Rasa miris muncul ketika berdialog lewat Facebook dengan seorang kenalan. Setelah ia munculkan sebuah pertanyaan selepas ia minta maaf sebelumnya,”maaf, dek, Jeuram itu dimana?”
Sempat lama saya tercenung. Bukan marah, bukan geram atau perasaan negatif lainnya. Hanya saja terbetik semacam keheranan, plus sebuah kesimpulan,”Jeuram belum dikenal luas.”
Padahal, jamak orang Aceh pernah mendengar tentang Rameunee. Sebuah gelar yang dinisbahkan kepada Jeuram. Walaupun Jeuram yang sebenarnya merupakan sebuah Kota Kecil sekaligus ‘pusat Kabupaten’ Nagan Raya. Terpikir olehku, bukankah seharusnya Jeuram sudah lebih dikenal. baik dengan keunikanya disisi tradisi yang lazim dipandang berbeda dari umumnya masyarakat Aceh, dengan aksen bahasa yanglebih lugas—menghindari penyebutan kasar— dari umumnya masyarakat Aceh daerah lainnya. Tapi ini sebuah kenyataan, Jeuram tidak dikenal oleh orang Aceh sendiri. Ironis
Apa yang bisa kusimpulkan dari kenyataan ini, ternyata kendati selama ini Jeuram sering diklaim sebagai tempat yang banyak melahirkan orang-orang cerdas. Orang-orang yang tidak hanya bermain di tingkat lokal propinsi dan nasional saja, tapi memang banyak yang juga menempuh pendidikan sampai keluar negeri. Namun proses dialog singkat saya dengan kenalan baru tadi menjadi sebuah cermin, Jeuram belum dikenal. Dan ini menjadi sebuah indikasi, masih sangat minim putra/i Jeuram yang mau mengangkat nama daerahnya.
Seketika, kembali pikiranku berkelebat ketika aku masih menuntut ilmu di IAIN Ar Raniry Banda Aceh. Seorang Dosen Senior menanyakan kepadaku darimana asalku. Dengan tenng aku menjawa, saya dari Jeuram. Apa yang selanjutnya diutarakan oleh dosenku juga tidak kalah mencengangkan,”Saya sudah pernah KKN dulu semasih mahasiswa ke Jeuram. Tetapi ada namanya, misal Blang apa gitu. Kalau kamu menyebut berasal dari Jeuram, harusnya kamu juga sebutkan desanya apa?” Tiba-tiba saja saya langsung jawab dengan setengah tersenyum,”Iya saya dari desa Jeuram.”
Dosen itu kembali membantah,”jika seseorang tinggal di Banda Aceh, ia pasti bisa menjawab, apakah ia di Kampung Mulia, di Beurawee, di Ulee Lheue atau dimana gitu. Jelasnya, ada namanya yang lebih jelas. Seseorang sampai di Banda Aceh, ia bisa saja di desa-desa tersebut. Tidak seperti kamu menjawabnya. Ditanyakan tentang Jeuram, malah kamu menjawab di Desa Jeuram. Itu Jeuram memang ada, tapi hanya sebutan, tapi untuk desa, ada nama lain. Misal..Blang apa gitu.”
Dosen ini mengdikteku lagi. Dalam hati aku sempat ngedumel juga. Wong, aku memang asli dari gampong Jeuram. Kok Beliau ini yang hanya KKN, dengan waktu yang sudah puluhan tahun silam lagi, masih mendebat saya yang memang asli dari Jeuram. Aneh Bapak ini, pikirku. Karena dasarnya saya paling malas berdebat, ya sudah. Saya hanya menjawab tegas,”Jeuram ya Jeuram, tidak bisa disamakan dengan Banda Aceh dong,” Namun Dosen tersebut masih saja bersikeras dengan pandangannya. Karena merasa malu didepan mahasiswa lainnya yang juga sudah full dalam ruang kuliah, entahlah.
Tapi ini satu realitas. Ternyata harus ada proses kampanye lebih intens untuk memperkenalkan Jeuram keluar daerah. Dan ini tentu saja dari anak-anak daerah tersebut. Saya pribadi, yang paling bisa saya lakukan adalah menyebut desa ini sebagai bagian dari banyak tulisan saya. Jadi dengan sendirinya Jeuram ini sudah lebih dikenal. Ah, semoga saja aneuk Jeuram lebih membuka diri untuk juga sudi memperkenalkan daerahnya ebih ekstra, sehingga jika ada dialog yang menyertakan Jeuram, tidak ada lagi timbul pertanyaan,”Jeuram itu dimana ya dek?”