Hampir di semua jengkal Indonesia pekan ini, beribu ‘mereka’ di sumpah. Photo-photo mereka diburu fotografer. Rekan-rekan jurnalis menjadikan mereka sebagai bagian dari berita yang terlihat begitu merangsang. Mereka telah menjadi wakil rakyat.
Entah itu hanya cita-cita mereka sejak masih kanak-kanak dulu. Entah ada obsesi tersembunyi. Atau memang punya niat untuk berkontribusi kepada rakyat yang masih banyak melarat, untuk masyarakat yang sudah lelah mengumpat? Tidak menjadi sebuah hal yang terlalu penting untuk mencoba menerka-nerka apapun yang mungkin ada dibalik ‘pencapaian’ itu semua.
Sebagai rakyat, sebagai bagian dari manusia yang menghirup napas di negeri ini. Sebagai bagian dari masyarakat yang seringkali hanya bisa sekedar melihat semua yang dilakonkan mereka, paling hanya bisa menyimpan harap. Jika yang telah berhenti adalah cahaya bulan yang telah membantu cahayanya saat kedatangan malam, yang sedang akan berperan sekarang betul-betul menjadi matahari.
Tetapi tentu bukan matahari yang membunuh rakyat di negerinya dengan panas yang dimiliki. Tapi benar-benar bisa menjadi matahari yang dengan semua yang dimiliki bisa memberi energi. Energi untuk rakyat yang telah cukup lelah dan selama ini hanya bisa mendesah saat dikecewakan. Sumpah telah diikrarkan. Disana ada tanggung jawab moral. Ada amanah yang harus dipikul. Dan disitu pula ada jutaan harapan. Semoga saja sumpah yang telah diucapkan dengan ekspresi wajah penuh wibawa dalam beberapa hari ini, betul-betul mencerminkan sebuah keinginan kuat untuk memberi perubahan kepada rakyat. Hingga, lagi, tidak lagi ada rakyat yang harus melarat. Tidak ada lagi rakyat sekarat oleh pembohongan tersengaja.