terlalu yakin kebanyakan masyarakat Aceh akan dengan serta merta berpaling dari elemen-elemen politik yang berasal dari luar Aceh. Kondisi ini tidak bermakna saya ingin menerjemahkan orang Aceh seperti Yahudi, atau komunitas yang telah diperkosa oleh alam pemikiran chauvinism[1]. Namun, memang masyarakat Aceh begitu mencintai apapun bentuk yang melekat dengan identitas mereka sebagai bangsa yang pernah jaya[2]. Sehingga, kembali kita kaitkan dengan selera politik, maka tentu mereka kemungkinan tidak akan jauh-jauh dari interest yang mereka miliki sebagai sebuah bangsa seperti yang saya sebutkan diatas.

 

Selanjutnya, merupakan sebuah keniscayaan yang harus sangat dipertimbangkan oleh elit-elit politik dilevel pusat untuk tidak melihat terlalu rendah tentang keberadaan partai-partai lokal yang ada di Aceh, termasuk tentunya apa-apa yang kedepan mungkin dihasilkan ketika kelak mereka terbukti berhasil keluar sebagai pemenang dalam proses pemilihan umum di Aceh kedepan. Sebab, sudah menjadi semacam sebuah efek logis ketika mereka eksis dan kemudian mendapat ruang lebih, mereka tidak akan dengan mudah diobok-obok oleh unsur lain yang berada diluar lingkaran mereka. Karena, ketika hal itu terjadi, dari sudut sederhana, maka sama saja dengan membuat bom waktu yang baru yang akan meledak kembali, sedangkan selama ini iklim kondusif yang telah terciipta di Aceh merupakan buah kerja banyak pihak yang telah diusahakan dengan susah payah. Untuk itu, decision making yang mungkin akan terus terambil selama proses dan setelah Pemilu nantinya harus betul-betul memperhatikan kondisi sensitif tersebut.

 

Pemilu 2009 yang akan berlangsung itu adalah bentuk perang. Meski, dari kacamata canda, senjata yang mungkin digunakan adalah batu-batu yang siap beterbangan dari pendukung partai tertentu, serangan fajar berupa amplop sebagai amunisi tambahan hingga bentuk-bentuk lain. Namun, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas jalannya pesta demokrasi ini sangat diharapkan untuk lebih dewasa dalam upaya mereka melakukan penetrasi ketengah massa di Aceh. Mari kita tunjukkan, kita telah sangat dewasa dalam berdemokrasi dan dalam melihat demokrasi itu sendiri. Bukan kepentingan saja yang selalu menjadi kiblat.


[1] Sebuah cara berpikir yang sangat mengagungkan ras, bangsa sendiri dan menganggap rendah etnis lain.

[2] Saya menyebut dengan bangsa, karena Aceh pernah menjadi sebuah negara kerajaan yang sangat diperhitungkan oleh dunia internasional.

21
Agu
08

Geuchik Era Konflik dan Mereka Kini?

Alhamdulillah, MoU yang menjadi tonggak lahirnya era baru perdamaian di Aceh telah melewati masa 3 tahun. Sisa-sisa kengerian oleh bayangan saat-saat Aceh terbaluti konflik masih lumayan membekas di memori kita yang melihat dan merasakan sendiri bagaimana keganasan perang di ketika itu. Hari ini, banyak hal yang seharusnya juga dilirik selain persoalan ’sisa konflik’, baik berupa korban dan sebagainya. Saya melihat dari sudut yang lain, keberadaan pemimpin yang jarang mendapat perhatian, geuchik (sebutan untuk kepala desa di Aceh). Saya yakin, akan ada yang bertanya, “apanya yang menarik dengan geuchik dan kaitan dengan kondisi konflik?” Tidak terlalu banyak barangkali yang bisa di ulas, disatu sisi.

Tetapi sebenarnya ada nilai yang terasosiasi ke sosok-sosok pemimpin kaliber gampong itu, pengorbanan. Iya, konflik menciptakan mereka sebagai figur-figur yang harus banyak berkorban bahkan dikorbankan. Alasannya?

1. Menjadi Geuchik pada saat-saat konflik itu terjadi di Aceh bukanlah kerja mudah. Militer, jika didalam sebuah desa terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer maka Geuchik menjadi sasaran interogasi mereka. Disini Geuchik musti punya ‘amunisi’ jawaban yang ‘menggembirakan’ militer atau harus rela mendapatkan ‘kado’ lars atau popor senapan mesin yang rajin ditenteng militer—maaf tidak ada unsur mendiskreditkan unsur manapun—.

2. Oleh kombatan GAM, Geuchik menjadi representasi mereka—terkadang— untuk pengutipan pajak nanggroe, selain mereka sendiri juga diharuskan membayar semacam upeti dengan jumlah bervariasi, namun tegasnya 2 tahun gaji geuchik belum tentu memadai untuk membayar upeti itu, tetapi demi untuk memelihara selembar nyawa, terkadang tanah warisan terpaksa digadaikan atau bahkan dijual

3. Banyak Geuchik yang memilih mengungsi dari desanya agar tidak terkena dampak buruk dari pertikaian ‘yang membingungkan’ itu—saya sebut membingungkan karena memang banyak masyarakat yang pernah saya temui kebingungan untuk berdiri dipihak mana, karena umumnya masyarakat merasa mereka yang bertikai adalah bagian dari masyarakat juga—-.

Nah, disini ada beberapa Geuchik yang ternyata istiqamah untuk tetap survive menjalankan fungsinya sebagai kepala desa dan melupakan konsekuensi-konsekuensi buruk yang mungkin terjadi pada diri dan keluarganya, Dari situ sebuah ironi saya tangkap. Terawali oleh sebuah pertanyaan yang tidak sengaja tercetus di mulut saya, tadi siang saat sedang assesment di desa-desa pedalaman Aceh Barat—Kecamatan Pantee Ceureumen—, di Desa Pulo Teungoeh

“Maaf Pak, setahu saya Bapak sudah menjadi Geuchik sejak masih konflik, dan kami juga sudah mendapat banyak gambaran bagaimana kesulitan yang harus diterima dalam posisi Geuchik saat itu, nah sejauh ini apakah ada penghargaan khusus dari pemerintah untuk Geuchik seperti Bapak yang tetap bertahan ketika itu?” Diluar dugaan saya, airmata menetes dari pipinya, sebelumnya tadi terlihat ceria dengan kedatangan Tim saya,

“Alhamdulillah, pertanyaan itu mengharukan saya sekaligus membuat saya sedih, bukan haus dengan penghargaan tetapi memang seperti itulah Pak, kami tidak mendapatkan penghargaan apapun dari pemerintah sampai sekarang. Andai saja mereka di pemerintahan berpikir seperti bapak pikirkan, tentu hari ini kami sudah merasakan hidup yang jauh lebih enak mungkin. Tetapi, memang pengorbanan kami dulu tidak akan pernah mendapat nilai, dan bukti sejauh ini menunjukkan itu, pemerintah tidak berikan apresiasi apapun untuk kami Geuchik yang masih bertahan…..”

Saya terhenyak dengan pengakuan itu, yang sempat secara spontan terbetik di kepala saya dari pengakuan geuchik ini adalah, “terlalu sederhanakah pengorbanan geuchik ketika konflik dulu?”, atau karena terlalu banyak hal yang dipikirkan oleh elit pemerintah sehingga geuchik yang bermain di level lebih kecil terkesampingkan sampai begitu rupa? Entahlah

04
Agu
08

Jeulamee

“…serba salah jadi anak muda di Aceh, pacaran berisiko di tangkap WH*, menikah? Jeulamee**, ukuran kantong gak memadai.”

Demikian keluhan seorang rekan terkait kondisi dilematis yang dihadapinya. Dan problem seperti ini bisa jadi tiak saja dihadapi oleh rekan saya, tetapi juga oleh banyakanak-anak muda lainnya.

Ada sebuah trend yang juga sempat terekam kuat dalam memori saya sendiri, sehubungan dengan permasalah jeulamee tersebut, semakin tinggi jeulamee yang bisa di dapat oleh keluarga pihak yang dilamar (tentunya perempuan, untuk masyarakat patriarki seperti Aceh), maka dengan sendirinya menjadi semacam ‘penjelasan’ kualitasnya yang lebih baik, dan berasal dari keluarga yang juga ‘berkualitas’—bingung saya dengan tolok ukurnya—.

Mungkin iya, disatu sisi, terlihat ada juga kandungan nilai filosofisnya sehubungan dengan tarif jeulamee yang berkisar minimal 15 mayam atau 45 gram—sekitar 15 juta plus uang hangus yang bisa mencapai 10 juta—. Kandungan filosofisnya, ini menjadi semacam simbol agar para lelaki itu gigih, bahwa lelaki Aceh tangguh dalam hal mencari nafkah. Saat saya memberikan penjelasan demikian, seorang rekan lainnya nyeletuk,

apakah untuk menunjukkan kandungan nilai filosofis demikian harus dengan standar jeulamee yang sedemikian mencekik?

Nyaris kelimpungan juga saat saya didebat begitu rupa. Akan tetapi kemudiannya saya menyadari bahwa pendapat yang saya berikan untuk rekan saya itu lebih mirip semacam pembenaran, entahlah.

Saya tidak akan mendebat permasalahan itu, hanya saja mencoba melihat itu dengan se-obyektif mungkin.

Tidak mudah bos untuk mendapatkan uang sedemikian kecuali sudah punya ‘aset’ yang memadai atau tabungan yang lumayan, berharap dari simpanan, kita yang bergaji kecil paling hanya bisa gunakan uang tersebut untuk hidup sehari-hari, satu bungkus rokok, selembar baju dan celana dengan satu bungkus nasi, untuk nikah? sepertinya jangan kita salahkan mereka yang ‘dipaksa’ berzina, tetapi lebih salahkan tradisi yang demikian memberatkan”

Kembali saya hanya bisa termangu dan mencoba untuk renungkan kata Jeulamee tersebut. Dan, beberapa hari kemudian, HP saya berbunyi, tak lama”Neuk, gata ka keurija seukian thoen, nyoe ka saat jieh gata untuk meurumoeh tangga, baroesa mak kalheueh jak bak rumoeh calon dara baroe gata jak lamar sinyak nyan,tanggai 11 nyoe mak intat jeulamee, gata siap-siap laju”***

Hah….

Sontak kepala saya panas, masalah jeulamee akan juga menghinggapiku…….

* Wilayatul Hisabah: Polisi Syariat

**Ist. Aceh: Mahar

***Nak, kau sudah kerja sekian tahun, ibu sudah ke rumah calon istri untukmu, tanggal 11 ini akan upacara mengantarkan mahar, kamu siap-siaplah