Arsip untuk Kategori 'PUISI'

18
Sep
09

Tuhan di Ujung Telunjuk

telunjukBukan lagi keluar yang harus dilihat ketika terjadi berbagai ironi. Ketika sekian banyak pendusta mencoba bicarakan kebenaran dengan ekspresi meyakinkan. Kita tidak bisa diizinkan untuk menjadi bagian dari manusia yang berkesempatan untuk beroleh anugerah yang bersifat permisif, dari kita. Karena kendati dengan geraham pun kita menggigit tradisi permisif mencuat, namun itu terus saja menggejala dan menjala ikan-ikan kecil di samudera kita yang kian keruh. Ikan-ikan kecil kebenaran yang belum bisa menunjukkan diri sesangar dan setegas hiu.

Kita masih melihat kebenaran masih menjadi bahan eksperimen yang terus dibedah, mereka mengulik-nguliknya. Laik kucing remaja yang terpesona dengan bola yang bergulir didepannya.

Kita menjadi manusia yang begitu peka pada hal-hal yang harusnya memang tidak perlu diberi stempel bertanda curiga. Dan kita secara perlahan, menjadi figur-figur mengerikan yang menjadi permisif dengan kebatilan dengan keseriusan kita melogikakan. Hingga tidak lagi terpedulikan jidat mengerut.

Pada kemunafikan, pada justifikasi-justifikasi tanpa aroma nurani. Agama menjadi terdakwa. Tuhanpun kemudian berada di ujung-ujung telunjuk kita. Raungan para sahaya yang bertelanjang dada diterik matahari sudah tidak lagi membuat perikemanusiaan kita terbetik. Bayi-bayi yang dilahirkan pengemis meronta di pinggir-pinggir jalan-jalan utama di kota-kota yang sudah tidak lagi bernama. Tanpa ada selera untuk kita membuka keangkuhan yang terlihat jingga di relung-relung, memeluk mereka dengan sekerat roti yang bisa kita beri. Sebegitu sudah kita berubah nista. Maka akupun hanya bisa bercerita dengan irama nestapa

17
Sep
09

Dalail Cinta

miskin cintaCinta itu bukanlah seperti remaja yang sedang mengeja rasa. Dan, jangan sesekali menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa ia hanya layak untuk menjadi bagian dari sebuah cerita belaka, seperti yang dipaksakan ada dalam telenovela. Hari ini, ternyata kita sedang tidak lagi bisa merasa bangga untuk berbicara tentang cinta. ya, karena kita sudah mabuk dalam wacana-wacana yang kita pandang lebih berguna. Obrolan politik terlihat lebih sempurna untuk menjadi bagian dari diri kita sejati, entah agar kita bisa lebih terpublikasi dengan berharap bisa membuat tertekuk para bidadari.

Kita telah begitu meng-dewakan kedewasaan. Sehingga merasa tidak perlu lagi mengupas cinta. Ah, entahlah. Akupun tidak berani mengatakan itu sebagai sebuah ketololan, kawan.

Aku tercenung sembari mencoba untuk merenung. Apakah aku yang telah gila untuk memaksa bicara tentang cinta. Tapi, bukankah memang cinta menjadi obat mujarab yang takkan pernah bisa diramu para tabib untuk mengobati derita. Aku melihat wajah-wajah derita di kota-kota. Membaca cerita tentang orang-orang yang menderita di berita-berita media. Bukankah itu semua bisa tertanggulangi dengan cinta?

Aku hanya bicara dengan semua yang telah kupercaya. Karena saya percaya ini cinta masih lebih berharga dari logika yang dipaksakan kedalam beribu kata.

Mari pelajari cinta dengan sepenuh rasa, hingga ia kuasa menepis segala cerita durja. Musnah segala logika-logika yang justru membuat manusia semakin nista.

17
Sep
09

Puisi Matahari dan Lelaki Kusut

matahari_fickarAku harus jujur mengakui. Hari ini aku adalah laki-laki yang masih coba berbangga dengan sebuah realita. Menyapa sebuah kehidupan nyata. Dengan penampilan fisik yang kusut. Untuk sebuah sisir saja aku sudah tidak punya. Aku melegitimasi lima jari sudah cukup memadai untuk menata rambutku untuk terlihat sedikit rapi.

Iya, akulah laki-laki yang kusut yang justru sedang kuceritakan ini. Tapi, engkau tak perlu takut para sahabat-sahabat yang kucintai. Walau otakku masih berisi kegalauan atas banyak hal yang telah dengan terpaksa kutelan. Aku tidak merasa tersiksa hanya dengan sekedar rambut kusut yang nyaris tak pernah lagi kuizinkan bersenggama dengan sisir. Karena aku masih konsisten dengan seribu prinsip yang ku tulis dalam baris-baris puisi. Aku masih punya hati yang sama sekali tidaklah semrawut. 

Baik, aku akan menyebut diriku sebagai matahari, mereka yang lemah takkan pernah bisa meraba makna. Bahwa matahari menjadi energi. Ah, apakah engkau melihat ini sebagai sebentuk basa-basi yang kuakui kau benci? Tidak, tidak sahabat. Ini bukanlah basa-basi yang kupaksakan menjadi puisi. Begini, sebenarnya aku sedang mengajakmu untuk berbicara tentang hati, tetapi harus kau tepis dulu semua ngeri terhadap panas matahari.

Aku sebenarnya hanya ingin mengajakmu, ayunkan saja beribu-ribu langkah kaki dengan beribu tekad yang telah kau patri. Tapi, jangan pernah menistakan hati.

Iya, inilah ajakan sang matahari

Photo taken: http://www.bbc.co.uk/herefordandworcester/content/images/2007/09/28/sunrise_01_406×304.jpg

13
Sep
09

Manifesto Penyair Lapar

Kita tidak perlu lagi berpuisi jika puisi sudah tidak lagi kuasa memberi sugesti. Coba saja berdiri untuk melihat matahari, apakah ia juga mau berdiri? Atukah ia selalu berkeliling, mengitari bumi tanpa puisi. Ia justru datangkan begitu banyak kehidupan di bumji. Sedangkan puisi hari ini? Lebih banyak berisi caci-maki, tidak bisa memberikan apapun arti, hanya terjebak dalam definisi.

Masih ada catatan derita di jantung persada. Tetapi kita masih saja terus percaya hanya dengan kata-kata. Dan merasa itulah tahta yang bisa memupus derita rakyat jelata.

Mari, kita coba berdiri dan beranjak dari ego dan keinginan yang hanya mencerminkan libido tanpa adanya kerja secara de facto. Inilah keharusan yang idealnya akan menjadi catatan penyair sebagai manifesto.WS_Rendra

09
Sep
09

Sajak buat Melati

melatiAku pernah hampir tidak mengenal lagi aroma melati

Entah aku sudah begitu dalam mengubur diri

Atau entah aku sudah tak sadar lagi menjadi pertapa yang rindukan mati dalam semadi

Yang kubisa kini hanya mereka-reka segala aroma dalam puisi