Arsip untuk Kategori 'PEMILU 2009'

03
Jan
09

Rakyat dan Libido Politik Calon Pemimpin

Oleh: Zulfikar Akbar*

14122008356-001

Soe mantoeng nyeung jeuet keu presiden, atau soe mantoeng nyeung jeuet keu waki tanyoe nyeung ek ue teutap mantoeng ek ue, hana nyeung meu ubah. Meunan cit nyeung weng becak teutap weng becak (terj: Siapa saja yang menjadi presiden ataupun siapa saja yang kelak menempati kursinya, kita yang jadi pemanjat kelapa tetaplah akan menjadi pemanjat kelapa).

Kalimat ini saya dengar sebagai buah dari sebuah kegemaran baru saya saat sedang duduk disebuah tempat berkumpulnya masyarakat, dan itu keluar dari mulut salah seorang warga saat mereka sedang berbincang tentang pemilu.

Kalimat tersebut tentu saja sangat kental dengan aroma pesimistis. Dan itulah yang ternyata bercokol, mungkin, di banyak pikiran masyarakat. Mereka tidak akan menganalisis terlalu jauh tentang kebijakan-kebijakan yang mungkin akan muncul secara berbeda dari setiap pemimpin atau wakil mereka yang akan terpilih. Nah, kondisi semacam itu bisa saja dikarenakan pengaruh dari tingkat pemahaman atas demokrasi dan yang berhubungan dengannya. Apa yang mungkin lebih banyak dipikirkan oleh masyarakat kita tidak jauh-jauh sejauh mana manfaat yang bisa dibawa oleh elemen diluar diri mereka (baca: pemimpin atau wakil rakyat), kepada nasib mereka tentunya.

Kita tidakhendak mengatakan masyarakat kita terlalu bodoh, hanya saja kita tidak bisa menutup mata atas kejujuran masyarakat bagaimana mereka melihat. Atas apapun. Kondisi politik, keadaan sosial. Mereka tidak akan menelan begitu saja teori-teori tentang pengaruh politik kepada kondisi sosial. Mereka lebih tertarik untuk melongok kepada keadaan sebenarnya yang dialami oleh mereka. Baik dari satu pemimpin yang pernah muncul maupun saat terjadinya pergantian pemimpim.

Pemilu 2009 tidak lama lagi akan terselenggara sebagai sebuah pesta rakyat. Yang bisa jadi sebagai awal datangnya perubahan yang lebih baik, dan bisa juga menjadi awal terjadinya permasalahan yang lebih buruk. Yang ini sangat ditentukan oleh siapa yang kelak mereka pilih.

Semoga saja, yang kita bersama harapkan, pemimpin yang kelak muncul bukanlah pemimpin yang memaksakan libido mereka untuk menjadi pemiimpin. Namun benar-benar figur yang benar-benar yang dibutuhkan oleh rakyat, yang memiliki kapasitas lebih sehingga sedemikian banyak persoalan masyarakat bisa terjawab. Tidak mesti tuntas sama sekali. Karena kita yakin bahwa siapa saja yang kelak menjadi pemimpin di Nusantara ini tetaplah mereka yang berasal dari kalangan kita manusia. Mereka tidak datang dari negeri dongeng yang super dalam segala hal, dengan mu’jizat. Rakyat tidak butuh itu. Akan tetapi sosok yang benar bisa melihat dengan jeli dan jernih, apa yang mennjadi persoalan terpenting yang harus dituntaskan, dan apa kontribusi mendesak yang harus diberikan kepada masyarakat.

Karena, berbicara dari sudut apatis, apa yang diperlihatkan oleh birokrat kita, politikus kita selama ini adalah pelajaran-pelajaran yang tidak pernah bisa dijadikan uswah (teladan). Sekalipun pengentasan kemiskinan—sebagai sebuah bagian dari kampanye yang telah teramat sering digaungkan-nyaris tidak pernah sepi mengisi kanvas lukisan besar yang berjudul kepentingan politik. Yang selanjutnya muncul justru, tetap seperti mantra umum yang sering dipegang dan tercantum kuat dipikiran-pikiran ‘jujur’ para politikus, tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.rakyat menjadi batu pijakan saja. Setelah mereka sampai pada tujuan yang diinginkan, entah batu itu akan dibawa arus dan hanyut kemanapun tidak lagi menjadi persoalan. Tanpa mengingat lagi, bahwa dengan adanya ‘batu-batu’ itu ia bisa dengan leluasa tiba pada titik yang telah dicapainya.

Sebenarnya tidak terlalu muluk yang diharapkan oleh masyarakat,oleh bangsa ini. Mereka hanya ingin bisa dengan tenang mencari nafkah, tidak tersendat-sendat untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dan tidak ribet saat mereka butuh layanan kesehatan. Sandang pangan mereka bisa tercukupi. Yang lemah bisa dikuatkan. Dan, mereka bisa beroleh kesimpulan baru, bahwa keberadaan pemimpin dan wakil mereka di parlemen, “sekalipun tetap dengan pekerjaan saya yang itu-itu juga namun saya bisa mendapatkan yang lebih baik secara pendapatan dan hasil dari apa yang saya kerjakan”.

Dan pemimpin tetap teringat saat bermonolog dalam evaluasi diri yang saya yakin sering diilakukan oleh pemimpin kita bahwa, batu-batu itulah yang telah membantu saya untuk bisa tiba pada posisi yang sekarang saya raih. Posisi yang saya bisa beroleh fasilitas mewah, kendaraan yang nyaman dan berbagai fasilitas lain yang tidak dimiliki oleh umumnya anak-anak bangsa ini. Selanjutnya mereka bisa menikam mati hantu kesenjangan yang selama ini telah cukup mengerikan ditengah-tengah bangsa ini. Entahlah, kita mungkin tidak perlu mengdikte apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin baru kita kelak.

Namun, kita berharap mereka bisa menjadi figur yang betul-betul memiliki sensitifitas atas kebutuhan masyarakat. Lagi, tidak hanya libido kepentingan saja yang menjadi dasar mereka saat proses decision making (pembuatan keputusan), tetapi benar-benar people oriented. Mereka bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang sepenuhnya terorientasi pada kebutuhan rakyat. Semoga.

*Penulis, peminat masalah kerakyatan

29
Des
08

Aceh, Caleg dan Celeng

Bukan masyarakat Aceh yang berubah menjadi celeng, atau para saya menuduh para Caleg sebagai figur-figur yang bermetamorfosis dari celeng. Tidak.

Namun memang ada yang menarik dari celeng (Aceh: Bui Sugoet). Celeng itu memiliki sebuah sifat yang juga merupakan kelebihannya dari binatang-binatang lain. Celeng menjadi simbol berani. Perawakannya tidak terlalu besar. Ia bahkan sering terlihat kumuh dan mungkin saja menjijikkan. Lepas dari kelemahan dan kekungan yang ia miliki, namun celeng punya modal keberanian yang sangat kuat. Keberaniaannya sangat diperhitungkan.

Selanjutnya, kita arahkan pikiran pada caleg yang juga ingin saya ceritakan. Di Aceh, menjelang pemilu 2009, bermunculan begitu banyak tokoh-tokoh muda yang tiba-tiba bermunculan sebagai caleg. Ada beberapa yang saya perhatikan yang memang selama in tidak pernah terdengar gaungnya ditengah masyarakat, dan peran apa yang pernah mereka tunjukkan kepada masyarakat Aceh. Dan caleg pun menjadi sebuah trend baru. Ada semacam kebanggan tersirat dari wajah-wajah muda itu saat foto atau gambar dirinya terpajang dipinggir-pinggir jalan dan lorong-lorong yang ada di kota dan desa-desa di Aceh. Nah, saya melihat mereka dari sudut yang juga positif. Iya, keberanian, mereka juga memiliki keberanian yang tentunya dari pilihan mereka untuk muncul sebagai kandidat yang akan menempati kursi legislatif kedepan. Tetapi, saya sering mengkritik mereka saat duduk-duduk santai di warung-warung kopi di beberapa tempat di Aceh, keberanian saja apakah cukup untuk menjadi seorang wakil rakyat?(saya tidak lagi menyebutnya caleg, karena pikiran saya sedang membayangkan mereka telah menjadi seorang anggota legislatif). Dari sana sering timbul berbagai macam perdebatan, dari yang memang masuk akal sampai dengan adanya argumen-argumen yang lebih mengesankan pada pencarian pembenaran atas pilihan mereka.

Tidak salah memang, siapa saja boleh menjadi bakal legislatif, tetapi dari sudut pandang saya sendiri yang boleh jadi tidak terlalu objektif, menjadi wakil rakyat denga cara peusak kha (memberanikan diri tanpa banyak pertimbangan dan kajian) sama saja kita menyamakan diri dengan bui sugoet, yang seringkali malah hanya masuk kedalam perangkap-perangkap yang tak terbaca olehnya. Karena, memang selama ini tidak sedikit dari mereka yang menyodorkan mimpi-mimpi yang lebih terlihat sebagai utopia, terlalu melangit. Nyaris tanpa melihat kondisi riil yang seperti apa yang sedang berkembang ditengah masyarakat. Selanjutnya keinginan saya untuk mendebat banyak hal itu terhenti saat salah seorang rekan yang juga Caleg berujar,”han pue laen, tatarek peng jatah dari pengurus pusat partai” (terj:paling tidak kita bisa menarik duit dari pengurus pusat partai).

Ah, semoga saja tidak semua dari mereka yang punya nawaitu untuk maju dengan logika sesederhana yang terakhir itu.