Mematah Resah

ku berharap kau tak lagi datang

menitip resah dan memahat gundah

biar patah pokok cemara di tepi jendelaku

ku berharap, kau tidak lagi menoleh

pada gundukan tanah bila ku rebah

dan kau teruskan saja langkahmu

biar saja aku bersama malam yang takkan jenuh

temaniku merangkai puisi menjadi kelopak bunga

yang pasti ku penuhi pada jambangan sepi

usahlah risaukan bila sesekali aku harus meringis

saat nostalgia tiba lagi mengajakku berdansa

aku pasti bisa bersihkan bingkai-bingkai pecah di dinding kamarku

aku belum tuliskan sebait saja puisi cinta untukmu,buka

n?

meski kau tahu sangat, seberapa keras debaran rasa di sini

karena sejak bintang tenggelam aku telah telanjang

aku hanya enggan saja bila kau membuat hatiku tergangg

u

hingga ku tak bisa lelap

karena kau telah membakar kasur di peraduanku

sudahlah, ku telah lemparkan nyali ke seberang benua

yang tak akan ku jemput lagi

biar ku tunggu saja belaian embun kala pagi, dan sejuk betah di sini

katakan pada matahari untuk tidak angkuh melarikan embunku

………………………….

Menit-menit di Ujung Matamu

Hanya bahasa kelu dan puisi bisu

membalut pijak kaki di ujung matamu

hanya tubuh ringkih berdiri termangu

juga masih di ujung matamu

hanya sebait salam dan larutku dalam kaku

sampai waktu pulang merangkulku

aku kembali termangu

kendati buntalan jiwa telah ku bawa lalu

masihkah aku di hadapan ujung matamu?

atau, gurat taqdir masih tertulis untuk kita bertemu?

entahlah, kegagapanku akan menjadi lagu
yang bisa kau nyanyikan kala waktu tak enggan terpadu

Syair Nurani

ku risaukan utas tali di ujung jemari
yang kau tambat pada tepi hati
saat kau melaju di segara dalam diri
maka ku ajak engkau menepi

sejenak saja agar benci tak terpatri
menjadi janji yang tak ingin kau ingkari
padahal kau harus melihat urat-urat temali
jangan terlalu pagi kau menuli
sebab nanti hanya akan membelit diri

menepilah wahai jiwa-jiwa ,

bila samudera hati hanya terendap benci

rajut kembali semua temali
biar nurani leluasa meraja lagi

nanti, kau teruskan lagi semua obsesi

‘pabila embun belum luruh di ketika pagi

dan kejujuran kau menatap diri

sungguh tidak lagi setengah hati

Meulaboh

Ujung Tepian Ramadhan 1428

——————————–

Jangan Kau Tebang Asa

biar luruh dedaunan saat siang datang
dan pepohonan gundah melanglang
menumpah tangis di pucuk-pucuk ilalang

sangsikan mendung akan kembali datang

biar luruh dedaunan saat siang datang

tatapi arakan awan pada langit mengambang
pasti, nanti akan mengundang mendung

dan tak ada lagi gundah yang menjalang

tapi tolong asamu jangan dulu engkau tebang

Meulaboh

pada Penghujung Ramadhan 1428

Demi Bunga-bunga

Berhembuslah wahai angin-angin
agar leluasa merekahlah bunga-bunga
Belenggulah birahi para lebah

wahai siapa kuasa


agar bumi tidak lagi gersang

dengan keindahan bunga
telusupi dinginmu wahai salju
tembusi dada-dada yang kepanasan

Turunlah ke bumi wahai para bidadari
Usapkan kehalusan tanganmu
di pundak-pundak mereka yang besok pagi
harus kembali berlari

Pada malam aku juga tidak membisu

Padanya ku puisikan damai,
agar mata-mata yang terpejam
tak di bunuh oleh mimpi-mimpi tragedi,

umpatan, caci dan sepi abadi

————————————

Bukan Prasasti Abadi

Bukan untuk ciptakan prasasti abadi

peluh-peluhmu untuk mereka yang lapar
mereka yang meriang
karena keabadian bukan milik kita

Bukan untuk ciptakan prasasti abadi
kata-kata pembangkit jiwa
karena jiwa milik Tuhan
Bukan untuk prasasti abadi
uluran tanganmu pada mereka yang ingin tegak
kekuatan juga milik Tuhan

Bukan untuk prasasti abadi
ayunan langkahku
dan perjalanan ringkasku
hanya saja

detik-detikku harus punya makna
karena…….. akupun tidak pernah abadi
dan keabadian adalah milik Tuhan
Ujung hidup ini ku serahkan pada-Nya

Meulaboh 24 Ags 2007

——————————

Zikir Getir

Dalam zikir getirku
Sayu mata menoleh malam yang membiru

Menerka-nerka cemburu-Mu

Dalam zikir getirku, aku tergugu

Meraba-raba sisa malu
Berharap seketika menuju
pada semburat teduh-Mu

Dalam zikir getirku,
kucabut rerumputan layu

Menghentak-hentak tasbih cerabut bisu,
merayu-Mu,
dan kelebat semu mayapada
tidak mengajakku terpaku

Meulaboh, 71007

——————————————-

Syair Mata

kenapa masih banyak hati yang masih membatu
sedangkan telah lebur pintu langit oleh ayat-ayat Mu ?

mata Mu adalah nyata

tapi kenapa……….
banyak mata yang tak bisa melihat mata
melihat mata Mu

jadi, mata siapa juga yang sebenarnya ada

kenapa ayat-ayat Mu masih belum terlihat oleh begitu banyak m

ata ?
kenapa begitu banyak mata yang tak pedulikan mata Mu ? berikanku mata Mu mungkin aku akan bisa lebih terang melihat melihat ayat,
ayat-ayat Mu
cuma dengan mata Mu, ku kira

———————————–

Karena Cintalah Syurga

sudah ku buang buku-buku tentang Baratayudha
juga perang Rama dan Rahwana

mengajak lupakan jejak-jejak silam di Karbala
menghapus semua catatan Ken Arok dan Tunggul Ametung
merayu semua hati agar hanya mengisi darahnya dengan cinta menikmati ekstase minuman cinta
ku suguhkan pada siapa yang menyapaku
karena cintalah sorga
kelakpun, jika anak-anakku yang belum lahir itu tanyakan tentang sorga

aku akan katakan, sorga adalah cinta
sorga tak pernah izinkan kebencian kotori taman-tamannya, keruhkan sungai-sungai di kota-kotanya dan mengusik kicau-kicau burung pada reranting

kebencian adalah sesajen di altar neraka
……………………….
nyanyian para bidadari hanya senandungkan nyanyian tentang cinta sa

ja
relief-relief sorga adalah relief cinta

juga pada semua gemericik sungai
Pada hari ini,
kubiarkan benci jelajahi sahara
jangan lagi kau memanggil ia kembali

Meulaboh17 Ramadhan 1428

—————————

Hikayat Hati

Sedang di manakah gumpalan-gumpalan hati
hingga nista tertulis menjadi duri
hingga termamah ke dalam diri

sedang kemanakah gumpalan-gumpalan hati
hingga waktu-waktu menjadi mimpi
hingga terpanah ke dalam hati, panah api

sedang kemanakah gumpalan-gumpalan hati
hingga denyut nadi berhenti
hingga rebah ma’rifat sebagai mimpi

jika kau sudi
tolong bangunkan aku besok pagi

jika matahari jadi kembali
dan ma’rifat itu tidak hanya sebagai mimpi lagi

Meulaboh, 7907

—————————————-

Setelah Tiga Purnama

I

Belum sebait kau tuliskan puisi malam itu

Lalu kau mengeja kelu bisu

Pada garis-garis langit yang tidak lagi membiru

Baiklah, engkau lelaplah

Biar aku hanya melihat gemintang yang melukis malam

Nanti aku juga akan berbaring disisimu

Ah, aku lupa

Sebenarnya akulah yang harus selesaikan puisi itu

Dan ku berikan saat engkau terjaga, untukmu

II

Cinta adalah puisi kita

Yang telah coba kita rangkai sebagai jambangan surga

Aku saja yang telah lupa

III

Aku lupa

Malam ini kau juga belum berada dalam dekapku

Entah dimana, aku terlanjur lupa

Mungkin jalanan sudah begitu menyemak

Sehingga, aku lupa kirimkan seribu puisi untukmu

Mungkin saja kau sudah tak butuh lagi

Puisi ini akan kuberikan pada petir

Ia akan bacakan disisi ranjangmu sebelum aku tiba

Aku terlalu lemah untuk sekedar mengucap cinta

Maaf, engkau takkan bisa lagi nikmati hangat selimutmu

Aku tak ingin kau tidur dulu

Sebelum aku sendiri berada disisi kepalamu

IV

Tiga purnama lagi

Mungkin aku sudah kuasa

Untuk lafalkan kalimat cinta untukmu

Suak Sigadeng

April 18, 2008


0 Tanggapan ke “Sajak Cinta”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan