Siang itu, aku hanya bisa menarik napas panjang Sis. Ketika engkau masih bertahan dengan sikapmu yang tak berani kusebut sebagai bentuk egoisme dirimu. Kita berpisah.
Mulailah kematian itu. Aku benar-benar mati. Sebelumnya aku juga sebenarnya sudah berkali-kali mati, tapi ini kuyakini sebagai kematian terakhirku. Napas-napas yang kuhirup benar-benar tidak lagi kuresapi. Maka ini kusebut sebagai kematian. Kau pergi. Berjambang bunga lusuh sudah Sis, tak ada harapan lagi. Aku hanya mendesah dalam kematian ini. Entah sudah seribu malam aku tidak bisa pejamkan mata karena kepahitan ini. Dari jauh ruhku hanya bisa menatapmu yang masih bersikukuh dengan sikapmu. Aku sudah tidak tahu harus katakan apalagi. Tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Jiwaku telah meregang. Tidak ada lagi garang yang kubanggakan sebagai lelaki.
Ah, dalam seribu malam itu aku paling hanya bisa mendesah. Sesekali berharap aku bisa hidup lagi. Atau mungkin bisa bereinkarnasi. Dan, disana kau mendesah disisi kupingku: “semua rasa ini tidak akan pernah mati.” Tapi, ternyata aku memang sudah benar-benar mati Sis.


0 Tanggapan ke “Kematian Terakhir”