Halaman Arsip 2

17
Sep
09

Dalail Cinta

miskin cintaCinta itu bukanlah seperti remaja yang sedang mengeja rasa. Dan, jangan sesekali menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa ia hanya layak untuk menjadi bagian dari sebuah cerita belaka, seperti yang dipaksakan ada dalam telenovela. Hari ini, ternyata kita sedang tidak lagi bisa merasa bangga untuk berbicara tentang cinta. ya, karena kita sudah mabuk dalam wacana-wacana yang kita pandang lebih berguna. Obrolan politik terlihat lebih sempurna untuk menjadi bagian dari diri kita sejati, entah agar kita bisa lebih terpublikasi dengan berharap bisa membuat tertekuk para bidadari.

Kita telah begitu meng-dewakan kedewasaan. Sehingga merasa tidak perlu lagi mengupas cinta. Ah, entahlah. Akupun tidak berani mengatakan itu sebagai sebuah ketololan, kawan.

Aku tercenung sembari mencoba untuk merenung. Apakah aku yang telah gila untuk memaksa bicara tentang cinta. Tapi, bukankah memang cinta menjadi obat mujarab yang takkan pernah bisa diramu para tabib untuk mengobati derita. Aku melihat wajah-wajah derita di kota-kota. Membaca cerita tentang orang-orang yang menderita di berita-berita media. Bukankah itu semua bisa tertanggulangi dengan cinta?

Aku hanya bicara dengan semua yang telah kupercaya. Karena saya percaya ini cinta masih lebih berharga dari logika yang dipaksakan kedalam beribu kata.

Mari pelajari cinta dengan sepenuh rasa, hingga ia kuasa menepis segala cerita durja. Musnah segala logika-logika yang justru membuat manusia semakin nista.

17
Sep
09

Puisi Matahari dan Lelaki Kusut

matahari_fickarAku harus jujur mengakui. Hari ini aku adalah laki-laki yang masih coba berbangga dengan sebuah realita. Menyapa sebuah kehidupan nyata. Dengan penampilan fisik yang kusut. Untuk sebuah sisir saja aku sudah tidak punya. Aku melegitimasi lima jari sudah cukup memadai untuk menata rambutku untuk terlihat sedikit rapi.

Iya, akulah laki-laki yang kusut yang justru sedang kuceritakan ini. Tapi, engkau tak perlu takut para sahabat-sahabat yang kucintai. Walau otakku masih berisi kegalauan atas banyak hal yang telah dengan terpaksa kutelan. Aku tidak merasa tersiksa hanya dengan sekedar rambut kusut yang nyaris tak pernah lagi kuizinkan bersenggama dengan sisir. Karena aku masih konsisten dengan seribu prinsip yang ku tulis dalam baris-baris puisi. Aku masih punya hati yang sama sekali tidaklah semrawut. 

Baik, aku akan menyebut diriku sebagai matahari, mereka yang lemah takkan pernah bisa meraba makna. Bahwa matahari menjadi energi. Ah, apakah engkau melihat ini sebagai sebentuk basa-basi yang kuakui kau benci? Tidak, tidak sahabat. Ini bukanlah basa-basi yang kupaksakan menjadi puisi. Begini, sebenarnya aku sedang mengajakmu untuk berbicara tentang hati, tetapi harus kau tepis dulu semua ngeri terhadap panas matahari.

Aku sebenarnya hanya ingin mengajakmu, ayunkan saja beribu-ribu langkah kaki dengan beribu tekad yang telah kau patri. Tapi, jangan pernah menistakan hati.

Iya, inilah ajakan sang matahari

Photo taken: http://www.bbc.co.uk/herefordandworcester/content/images/2007/09/28/sunrise_01_406×304.jpg

17
Sep
09

Perjalanan di Atas Jalan Cinta

bidadariSambil mengepak barang, pagi ini pikiranku terus saja berbicara. Bahwa, sebagai lelaki tidak perlu takut dengan beribu resiko dan tantangan. Tetapi, jangan pernah harga diri terbiarkan terinjak, atas alasan apapun. Sambil terus mengepak barang, lagi pikiranku masih terus saja berceloteh, sekarang aku sedang merasakan sebuah kondisi hidup yang harus kuakui sarat dengan ketidak pastian. Dan ini semua juga merupakan buah dari keputusanku sendiri. Walaupun ini berat dan melemparkanku pada sebentuk kemiskinan yang sangat parah.

Tapi, tunggu dulu. Apakah seorang lelaki akan memaki sebuah keputusan yang ia ambil sendiri? Sebuah keputusan yang memang lahir dari serangkaian proses perenungan, penghayatan atas makna hidup dan buah dari deklarasi untuk tidak menunduk pada beribu tantangan yang memang akan menghadang terus.

Buku-buku dengan cekatan kukepak, berat. Baju dan semua celana tanpa kulipat langsung kumasukkan kedalam koper. Kebetulan beberapa bulan menjadi penghuni disebuah kamar, disalah satu sudut Meulaboh. yang membayang di kepalaku hanyalah wajah Bapak, Ibuku dan saudara-saudaraku. Berkelebat wajah lucu keponakanku dikampung.

Semua seperti lintasan album yang dibuka cepat. Tetapi kemudian, pikiranku kembali pikiranku bicara. Lelaki mutlak harus menjunjung harga diri. Walau pengejaran pada makna hidup yang lebih baik menjadi sebuah keharusan, menjadi sebuah hal yang wajib. Ini pilihan laki.

Satu hal yang penting, jangan sakiti perasaan siapapun. Kendati aku sendiri terkadang tersakiti dengan sikap beberapa orang angkuh yang entah karena takdir harus hadir dalam kehidupanku. Kadang-kadang muncul memang perasaan bahwa aku menyesal mengenal manusia yang ternyata bukan untuk menjadi seorang saudara. Iya, sempat terbetik dikepalaku, jangnan mencari saudara saat sedang berada dibawah. Tidak akan bermakna apa-apa. Dan, memang aku harus fokus saja pada pencarian dan pengejaranku pada mimpi yang masih kuyakin bakal terujud, kendati aku dilihat mereka begitu pelan dalam melangkah. Mereka takkan bisa memahamiku. Ini lebih baik. Inilah sebuah perjalanan menapaki jalanan untuk sebuah cinta, sebuah ekspresi cinta.

Meulaboh, 170909

13
Sep
09

Manifesto Penyair Lapar

Kita tidak perlu lagi berpuisi jika puisi sudah tidak lagi kuasa memberi sugesti. Coba saja berdiri untuk melihat matahari, apakah ia juga mau berdiri? Atukah ia selalu berkeliling, mengitari bumi tanpa puisi. Ia justru datangkan begitu banyak kehidupan di bumji. Sedangkan puisi hari ini? Lebih banyak berisi caci-maki, tidak bisa memberikan apapun arti, hanya terjebak dalam definisi.

Masih ada catatan derita di jantung persada. Tetapi kita masih saja terus percaya hanya dengan kata-kata. Dan merasa itulah tahta yang bisa memupus derita rakyat jelata.

Mari, kita coba berdiri dan beranjak dari ego dan keinginan yang hanya mencerminkan libido tanpa adanya kerja secara de facto. Inilah keharusan yang idealnya akan menjadi catatan penyair sebagai manifesto.WS_Rendra

09
Sep
09

Guyon Kemajuan

Sebenarnya yang ingin aku tanyakan dalam tulisan ini adalah, bagaimana keadaan bangsa ini hari ini. Masih terjebak dengan spirit parsialitaskah?

Ah, tiba-tiba aku teringat dengan guyon yang kujawab saat seorang rekan mengajak untuk berpikir agar Aceh bisa lebih maju. Secara spontanitas saja kuberikan jawaban,”kemana Aceh ingin dimajukan, ke arah Malaysia, Singapore atau Filipina? Karena memiliki sedikit keraguan jika Aceh bisa ‘maju’ dengan posisi seperti sekarang” Titik.

Sebenarnya aku ingin menjabarkan seperti ini. Dari dulu, sejak merasa lebih ‘rajin’ dalam menelaah sejarah, dibenakku sempat terpikir bahwa Indonesia ini sangat luas. Kadang usil terpikir lagi, kenapa dulu ketika masa kemerdekaan dan beberapa Propinsi ingin menjadi negara sendiri. Justru pemerintah lebih mengandalkan senjata. Duh, kok pikiranku melantur kesana.

Jangan permasalahkan tanda tanyaku itu. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana negeri ini lebih baik. Seketika, otak pesimisku muncul—walaupun ia sering gagal dalam menduga-duga—, bahwa sampai kapanpun jika penyatuan itu masih berlandas pada keterpaksaan dan pemaksaan. Maka dengan sendirinya, sendi yang sudah dibangun itu sama sekali tidak permanen. Jadi, bukan tidak mungkin kelak gejolak yang beragam akan kembali muncul, lagi dan lagi.

Lupakan itu, tapi idealnya memang, sekarang harus betul-betul terketemukan sebuah formula yang lebih efektif untuk memajukan negeri ini. Dan itu sebenarnya bukan hanya tugas dari pemerintah saja. Kita sebagai rakyat semestnya lebih terbuka juga untuk lepaskan baju parsialitas. Dan memasang pakaian optimisme. Dan itu bukan hanya pakaian luar saja, tapi pakaian dalam juga harus betul-betul steril. Walaupun tantangan diakui kuat, tapi membawa perubahan negeri ini pasti terjadi kearah lebih baik. Tinggal, apa yang bisa kita berikan, apa yang bisa kita bagi?

tulisan setelah semalam tidak tidur.

09
Sep
09

Sajak buat Melati

melatiAku pernah hampir tidak mengenal lagi aroma melati

Entah aku sudah begitu dalam mengubur diri

Atau entah aku sudah tak sadar lagi menjadi pertapa yang rindukan mati dalam semadi

Yang kubisa kini hanya mereka-reka segala aroma dalam puisi 

09
Sep
09

JEURAM

JEURAMRasa miris muncul ketika berdialog lewat Facebook dengan seorang kenalan. Setelah ia munculkan sebuah pertanyaan selepas ia minta maaf sebelumnya,”maaf, dek, Jeuram itu dimana?”

Sempat lama saya tercenung. Bukan marah, bukan geram atau perasaan negatif lainnya. Hanya saja terbetik semacam keheranan, plus sebuah kesimpulan,”Jeuram belum dikenal luas.”

Padahal, jamak orang Aceh pernah mendengar tentang Rameunee. Sebuah gelar yang dinisbahkan kepada Jeuram. Walaupun Jeuram yang sebenarnya merupakan sebuah Kota Kecil sekaligus ‘pusat Kabupaten’ Nagan Raya. Terpikir olehku, bukankah seharusnya Jeuram sudah lebih dikenal. baik dengan keunikanya disisi tradisi yang lazim dipandang berbeda dari umumnya masyarakat Aceh, dengan aksen bahasa yanglebih lugas—menghindari penyebutan kasar— dari umumnya masyarakat Aceh daerah lainnya. Tapi ini sebuah kenyataan, Jeuram tidak dikenal oleh orang Aceh sendiri. Ironis

Apa yang bisa kusimpulkan dari kenyataan ini, ternyata kendati selama ini Jeuram sering diklaim sebagai tempat yang banyak melahirkan orang-orang cerdas. Orang-orang yang tidak hanya bermain di tingkat lokal propinsi dan nasional saja, tapi memang banyak yang juga menempuh pendidikan sampai keluar negeri. Namun proses dialog singkat saya dengan kenalan baru tadi menjadi sebuah cermin, Jeuram belum dikenal. Dan ini menjadi sebuah indikasi, masih sangat minim putra/i Jeuram yang mau mengangkat nama daerahnya.

Seketika, kembali pikiranku berkelebat ketika aku masih menuntut ilmu di IAIN Ar Raniry Banda Aceh. Seorang Dosen Senior menanyakan kepadaku darimana asalku. Dengan tenng aku menjawa, saya dari Jeuram. Apa yang selanjutnya diutarakan oleh dosenku juga tidak kalah mencengangkan,”Saya sudah pernah KKN dulu semasih mahasiswa ke Jeuram. Tetapi ada namanya, misal Blang apa gitu. Kalau kamu menyebut berasal dari Jeuram, harusnya kamu juga sebutkan desanya apa?” Tiba-tiba saja saya langsung jawab dengan setengah tersenyum,”Iya saya dari desa Jeuram.”

Dosen itu kembali membantah,”jika seseorang tinggal di Banda Aceh, ia pasti bisa menjawab, apakah ia di Kampung Mulia, di Beurawee, di Ulee Lheue atau dimana gitu. Jelasnya, ada namanya yang lebih jelas. Seseorang sampai di Banda Aceh, ia bisa saja di desa-desa tersebut. Tidak seperti kamu menjawabnya. Ditanyakan tentang Jeuram, malah kamu menjawab di Desa Jeuram. Itu Jeuram memang ada, tapi hanya sebutan, tapi untuk desa, ada nama lain. Misal..Blang apa gitu.”

Dosen ini mengdikteku lagi. Dalam hati aku sempat ngedumel juga. Wong, aku memang asli dari gampong Jeuram. Kok Beliau ini yang hanya KKN, dengan waktu yang sudah puluhan tahun silam lagi, masih mendebat saya yang memang asli dari Jeuram. Aneh Bapak ini, pikirku. Karena dasarnya saya paling malas berdebat, ya sudah. Saya hanya menjawab tegas,”Jeuram ya Jeuram, tidak bisa disamakan dengan Banda Aceh dong,” Namun Dosen tersebut masih saja bersikeras dengan pandangannya. Karena merasa malu didepan mahasiswa lainnya yang juga sudah full dalam ruang kuliah, entahlah.

Tapi ini satu realitas. Ternyata harus ada proses kampanye lebih intens untuk memperkenalkan Jeuram keluar daerah. Dan ini tentu saja dari anak-anak daerah tersebut. Saya pribadi, yang paling bisa saya lakukan adalah menyebut desa ini sebagai bagian dari banyak tulisan saya. Jadi dengan sendirinya Jeuram ini sudah lebih dikenal. Ah, semoga saja aneuk Jeuram lebih membuka diri untuk juga sudi memperkenalkan daerahnya ebih ekstra, sehingga jika ada dialog yang menyertakan Jeuram, tidak ada lagi timbul pertanyaan,”Jeuram itu dimana ya dek?”